Budaya Bangsa

Date: 12/02/2009
Batik dan Kasih Ibu
Sahabat, hari Minggu ini apa yang inspiratif? Anda punya batik? Punya Ibu, anak atau keponakan? Ada lukisan Ca’Miin, yang sedang dipamerkan, bagus, sederhana tetapi serasa sarat pesan, berjudul “Menuntun Generasi penerus”. Yang terlukis dari lukisan tersebut yaitu seorang ibu sepuh sedang membatik dengan telaten, didampingi seorang anak usia 10 tahun, sorot matanya antusias. Batik dan ibu membuat kita ingat tentang capaian peradaban bangsa dan belaian kasih sayang. Batik adalah sebuah subjek yang saya kenal berkat kain-kain batik dalam koleksi Ibu saya. Ketika berangkat sekolah ke London, Ibu membekali saya beberapa helai kain batik dengan pesan boleh dijual bila perlu biaya tambahan.” kata Maestro Batik kita, yaitu Alm. Iwan Tirta yang menunjukkan betapa batik kala itu sesuatu yang berharga dan bisa diuangkan. Ibu dan batik juga ada dalam cerita berikut. “Ibuku lah yang mendorong rasa ingin tahuku. Beliau membiarkan aku duduk bersama para ibu yang sedang membatik. Nilai batik lebih karena proses pengerjaannya yang bertingkat-tingkat. Diwariskan berdasarkan ingatan ke ingatan. Kenyataan itulah yang membuat batik begitu manusiawi, keindahannya datang dari sanubari manusia, roh yang tak tertirukan oleh mesin tercanggih sekalipun.” tulis Ibu Negara dalam buku “Batikku, Pengabdian Cinta tak Berkata”. Sahabat, ingat batik jadi ingat Ibu. Ngomong-ngomong, hari Minggu ini, sudah sempatkah Anda menjenguk atau menelpon Ibu? Kalau beliau sudah berpulang, seperti Alm. Ibunda saya, mari kirimkan beliau doa ta’ziem penghormatan pada jasa Ibu. Salam Indonesia.


Date: 12/04/2009
Semangat Juang FDR
Sahabat, ada cerita inspiratif yang Insya Allah menarik. Berasal dari seorang politisi lokal, yang terkena polio sehingga lumpuh, akhirnya FDR atau Franklin Delano Rosevelt, menjadi Presiden AS, memimpin bangsa Amerika melewati masa Great Depression. Tetapi perjuangan kearah kepresidenan sungguh tidak mudah dan tidak direncanakan. Memang hakekat pemimpin adalah memimpin,langkahnya membawa kebaikan. Dalam penderitaan kelumpuhannya, tanpa disengaja FDR mengubah kelemahannya menjadi kekuatan penemuan, sehingga dapat menolong dirinya dan orang lain, berhasil membangun suatu pusat rehabilitasi pertama penyandang polio di dunia di Warm Spring, Georgia, AS. Teknik menggunakan “Efek Pemanasan Lembab” ditemukannya dengan uji coba mengembalikan tenaga yang hilang karena polio, dengan berendam dan berenang di kolam berair magnesium yang bersuhu natural 400C. Kegigihannya itu menginspirasi penderita lain yang berdatangan, kabarnya meluas dan mengundang simpati berbagai pihak. Pada akhirnya Tuhan menakdirkan FDR jadi Presiden AS yang terpilih tiga kali dan memimpin bangsa AS melewati masa Great Depression dan membangun kelas menengah AS menjadi kuat. Masih dengan langkah terseok disangga tongkat dan dipapah, FDR tampil di panggung kompetisi capres (calon presiden) 1926. “Inilah FDR, tinggi, berkeyakinan, seorang pemimpin yang bercahaya karena didera penderitaan.” kata si pembawa acara. Sahabat, pemimpin kiranya adalah figur yang mempunyai orisinalitas perjuangan, membawa kebaikan bagi orang lain, dan tidak perlu memburukkan orang lain. Salam Indonesia.


