Apa yang Salah dalam Subsidi BBM?

Date: 18/09/2011

Sahabat, bulan September atau April sampai dengan Juni setiap tahun, adalah saat-saat pemerintah dan wakil rakyat membahas penetapan subsidi BBM/listrik. Bila September saat penetapan subsidi, April sampai dengan Juni saat me-review dan merevisinya karena selalu membengkak dari jumlah semula. Subsidi energi sudah sangat besar sehingga menjadi kendala kemampuan negara membiayai infrastruktur yang lebih strategis bagi bangsa kita. Infrastruktur energi justru sangat penting agar dapat menghasilkan energi yang lebih ekonomis, terjangkau dan berkelanjutan. Tetapi, subsidi bagi rakyat dhuafa adalah wajib bagi pemerintah. Sudah benar bila negara mensubsidi rakyat tidak mampu. Jumlah tenaga kerja informal kita masih sangat besar (67%), karenanya masih banyak rakyat berdaya beli rendah. Apa masalahnya? Subsidi pada hakikatnya cerminan rendahnya daya beli rakyat dan relatif tingginya biaya produksi energi. Karena itu, sangat perlu terobosan untuk meningkatkan kemampuan kerja dan daya beli rakyat serta pembangunan infrastruktur untuk menghasilkan dan menyalurkan energi yang lebih kompetitif dan murah. Di mana salahnya? Yang salah adalah bila kita kurang cepat menolong tenaga kerja kita yang terjebak di sektor informal dan berdaya beli rendah itu. Sungguh, bagi bangsa kita yang berpenduduk besar, Tuhan sudah memberikan modal sumber daya alam yang besar. Tetapi setelah 66 tahun merdeka, dan sekitar 100 tahun minyak bersama kita, modal SDA itu belum juga tertransformasikan ke dalam kekuatan SDM kita. Harus gencar dibuat program terobosan. Perusahaan SDA (migas, mineral, dan batubara) kita harus lebih gencar diarahkan terjun langsung dalam meningkatkan kualitas SDM dan tenaga kerja/rakyat di daerah-daerah padat dan sekitar lingkungan tambangnya. Perusahaan SDA kita harus didorong berkomitmen mengembangkan energi terbarukan. Perlu telaah ulang dan peningkatan penajaman strategi APBN agar tidak terpaku pada peningkatan pajak dan pembiayaan subsidi saja. Selama infrastruktur kurang memadai, selama kemampuan SDM kita masih rendah, selama itu subsidi tetap besar. Itulah program yang kini sedang gencar diusahakan dan dijalankan di sektor ESDM. Kabar bagus dong…kok orang tidak mendengarnya? Karena “good news is bad news“. Lagi pula, selalu saja ada segelintir “vested interest” yang khawatir bisnisnya terganggu. Mereka tidak senang targetnya tidak tercapai, tidak suka kita punya kilang lebih banyak, tidak senang gas menggantikan BBM dalam pembangkit-pembangkit listrik dan transportasi kita. Salam Indonesia.

Comments are closed.