Kebenaran Kontekstual vs Absolut

Date: 15/2/2012

Sahabat, kemarin, seorang sahabat mengundang kami menyaksikan pentas sendratari wayang “KARNO TANDING”. Hujan gerimis sejak sore hingga malam itu, alhamdulillah bermanfaat. Semangat gigih sahabat saya dan istrinya itu mengharukan, ikut menjaga nilai-nilai budaya, guna menghaluskan rasa seni dalam jiwa bangsa dari generasi ke generasi. Kiranya mereka bekerja karena suatu motivasi, termasuk mempertahankan suatu loyalitas atau kesetiaan dalam meneruskan kebiasaan baik turun temurun. Melalui seni peradaban bangsa kita antara lain terbangun. “KARNO TANDING” adalah suatu fragmen Mahabrata yang sarat dengan tema loyalitas. Bagi yang mengikuti cerita pewayangan, termasuk saya, “KARNO TANDING” adalah fragmen yang menggetarkan hati. Seorang kakak (Adipati Karna,di pihak Kurawa) siap dan tidak ragu berperang dengan adik-adiknya satu Ibu (Arjuna, salah satu dari Pandawa), sekalipun sang Ibu sudah membujuknya agar bergabung dengan adik-adiknya. Tapi Karno tetap memihak Kurawa yang sudah memberinya gelar dan jabatan Adipati, sekalipun ada di pihak yang salah. Secara sederhana, memang Kurawa dikenal sebagai “yang salah” dan Pandawa sebagai “yang benar”. Karno dikenal sebagai perlambang setia pada negara atau setidaknya pada tugas jabatan. Dalam wayang ada “Karno” lain (Kumbo Karno dalam Ramayana) yang juga perlambang kesetiaan pada negara, konon banyak kalangan tentara mengidolakan Kumbo Karno ini (adik Rahwana); tidak menyenangi pola Gunawan Wibisono (juga adik Rahwana) yang justru memihak Rama, pihak “yang benar”, musuh kakaknya. Dalam nilai-nilai Jawa yang pernah diujarkan seorang sahabat pada saya, setidaknya bila merujuk cerita wayang, ada suatu kebenaran kontekstual, dan kebenaran tidak cukup hanya dengan kebenaran absolut (atau kebenaran untuk kebenaran itu sendiri). Sehingga, “walaupun Rahwana salah dan adalah pihak angkara murka tetap aku bela karena aku ‘setia’,” menurut Kumbo Karno. Mungkin kebenaran kontekstual ada indahnya…tapi dalam implementasi dan wujudnya orang berbeda-beda tafsir, bergantung seberapa sempit atau luas kita meletakkan konteksnya. Salam Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>