Date: 10/06/2009
Berpolitik Secara Bermartabat
Sahabat, dalam kesempatan persembahan budaya dan orasi di acara kampanye damai, kiranya kerendahan hati dan keikhlasan bersikap terbuka dan damai adalah hal utama yang rakyat dan kita semua harapkan di hati kecil. Semoga Tuhan menunjukkan kebesaran dan kehendak-Nya malam ini, Barakallah. Salam Indonesia.


Date: 03/07/2009
Debat Capres
Sahabat, selesailah sudah sesi debat-debat capres. Kita semua dapat menyimak dan meresapi dengan baik capres-capres kita dari aspek kesantunan, keteladanan, kecerdasan dan keberimbangan. Rakyat ingin presiden yang berpembawaan ‘baik-baik’ seperti yang sering kita ajarkan pada adik, anak-anak dan cucu-cucu. Ini soal milih pemimpin negara, bukan milih penghibur atau figur yang mampu menang dengan membuat pihak lain tersungkur atau direndahkan. Salam Indonesia.


Date: 15/07/2009
Menyinggung Nurani & Estetika
Sahabat, istilah tukar guling akrab kita dengar di zaman ORBA. Kali ini sedang berlangsung pro-kontra di Pematang Siantar: sekolah akan dijadikan hotel dan pusat bisnis. “Hari gini” masih ada tukar guling, ketika urusan pendidikan dasar dan menengah sudah di-desentralisasikan ke Pemerintah daerah, kita masih mendapati kegamangan akibat dampak otonomi daerah. Anak-anak kecil menangis terisak-isak, entah apa dampak psikologis anak didik yang akan menggantikan kita kelak bila masa kecilnya diisi bercak-bercak pengalaman semacam ini. Terlepas dari substansi hukum formalnya, tukar guling menyentuh suatu aspek lain yang relatif halus dalam diri kita. Tidak jarang, aspek keadilan dan aspek estetis-arsitktural kota terkorbankan. Misalnya, ketika mudik ke Cirebon, kota masa kecil saya, gedung gagah Markas Korem kebanggaan, berwibawa dan gagah yang dulu tidak lagi ada, kini berganti ruko, semrawut. Semoga Indonesia kita semakin menjadi Indonesia yang semakin maju dalam keseimbangan. Terobosan MK era baru sangat inspiratif, mengedepankan aspek keadilan walaupun terkendala bingkai-bingkai substansi formalnya. Salam Indonesia.


Date: 17/07/2009
Selain Ledakan
Sahabat, di tengah-tengah berita mengejutkan dan sangat memprihatinkan kita Di JW Mariot dan Ritz Carlton yang kini sedang serius ditangani aparat, ada berita lain yang membesarkan hati. Jumlah makanan dan minuman impor menyusut, pasca pemberlakuan Permendag no 56/2008 untuk pengetatan impor barang tertentu, termasuk mencegah impor makanan/minuman ilegal. Di lain pihak, terlihat tanda-tanda mulai menguatnya pertumbuhan sektor industri, dimulai dari subsektor INDUSTRI MAKANAN. Peningkatan industri skala kecil makanan 5%; skala besar naik 10% (periode Mei-Juni). Industri makanan-minuman, bersama industri tekstil, adalah industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja di sektor formal. Semoga wujud nasionalisme ekonomi untuk mendukung kemandirian ekonomi bangsa terus menguat dari waktu ke waktu. Salam Indonesia.


Date: 29/08/2009
Yang Dicintai Rakyat
Sahabat, rakyat AS sedang berkabung atas wafatnya Senator Ted Kennedy. Di jalan-jalan interstate mereka mengibarkan bendera 1/2 tiang. “Thanks Ted from the People,” demikian tertulis di lampu jalan ke Boston, ketika mobil kami memasuki perbatasan Massachusets malam ini. Semoga kelak, Indonesia kita akan memiliki wakil rakyat yang berdedikasi kepada bangsa dan sedemikian dicintai segenap rakyatnya, seperti tokoh dari partai demokrat AS itu. Salam Indonesia. Selamat berpuasa sahabat.


