Perubahan Bermartabat

Date : 29/12/2020

Berita hari demi hari kian cepat mengalir ke tengah masyarakat. Agaknya mulai terbaca tanda-tanda akan ada yg salah dan  kalah. Lantas akan seperti apa ketika proses perubahan itu berlangsung? Demi kemaslahatan orang banyak, yg terbaik dan damailah yg diharapkan semua orang.

Izinkan tulisan ini berbagi. 
Di Indonesia, ada dua potensi yg terkandung dalam suatu proses perubahan. Yg satu, tidak terkendali, khas tanah air kita dan bahkan dikenal peneliti asing : Amuk atau Amok. Yg kedua,  terkendali, berlangsung di belakang layar, mencerminkan sikap tahan diri, tahu tempat dan waktu. Yg kedua ini mungkin  juga khas Indonesia, tidak sepopuler Amuk  bagi kalangan peneliti asing. 


Dulu, pasca peristiwa kelam G30S PKI. Kedua potensi di atas berlangsung. Ada Amuk; Indonesia berdarah. Tetapi, juga berlangsung di belakang layar, figur-figur kunci di negeri kita saling menahan diri. Mungkin tidak terbayang dampak kerusakannya ke negeri kita bila faktor yg kedua itu tidak berjalan.


Meski orang-orang di sekitar nya mengipas-ngipas ketika posisinya kian tersudut, BK menahan diri. Ada kemungkinan, sejak masih perencanaan pihak sekitar BK sudah membisik-bisikan hal yg merisaukan sang Pemimpin, sehingga dalam sejarah ada versi bahwa BK merestui, bahkan yg memulainya di tahap awal. Begitu pula dengan, PH, si Jendral-senyum (the smiling general), tidak luput dari kipasan, bahkan tekanan dari orang sekitarnya agar mengambil langkah drastis.  BK dan PH menahan diri, boleh jadi dengan sudut pandang dan kadar keimanan pada Allah yg berbeda. Kedua beliau itu tahu diri, tahu tempat dan tahu waktu.  Keduanya membaca tanda-tanda. Kata “selamet” mungkin masih sangat bermakna pada generasi kakek dan ayah kita dulu itu. 


Di balik kisah itu, terasa hingga zaman kita ini adanya nilai luhur bangsa ini yang secara refleks meresap dalam pemimpin kita. Tetapi, menuju ke situ ada lantarannya, ada figur-figur bijaksana yg menasihati BK dan PH. Mungkin belakangan mulai lebih banyak yg tahu, BK sering “berkonsultasi “ dengan sufi bijaksana— dipanggil BK sebagai kakak dan bertanggal lahir sama— yg tinggal di kawasan Petojo. Ada pun PH juga sejak muda sudah dikawal sahabat-sahabat yang “awas” untuk urusan begini ini.


Dalam konteks itulah, surat Pak Marzuki Ali (mantan Ketua DPR RI) bila direnung-renung boleh jadi membuat orang ingat pesan bijak leluhur. Adalah bijaksana  bila  “ngelurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake dan digjaya tanpo aji”. Meski tanpa berkedudukan lagi, para tokoh bangsa insyaAllah mampu berbuat dan didengar nasihatnya. Tidak juga selalu perlu beramai-ramai, sorangan juga bagus. Mereka yg menang kelak tidak perlu menyudutkan atau merendahkan mereka yg kalah. Dengan kekuasaan dan pengaruh di tangan, individu yg kalah, sedih, kalap dan marah, dapat bertiwikromo, sebuah perlambang dalam kisah pewayangan, ketika emosi dan akal sehat individu berubah besar berkali-lipat menjadi sebesar raksasa, daya rusaknya besar dan berlangsung lama.

BalasTeruskan

Comments are closed.