Mempertanyakan Jiwa Kepemimpinan Kita

Sahabat, selamat Hari Merdeka. Mungkin ada baiknya mengenang suatu kejadian penting di balik Proklamasi RI sebagai bekal kita bersama merenung dan berotokritik. Saat naskah Proklamasi akan ditandatangani, Bung Hatta meminta semua tokoh yang hadir bersama menandatangani naskah. Tentu saja, bagi yang tandatangan ada tanggung jawab, sejarah kepeloporan tetapi juga menganga risiko ditangkap penjajah yang tidak rela.
Suasana tegang, tidak ada yang mau, entah takut, entah sungkan. Diingatkan pada waktu itu, bukankah Deklarasi Kemerdekaan Amerika ditantangani semua tokoh yang hadir. Akhirnya, Bung Karno dan Bung Hatta yang didorong dan keduanya siap maju menandatangani atas nama Bangsa Indonesia. Memang benar kedua beliau itu akhirnya ditangkap dan diasingkan di hari-hari kemudian. Kedua beliau itu ada di dalam lembar bersejarah Naskah Proklamasi RI, tidak demikian bagi yang tidak tanda tangan, namanya tidak tertera. Mereka yang lain umumnya memang tidak juga ditangkap. Mungkin, lain Indonesia, lain Amerika. Semoga kejadian tersebut tidak menunjukkan bahwa pada umumnya kita penakut dan cenderung cari selamat, sekalipun ketika sudah menyangkut pengorbanan demi membangun kehidupan bersama. Agaknya bisa kita rasakan bahwa jiwa kepemimpinan dan sanggup ‘pasang badan’ harus meliputi segenap eksponen bangsa, bukan hanya pada satu atau dua orang yang kita dorong untuk memimpin dan kemudian berkorban lahir batin. Selamat Hari Proklamsi RI Saudaraku. Semoga Allah meridhoi bangsa Indonesia.

One Response to Mempertanyakan Jiwa Kepemimpinan Kita

  1. Pingback: Selamat datang | Darwin Zahedy Saleh Official