Date: 02/10/2009
Pemimpin Harus di Tengah Rakyat
Sahabat, dalam wawasan para Founding Fathers, Presiden adalah Kepala Negara, bapak-nya rakyat. Maka ketika ada bencana alam yang menimpa rakyat kita di Sumatera Barat atau pelosok tanah air, Presiden SBY langsung menemui rakyat dan menggerakkan roda pemerintahan terkait penanganan tanggap darurat dari lokasi bencana. Raut wajah prihatin kita semua terwakili dalam raut wajah prihatin Presiden. Pada waktu bencana yang berbarengan dengan acara kenegaraan, kiranya kita semua sangat mendukung Presiden yang langsung menemui rakyat korban bencana. Biarlah acara pelantikan wakil rakyat (DPR,DPD atau MPR) dihadiri oleh Wapres, mewakili simbol kepemimpinan kepala negara/pemerintahan. Salam Indonesia


Date: 04/01/2010
Hormat pada Pahlawan
Sahabat, izinkan saya berbagi cerita. Kolonel Tom, terpanggil untuk mengawal jasad Letnan Chance Phelps, serdadu muda, 20 tahun, Marinir AS yang gugur di Irak. Film “Take Chance” itu tidak lama, kami tonton dari pukul 14.00 – 15.30 hari Minggu ini, namun mengharukan. Kisahnya diambil dari cerita nyata, catatan harian sang Kolonel. Kemasan sang sutradara mengundang haru. Sejak jenazah diturunkan di Washington, dilanjutkan ke New York , terus ke Philadelphia dan jalan darat hingga ke Wyoming, membuat yang menonton menahan nafas. Demikian juga kami (saya, istri dan anak bungsu) terdiam merasakan suasana penghormatan dan ta’ziem warga masyarakat yang kebetulan berpapasan, saat jenazah naik turun pesawat dan diangkut lewat jalan raya. Petugas-petugas di bandara, penumpang pesawat, anak-anak kecil usia 7-9 tahun, pengendara mobil dalam urutan. Semua menunjukkan penghormatan dengan cara masing-masing. Itu bukan soal Amerika atau Iraknya, tetapi kerja telaten sutradara mengemas pengalaman pribadi Sang Kolonel sedemikian sehingga terasa di Amerika Serikat ada suatu rasa kebangsaan, penghormatan, ada peradaban tentang kepejuangan dan harga diri bangsa. Mungkin, bila Anda , sahabat sempat menyaksikan, akan teringat dan timbul hasrat menjunjung Indonesia tempat bumi di mana kita berpijak dan menghargai mereka yang sudah berjasa, saling menghargai sesama warga bangsa. Salam Indonesia, Selamat berhari Minggu.


Date: 24/02/2010
Pansus Century
Salam Indonesia. Menjelang akhir babakan Pansus Century, BAHAN BAKAR BARU sudah mulai diluncurkan oleh kelompok yang tidak pernah puas dan tidak ikhlas kalah. Kali ini adalah tentang polemik Asean Cina FTA. Perjanjian Free Trade Area yang secara kronologis merupakan rangkaian sikap formal pemerintah RI, yang sudah dimulai sejak 1994 (masa ORBA), dalam kerjasama regional-global yang sulit dielakkan. Jadi bukan baru diputuskan akhir-akhir ini. Bangsa dan kepemimpinan yang berharkat harus menjaga keseimbangan antara penghormatan pada perjanjian terdahulu dan tetap memperjuangkan peninjauan atas butir-butir perjanjian yang merugikan namun tetap mungkin dinegosiasikan ulang. Mari kita mencari pemecahan terbaik buat bangsa dengan diplomasi yang efektif, jadi bukan dan membiayai demo, membakar amarah dan berombong-rombong bis, untuk kemudian dijadikan lagi menjadi pansus-pansus baru, yang didominasi kecenderungan melihat ke belakang untuk mencari-cari siapa saja yang salah, padahal tantangan kita ada di depan. Salam Indonesia.


