Fenomena Resource Nationalization dan Under Investment

Date: 16/02/2012

Sahabat, “…Zaman Batu berakhir bukan karena dunia kekurangan batu; jadi, Zaman Minyak juga akan berakhir jauh sebelum dunia kekurangan minyak”, ungkapan itu terkenal di era 70-an, dinyatakan Sheikh Zaki Yamani, mantan menteri perminyakan Saudi selama 30 tahun. Setelah lebih dari 150 tahun sumur-sumur minyak dunia dieksploitasi (125 tahun di Indonesia), potensi sumber daya minyak memang masih ada tapi semakin mahal untuk menghasilkannya, semakin beresiko dan bergeser ke laut dalam. Minyak dunia semakin tidak pasti, permintaan semakin tumbuh tinggi, tapi pasokan lambat mengikuti. Apalagi sejak 2 bangsa besar (RRC 1,5 miliar, India 1 miliar, keduanya sekitar 40% dari populasi dunia), perekonomiannya tumbuh tinggi lebih dari 8% bahkan hingga 10%. Perusahaan-perusahaan swasta besar minyak dunia (the Big Oil) semakin hati-hati dan enggan berinvestasi karena sejak 2006 kelangsungan usahanya semakin tidak pasti akibat mereka tidak lagi menguasai cadangan minyak dunia. Kini negara-negara melalui perusahaan minyak nasionalnya (the National Oil Coys) menguasai 90% cadangan-cadangan minyak di dunia dan The Big Oil, rankingnya dalam penguasaan cadangan terlempar ke urutan belasan (Exxon rank ke-14, BP ke-17, Shell ke-19, Chevron ke-25). Cadangan minyak mereka kini kurang dari 10%. Apa sebab? Sejak tahun 2006 bangsa-bangsa semakin ketat bersaing menguasai cadangan-cadangan minyak di dunia karena khawatir kekurangan energi (disebut fenomena “resource nationalization“). Muncul masalah mendasar, berbeda dengan kemampuan the Big Oil dalam berinvestasi, ternyata kemampuan investasi negara melalui perusahaan minyak nasionalnya sangat terbatas akibat persaingan alokasi budget negara untuk proyek-proyek yang sering dipandang lebih urgent dan tepat secara politik. Termasuk keharusan membayar dividen pada APBN yang berakibat pada kurangnya dana investasi. Buntut dari fenomena itu adalah terjadinya “under investment” di dunia minyak termasuk di Indonesia. The Big Oil juga semakin terbatas dalam melakukan kegiatan “eksplorasi” minyak atau penemuan lapangan baru. Perusahaan-perusahaan minyak swasta itu lebih fokus pada kegiatan “eksploitasi” alias lebih menggarap lapangan minyak yang sudah pasti. Akibatnya, “reserve replacement ratio” atau RRR cadangan minyak kurang dari 100% (di Indonesia sekitar 40 -50%) yang artinya hanya sekitar 40% temuan baru yang didapat untuk menggantikan sumur yang diekploitasi itu kelak. Bukti-bukti menunjukan, Work Plan & Budget perusahaan minyak di Indonesia juga menunjukkan porsi anggaran eksplorasi yang relatif menurun. Penguasaan cadangan minyak oleh negara tidaklah salah, tapi harus dipikirkan bagaimana agar tidak terjadi kekurangan investasi di dunia minyak. Sulitnya Indonesia menembus target produksi 1 juta barrel/hari ternyata berkaitan dengan fenomena di tingkat global itu. Tapi hal itu masih belum juga ditindaklanjuti secara memadai, termasuk di negeri kita. Salam Indonesia.

Comments are closed.