Wajah Patriotik Putra-Putra Indonesia di Chevron

Date: 15/04/2011

Sahabat, ada kisah nyata ibu gajah yang terluka membawa anaknya keluar dari hutan ke pinggiran kompleks Chevron di Duri Riau, lalu sang ibu mati, seolah menitipkan anaknya kepada para teknisi minyak Indonesia yang berusaha keras mengobati ibu gajah tersebut. Karena yang bercerita sedemikian seriusnya, saya pun berempati menggali kisah mengharukan itu, ketika helikopter kami meninjau pusat eksploitasi minyak terbesar di Indonesia itu. Di sekitar kompleks Chevron, Riau, hutan di sekitar tetap lebat, terus dirawat. Persahabatan fauna dengan pekerja minyak berlangsung sudah 80 tahun. Setiap sore,kata ibu-ibu, monyet, babi hutan menjenguk kompleks sebentar, lantas masuk lagi. Dari lapangan minyak Riau yang dikerjakan Chevron dihasilkan 35% minyak Indonesia. Sumur-sumur itu sudah tua, dari sumur-sumur di Riau itu saja, puncak produksi tahun 1973 pernah mencapai 1 juta barel/hour, terus turun secara alamiah hingga 500 ribuan barel (1984). Putra-putra Indonesia dahulu, ahli perminyakan, tahun 1996-1997 berhasil menaikan produksi sumur-sumur tua itu dengan teknologi injeksi uap, sehingga produksi mencapai 780 ribuan barel. Kini sudah sangat menurun tinggal 360 ribuan barel. Generasi baru putra-putra Indonesia itu pun sedang berusaha keras dengan teknologi baru, surfaktan, agar produksi dapat kembali mencapai puncak di tahun 2030. Sejujurnya saya belum dapat menyelami, ketika mereka dengan serius mengatakan “Lapangan Minas di Riau adalah bukti berkah Allah kepada Indonesia. Tidak ada potensi 9 milyar barel sebesar di Minas. Di suatu lapangan minyak di Asia, paling besar 3 milyar saja”. Sahabat, itu cerita mengharukan perjuangan putra-putra Indonesia di Chevron yang mungkin luput dari pengetahuan kita. Salam Indonesia.

Comments are closed.