Date: 31/10/2010
Saat Bencana: Ibu Pertiwi Menangis ?
Sahabat, wawasan nusantara seperti apa yang kini kita perlukan, ketika alam nusantara sedang menampilkan sifat-sifatnya yang khas, yang sebelumnya kurang kita kenal: gempa bumi, letusan gunung, tsunami dan banjir, yang semuanya kini lebih sering dan lain-lain. Sifat-sifat Nusantara tanah air kita, yang selama ini kita kenal, adalah kekayaan mineral tambang, rempah-rempah dan kesuburan tanahnya dan panas bumi. Karena itulah ia terus didatangi bangsa lain, sejak zaman ekspedisi laut, perdagangan, penjajahan hingga zaman kini. Para geolog mengingatkan kita, di Nusantara inilah tempat satu-satunya di dunia pertemuan tiga lempeng benua, sehingga terbentuklah rangkaian gunung api terbanyak di dunia. Kekayaan bahan tambang dan mineral, kesuburan tanah dan rempah-rempah saat ini justru terbentuk setelah terjadinya letusan-letusan gunung api tersebut. Ada kekhasan Nusantara yang lain yang kiranya perlu semakin kita sadari. Nusantara kita ini adalah gugusan kepulauan terbesar di dunia (the biggest archipelago in the world). Di sinilah tempat terjadinya 3 dari 5 letusan gunung terbesar yang pernah terjadi di dunia (Gunung Toba, Krakatau, Tambora, Yellow Stone dan Vicivius). Ahli geologi Brazil, Profesor Santos menyatakan super letusan besar gunung Toba (76 ribuan tahun lalu) adalah yang terbesar dalam sejarah dan membuat bumi memasuki zaman es. Sehingga satu-satunya tempat berkembangnya peradaban nenek moyang manusia paling maju hanya dapat terjadi di suatu tempat di Hindia Timur, area khatulistiwa, yang hangat tidak ditutupi es di Nusantara ini. Karena letusan besar itu, kemudian menjadi sangat kaya mineral, permata, rempah-rempah dan subur. Nusantara kala itu masih berupa paparan Sunda seukuran benua itu (gabungan Sumatera, Kalimantan, Laut Cina Selatan). Letusan dahsyat kedua (11 ribuan tahun lalu) kemudian mengakhiri zaman es, mencair dan menenggelamkan peradaban paling maju itu. Tinggal puncak-puncak dataran tinggi yang membentuk kepulauan terbesar di dunia. Di Indonesia itulah kata Profesor Santos, peradaban Atlantis di tanah kaya mineral, biji logam, rempah-rempah dan subur, yang disebutkan Plato (filsuf Yunani) pernah berada (Atlantis, The Lost Continent Finally Found). Sisa-sisa peradaban itu kemudian dibawa oleh keturunan-keturunannya untuk menetap di India, Mesir, China, Eropa dan Amerika. Profesor Oppenheimer dari Oxford Universty, dengan metode analisis DNA menyatakan bahwa nenek moyang manusia modern kini berasal dari Nusantara kita ini (Eden in the East). Kedua professor itu masing-masing menyatakan di Nusantara kita inilah surga subur, kaya mineral dan tempat peradaban tinggi pernah berada, sehingga dicari-cari oleh pelaut Spanyol, Columbus dan lain-lain untuk menemui surga di Hindia Timur. Mari kita mengenal sifat alam Nusantara kita, mensyukurinya dengan jalan agama maupun ilmu pengetahuan. sahabat, Ibu pertiwi tidak senang menangis, ia mengajak kita untuk mengenal sifat dan kodrat yang diberikan Tuhannya. Robbana ma kholakta hadza bathilan. Di Indonesia, mungkin kini jumlah orang terbanyak memuji Allah sejak subuh hingga malam, namun mungkin belum juga cukup banyak dibanding nikmat-Nya. Salam Indonesia, Salam Nusantara.


Date: 18/12/2010
PSSI dan Kebersamaan Kita
Sahabat, mari sedikit berbagi rasa haru. Sore ini, di sekitar Senayan, jalan Sudirman, SCBD dan sekitarnya, tampak cerah dan optimistis. Wajah-wajah anak muda bersemangat dari berbagai lapisan. Berjalan di atas trotoar, melintas jalan, jembatan penyeberangan, turun dari bis, di lapangan parkir. Mereka berkaus merah, bersyal merah, ornamen-ornamen Garuda menempel di dada. Mengharukan, wajah-wajah mereka cerah, sehingga kita pun ikut juga cerah. “kali ini semangat dan hasil usaha keras kesebelasan kita, telah berperan membangkitkan kebersamaan kita,” kata Kepala Negara pada suatu kesempatan. Semoga kita bersama dapat menjaga kebersamaan itu. Sahabat, Indonesia kita semakin menguat kebangkitannya, seiring dengan GDP/kapita yang kini sudah menembus US$ 3000/kapita per tahun, hampir 3 kali lipat GPD/kapita ketika Indonesia dilanda krisis ( US$ 1100). Konon bila tingkatnya mencapai US$ 6000/kapita, maka lebih banyak hal bisa dibuat, lebih banyak optimisme bisa bangkit, walaupun berbagai upaya social engineering guna menjaga demokrasi konstruktif dan pemerataan pembangunan harus terus diprioritaskan. Salam Indonesia.


