Menyuarakan Indonesia di Forum APEC

Date: 21/09/2011

Sahabat, pertemuan menteri-menteri APEC untuk sektor Energi dan sektor Transportasi di San Fransisco berakhir Rabu tanggal 14 September. Pertemuan APEC yang secara khusus menggabungkan agenda Keenergian dan Transportasi baru tahun ini berlangsung. Fokus perhatian APEC pada aspek Climate Change tidak bisa tidak membuat agenda kerjasama/pertukaran informasi tentang kebijakan energi dan transportasi antar sesama negara APEC menjadi sedemikian terkait. Karena itu isu-isu pokok untuk mempercepat hadirnya sumber energi terbarukan (EBT-Energi Baru Terbarukan); pengembangan teknologi transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan serta isu subsidi BBM sangat mendapat perhatian. Dalam konferensi yang dihadiri delegasi 21 negara Asia-Pasifik dan kalangan usahawan bidang otomotif (Jepang, AS, dan lain sebagainya) dan bidang energi itu, Menteri ESDM RI menyampaikan masukan pemikiran dan ajakan, antara lain sebagai berikut:

1) Mengingat anggota APEC sangat berbeda-beda latar belakang dan kondisi sosial-ekonominya, maka kerjasama peningkatan teknologi dan efisiensi antar negara APEC menjadi efektif bila telah dicapai taraf yang relatif sama (level playing field) untuk aspek tertentu khususnya transportasi.

2) Perlu kerjasama antar negara APEC yang secara khsus mempercepat hadirnya transportasi masal di negara-negara APEC yang berpenduduk besar dan pendapatan masyarakatnya meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonominya yang tinggi.

3)Tanpa tindakan dan kerjasama yang cepat untuk itu, fenomena “motorisasi” (baca: pilihan transportasi rumah tangga dengan membeli mobil dan motor) akan sangat marak sehingga dapat semakin memperbesar subsidi BBM. Pertemuan pemimpin-pemimpin negara G20 di Pitsburg beberapa tahun lalu (beberapa di antaranya pemimpin APEC), menggarisbawahi bahwa ketergantungan pada BBM dan besarnya subsidi BBM cenderung semakin mengkendalai tumbuhnya sumber-sumber energi terbarukan , dan juga berdampak negatif pada climate change serta membatasi ruang gerak negara meningkatkan keadilan energi yang juga penting untuk pencapaian target MDGs.

4) Indonesia masih menghadapi masalah tingginya subsidi energi (BBM dan listrik yang mayoritas karena berbahan bakar minyak), tapi kini sudah dan sedang melakukan langkah konkret untuk memprcepat selesainya sejumlah pembangkit listrik non-BBM dalam proyek 10 ribu MW dalam 2 fase serta sudah terus meningkatkan program transportasi masal di ibu kota.

5) Indonesia mengajak agar anggota APEC, khususnya yang maju industri otomotifnya, lebih memfokuskan kerjasama transportasi massal dan memperlambat atau membatasi peningkatan pemasaran dan produksi otomotifnya di Indonesia. Produksi dan pemasaran produk otomotif yang gencar di Indonesia atau negara-negara yang pasarnya besar dan terus tumbuh justru semakin menjauhkan kita dari tujuan bersama berkenaan dengan isu climate change dan pencapaian target MDGs dalam kerangka inter regional (APEC) maupun global (G20).

Dalam kesempatan konferensi APEC, MESDM RI bertemu secara bilateral dengan Menteri Energi AS dan Menteri Energi New Zealand. Pembicaraan ditekankan pada kerjasama lebih jauh untuk proyek-proyek listrik geotermal termasuk meningkatkan capacity building untuk pegawai-pegawai dan SDM di tingkat pemerintahan pusat maupun daerah. Semakin banyak aparat atau SDM daerah, semakin positif bagi percepatan proyek geotermal di Indonesia mengingat kewenangan izin lokasi geotermal, menurut UU, ada di Pemda. Salam Indonesia. MESDM RI.

Comments are closed.