Pendidikan Tidak Berkualitas, Akar Problema Buruh

Date: 29/04/2012

Sahabat, minggu depan, insyaAllah kita memasuki bulan Mei, bulan yang strategis bagi bangsa Indonesia. Sayangnya, perhatian kita sering dibawa pada perayaan Hari Buruh Dunia (1 Mei) yang biasanya disertai demo eksesif dan menegangkan. Kekuatan eksponen masyarakat lebih sering diarahkan pada hari buruh yang beraroma internasional itu. Padahal, ada momen nasional yang lebih strategis bagi bangsa kita, Hari Pendidikan (2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei). Kedua hari itu juga lebih asli milik bangsa Indonesia. Demo buruh sesungguhnya sah dan perlu perhatian juga, karena boleh jadi cerminan adanya ketidakpuasan dari buruh kita. Tapi itu adalah akibat dari masalah yang lebih mendasar, rendahnya produktivitas dan kualitas keterampilan buruh. Dalam jangka panjang akan terus seperti itu bila kita bersama tidak memberi perhatian yang lebih masif dan sungguh-sungguh pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pada hakikatnya tidak akan ada upah yang layak tanpa peningkatan produktivitas. Tapi produktivitas tidak akan meningkat tanpa pendidikan. Bangsa juga tidak akan bangkit dan kompetitif tanpa pendidikan yang berkualitas. Hari depan bangsa sudah dapat terlihat hari ini bila kita masih juga abai pada faktor SDM. Minggu-minggu lalu, selesai ujian, anak-anak kita yang SMP atau SMA berkeliling atau tawuran seperti lepas dari sesuatu atau tidak yakin pada sesuatu. Mungkin karena sebagian besar mereka akan sekolah sampai di situ saja. Karena memang, dari 111 juta tenaga kerja kita 68,59% hanya berpendidikan SMP atau kurang; 91,49% SMA atau kurang (BPS, Februari 2011). Setiap tahun ada sekitar 13 juta yang tamat SMP dan 3,5 juta tamat SMA, sungguh jumlah yang besar. Dengan bekal kualitas kerja yang terbatas, sudah tentu akan berupah rendah dan berakhir dengan rasa tidak puas. Sudah waktunya kita bersama lebih berpikir dan bertindak jangka panjang. Sudah waktunya ekonom-ekonom kita peduli benar pada pentingnya aspek demografis bangsa seperti almarhum Prof. Widjojo Nitisastro yang baru berpulang. “Anak adalah sumber harapan yang tidak akan habisnya bagi kebangkitan bangsa”, kata Maria Montessori pakar pendidikan. Salam Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>