Date: 15/01/2011
Mereka Merindukan Museum Musik
Sahabat, di tengah keseharian kita, kadang kita bersilang pendapat. Namun, olahraga dan musik kiranya dapat mempersatukan perhatian kita. Minggu lalu Elfa berpulang. Kabarnya, maestro kroncong kita, Mus Mulyadi kini tidak lagi dapat melihat karena diabetesnya. Kemarin, singgah di rumah kami, sahabat-sahabat yang pernah menghibur kita saat remaja atau orang tua kita. Antara lain: Grace Simon, Benny Panbers, Henni Purwonegoro dan lain-lain. Para artis dan musisi itu adalah mereka-mereka yang masih sering bersilaturahmi, termasuk Ireng M, Bimbo, Ernie Johan, Widyawati, Tetti Kadi, Rafika Duri dan lain-lain. Benny datang dengan kursi roda paska stroke-nya. Kali ini, yang kini ingin mereka perdengarkan adalah aspirasi untuk membuat Museum Musik Indonesia. Kini, di rumah-rumah para artis itu, selain ada berbagai penyakitnya di hari tuanya, tersisa bukti-bukti perjalanan musik yang dulu pernah mengisi kenangan bangsa kita. Ada piringan-piringan emas, ada foto-foto panggung di kamera ria, mancanegara, album-album, lagu-lagu yang sudah langka. Sahabat, mulukkah keinginan mereka tentang Museum Musik Indonesia itu? “Insya Allah saya akan melapor ke atasan,” kata saya. ” Saya juga akan bincang-bincang dengan teman-teman lain yang simpati, agar bergaung, semisal KOMPAS, Tempo, Trans TV, Metro TV, dan perusahaan-perusahaan yang tergerak hatinya.” bisik saya sambil menyalami mereka saat berpamitan. Kemarin kami bernyanyi. Sebagai penghormatan, dengan gitar saya menyanyikan lagu Panbers, di depan penciptanya yang kini berkursi roda. Di tengah kesibukan kita di bidang masing-masing, yuk ikut memberikan simpati, setidaknya dengan menceritakan kabar ini kepada kawan. Salam Indonesia.


Date: 24/01/2011
Bangga dengan Batik
Sahabat, akhir minggu sering menjadi waktu-waktu kondangan. Ingat kondangan jadi ingat batik. Sudah sejak lama, jauh sebelum diumumkan sebagai world heritage oleh Unesco, batik kita sudah mengglobal. Di Bogor, 1994, 18 pemimpin dunia dalam konferensi APEC memakai batik Iwan Tirta. Motif-motifnya disesuaikan dengan kekhasan negara masing-masing. Bill Clinton mengenakan batik bermotif burung rajawali kepala putih, lambang negara AS, gagah sekali. PM New Zealand berbatik motif bunga-bunga lili. PM Canada batiknya bermotif daun-daun maple disusun dengan pola tradisional Jawa. Sementara PM Singapore berbatik motif bunga anggrek yang populer di negeri tersebut, dan lain sebagainya. Batik kita mampu mengglobal sekaligus bercirikan pola atau pakem tradisional/lokalnya. Saat kondangan di tanah air, dress code-nya disebutkan formal atau PSL. Apa yang Anda pilih: batik atau jas? Menarik untuk disimak fakta berikut ini. Nelson Mandela insisted on foregoing the traditional morning coat in favor of a batik shirt when he was called by Queen Elizabeth II at Buckingham Palace. Nelson Mandela also wore batik when he met George Bush in the Oval room Washington DC. Batik Nelson M itu adalah karya Iwan Tirta. Sahabat, Saya hanya ikut memperbesar gaung perjuangan Iwan Tirta dan kawan-kawan. Sang Mestro sudah tiada, namun alhamdulillah sudah sempat membakukan 600 motif batik, hasil penggaliannya atas karya nenek moyang kita. “Nilai batik adalah lebih karena proses pengerjaannya yang bertingkat-tingkat diwariskan berdasar ingatan ke ingatan. Kenyataan itulah yang membuat batik begitu manusiawi, keindahannya datang dari sanubari manusia,” tulis Ibu Negara dalam buku “Batikku, Pengabdian Cinta tak Berkata”. Selamat berakhir pekan. Salam Indonesia.


