Renungan dan Otokritik Kebangsaan

Date: 03/06/2012

Sahabat, pagi ini mungkin sudah kesekian kalinya di TV ditayangkan “pasukan Malaysia berperang” di Indonesia, memadamkan api guna mengatasi kabut asap yang berhari-hari membawa masalah hingga ke negara-negara tetangga (re: HAZE HELL OVER ASIA, saluran History,TV Kabel). Proses pemadaman di September 1997 itu, tentu setelah pemerintah RI mengizinkan datangnya 1200 pasukan DAMKAR Malaysia (pemadam api) guna mengatasi kebakaran di 1/3 hutan Sumatera dan 1/5 Kalimantan. Tentu, upaya itu bertujuan baik dan hasil akhirnya baik. Langit jadi biru dan cerah kembali. Pasukan DAMKAR Malaysia berhasil dan dapat applouse di forum resmi kenegaraannya. Menyaksikan tayangan itu (apalagi beberapa kali), adakah hal lain yang terasa? Tak pelak, terasa Malaysia sedang berkampanye tentang dirinya, tentang perjuangan kebaikan yang dilakukannya di negara tetangganya yang jauh lebih luas, yang jumlah penduduknya hampir 10x lipat Malaysia di mana total penduduk Malaysia hanya 1/3 jumlah anak-anak Indonesia. Tak pelak, yang terpikirkan ketika menontonnya, bahwa kita, Indonesia tidak mampu mengelola sumber daya manusianya, men-deploy ‘pasukan’nya, untuk mengatasi masalah di tanah sendiri. Ada nada “reminders” (peringatan) dari tayangan itu: jangan berdiam diri, ini sudah mau kemarau lagi, dan bila Anda tidak mampu kami akan bantu, kami datang, cukup dengan 1200 anggota DAMKAR. Tentu saja, mungkin itu perasaan saya saja. Memang ada konten tayangan yang menjelaskan dengan jernih duduk perkara kebakaran hutan itu, antara lain akibat pembukaan lahan sawit besar-besaran (note: perusahaan-perusahaan Malaysia juga investor utamanya) sehingga hilang sejumlah besar air di lapisan gambut yang jadi mudah terbakar saat kemarau. Ada pelajaran ketika menyaksikannya. Tayangan itu seolah ingin membenarkan apa yang dikemukakan Thomas Friedman dalam buku Lexus & Olive Tree, bahwa dalam bernegara dan mengelola negara di zaman ini, bukan baju kebesaran atau kekecilan yang dibutuhkan katanya, melainkan yang pas. Kita sangat yakin, kita mampu. Pasukan kita banyak, orang kita banyak, yang kurang adalah sikap tanggap dan cerdas mengatasi masalah, sekalipun tidak populer. Tentu kita perlu introspeksi. Kalau kita gusar, bangga karena negara kita besar, menegur negara kecil dan lantas bilang “it is only a dot in a world map” (re: BJ Habibie terhadap Singapura). Salah-salah dijawab, “better dot than not” (re: Lee K Yew menjawab BJ Habibie). Salam Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>