Belajar dari California: Mengelola Sisi Permintan Energi

Date: 5/10/2011

Sahabat, memang memperjuangkan yang benar itu selalu berat, dimanapun itu tidak terkecuali di Amerika. Fran Pavley (legislator di California dari Partai Demokrat) dengan gigih merintis UU terkait pengurangan emisi gas rumah kaca dari kendaraan dan goal tahun 2002. Cerita itu layak diketahui dunia karena terjadi di California, yang ibarat suatu negara, skala ekonominya ke-5 setelah US, Jepang, Jerman, dan RRC. California sempat sangat berpolusi, karena gaya hidup berkendaraan pribadi, polusi pabrik. Sejak tahun 1930-an, populasi kendaraan membengkak hingga 2 juta, atau lebih dari 1 kendaraan untuk tiap 3 orang. Parahnya polusi tercatat di LA, 1943, orang hanya bisa melihat 3 blok (500 meter) ke depan, mata pedih, orang-orang terbatuk-batuk di jalan. Walhasil, itulah negara bagian dengan jumlah penduduk, mobil, konsumsi energi, dan emisi karbon terbesar dibanding bangsa dan negara bagian lain. Kini, berkat perjuangan Pavley, legislator perempuan, California dikenal sebagai pelopor dalam energi dan lingkungan bersih. Perlawanan kaum industri otomotif sangat alot. Berbagai cara dan siasat digalang industriawan mobil untuk menentang The Pavley Act itu. Mereka bilang UU baru itu bertentangan dengan kehendak pasar, yakni mengharuskan pabrik mobil menjual produk yang tidak dinginkan konsumen bahkan harganya bisa jadi lebih mahal, dan lain sebagainya. GM, Chysler (didukung perusahaan Jepang) sempat menuntut Negara Bagian California. Kini California lebih bersih berkat perjuangan yang gigih dan mengedepankan kepentingan lebih luas dan jangka panjang. Kepentingan mikro perusahaan cenderung sempit tidak perduli dampak jangka panjang. Bagaimana di Indonesia, di Jakarta, yang mobil dan motornya jutaan? Harus ada perjuangan meng-goal-kan UU dan kebijakan yang arif menata transportasi, serta industri otomotif. Saya ingat seorang legislator kita, saudara ES, sahabat kita di Komisi 7 mengatakan harus diperjuangkan “prinsip lex spcialis” sedemikian sehingga concern sektor energi harus didengar. Sehingga industri otomotif dan transportasi lebih membatasi diri demi kepentingan yang lebih luas (concern lingkungan dan subsidi energi yang lebih tepat). Perjuangan itu ada di Indonesia dan UU Energi mengamanahkan kita mengelola aspek demand energy, bukan hanya terpaku pada supply energy, yang tidak pernah cukup bila permintaannya terus melesat dengan tidak perlu. Salam Indonesia.

Comments are closed.