Date: 25/01/2011
Mari Menjaga Kepatutan
Sahabat, beberapa SMS saya terima sejak kemarin. Isinya berupa pesan moral mereka yang ‘geregetan’ karena melihat segelintir dari kita melakukan tindakan yang sesungguhnya memperolok bangsanya sendiri. Berikut SMS-nya “… coba kita renungkan : hampir setiap kebijakan, tindakan, sikap dan perkataan Presiden RI selalu diperdebatkan, dipermasalahkan, dipelintir, dipolitisir. Pokoknya suara itu “harus beda” tak perduli salah atau benar “tetap harus kontra” dan tetap “harus beda”. Demikian bunyi SMS itu, yang ditulis seorang aktivis masyarakat yang sering juga bersikap kritis tetapi senantiasa memahami batas-batas kepatutan dalam urun pendapat. Sms lainnya, ditulis seorang aktivis kaum muda, “… Miris hati melihat Presiden terus diperolok-olok. Sekarang mereka memperolok dengan mengumpulkan koin soal gaji Presiden. Lebih parah, mereka yang melakukan juga anggota dewan terhormat. Dimana rasa penghormatan kita atas Presiden?” demikian ungkap si pemuda. Sahabat, semoga kita tetap bisa kritis demi memajukan bangsa dan cara-cara yang baik tanpa harus memperolok bangsa dan simbol kehormatan bangsa kita sendiri. Salam Indonesia.


Date: 15/03/2011
Suara Rakyat Suara Tuhan
Sahabat, bangsa dan negara kita sedang bertransformasi, suara magis rakyat berpindah dari satu partai ke partai yang lain. Menuju babak lima tahunan, rakyat melihat peran wakilnya, ucap dan wawasan tokoh partai, kekompakkan partai, kedisiplinan partai, penguasaan substansi hingga yang terpenting kesantunan luar-dalam yang diyakini paling menentukan ke arah mana roh suara rakyat akan mengalir. Kiranya menjadi menarik, mencermati ketatnya persaingan merebut hati rakyat, yang hanya bisa diraih dengan segala cara yang baik. Kepada Tuhan kita semua kembali, tempat segala cahaya kepemimpinan dan ragam kemuliaan berasal. Salam Indonesia.


Date: 19/04/2011
Pesantren Melahirkan Pemimpin Bangsa
Sahabat, mungkin tanpa kita sadari, saat ini ada ribuan orang tua Minggu siang seperti ini sedang menengok anaknya yang sedang dididik di pesantren, atau BOARDING SCHOOL ala Indonesia. Tradisi mengirim anak, cahaya mata, buah hati keluarga, sudah sangat lama berlangsung, bahkan sejak tanah air kita belum bernama Republik Indonesia. Sedemikian tuanya tradisi itu, sehingga KH Asyim Asyhari pendiri pesantren Tebu Ireng yang sudah dikenal alim, sangat cerdas sejak muda belia dan jadi panutan para kiai di abad 20-an hanyalah salah satu mata rantai hasil dunia pesantren. Sahabat, dunia pesantren diam-diam adalah sebuah fakta besar yang tersimpan di tanah air, telah menyumbangkan berbagai kader pejuang dan pahlawan bangsa. Sejak zaman pergerakan, perumusan kemerdekaan, hingga yang terbaru saat krisis pemrintahan/bangsa 1998, tokoh-tokoh pesantren ‘turun gunung’ untuk kemudian undur dari keramaian setelah situasi normal kembali. Fenomena itu sering diibaratkan semisal menghadapi Firaun bila sedang angkara, maka tongkat nabi Musa dilemparkan jadi ular besar yang memakan ular-ular penyebar kejahatan tapi kembali menjadi tongkat penuntun jalan setelah normal. Seberapa tahukah kita tentang pesantren Tebu Ireng, Maslakul Huda, Lirboyo, Gontor, Pabelan, Tremas, Tambak Beras, Cipasung, Ins Kayu Tanam dan lain-lain? Berbagai lembaga penelitian asing, misalnya Fredrich Stiftung Jerman, sejak lama meneliti mutiara yang terkandung di dalam aset bangsa kita itu yang sudah berusia puluhan bahkan lebih dari seratus tahun jauh sebelum Van Dventer membawa politik etika. Maka dengan penuh khidmat dan hormat mendalam, Sabtu kemarin saya datang menghadiri peringatn 100 Tahun K.H. A Wahid Hasyim, tokoh cendekia yang sangat cemerlang, persembahan alam dan kultur pesantren kepada Ibu Pertiwi. Semoga kemuliaan senantiasa melingkupi beliau dan keluarganya. Sungguh yang berjuang di jalan Allah itu, sekalipun sudah meninggal, melainkan mereka tetap hidup di sisi Allah. Salam Indonesia.

Kunjungan kerja ke Ponpes Tebuireng, 16 Juli 2011
Kunjungan kerja ke Ponpes Tebuireng, 16 Juli 2011





Date: 26/07/2011
Kepeloporan Partai dan Tokoh Politik.
Sahabat, mungkin kita tidak mengira, keluarga Amerika yang kini mandiri, dulu di awal tahun 1960-an juga seperti di Indonesia saat ini, sangat bergantung pada pembantu rumah tangga. Hal itu dilukiskan dalam film yang menyentuh nurani, “the Help.” Saat itu, para ibu di AS terlihat masih “sangat manja”: cuci piring, setrika, masak, bersih-bersih, mengurus anak, dan lain sebagainya, semuanya dikerjakan pembantu rumah tangga (PRT) kulit hitam, yang pulang hari. Kehidupan dalam rumah-rumah tangga di AS tahun 60-an itu diliputi ‘penindasan’ yang boleh jadi tidak disadari. Menontonnya, terasa ‘tersindir’ kehidupan kita di Indonesia saat ini. Kini, di AS dan masyarakat negara maju lain, ayah, ibu, atau anaknya mengurus keperluan sendiri. Bagaimana di rumah Anda? Masihkah terlalu mengandalkan kerja PRT, bahkan untuk hal-hal yang bisa dikerjakan sendiri? Berkat semangat penghapusan sisa perbudakan di AS, kepemimpinan Kennedy (Demokrat) yang anti rasis, visioner, dan terobosan gigih. Skeeter, seorang wartawati muda, yang melakukan investigasi dan membuat reportase yang berdampak luas, kemanjaan anggota rumah tangga itu tidak lagi ada di AS. Sampai kapankah di negeri kita? Perjuangan ke arah itu perlu, demi kemanusiaan, keadilan, dan kekuatan perekonomian bangsa. Sahabat, PRT termasuk tenaga kerja informal dalam terminologi resmi BPS. Tahun 2011, ada 66% tenaga kerja informal Indonesia, hanya 34% yang formal. Ternyata, PDB kita senilai Rp 6400 trilyun atau PDB/kepala $3000, dihasilkan oleh tenaga kerja yang mayoritas informal. Kalau persyaratan hukum dan kondisi kerja PRT dan tenaga kerja informal kita perbaiki, sehingga mayoritas tenaga kerja kita berstatus formal, maka PDB dan PDB/kepala Indonesia akan lebih tinggi lagi. Pembangunan Indonesia mendatang harus lebih merinci target ketenagakerjaan, ke dalam target yang lebih eksplisit: berapa dan bagaimana agar tenaga kerja formal meningkat dan yang informal turun, bukan hanya sebatas target angka employment yang kurang menyentuh realitas negeri kita itu. Salam Indonesia.


Date: 9/10/2011
Yang Masih Misteri di Nusantara
Sahabat, selamat berakhir pekan. Pernah dengar, ada piramida terbesar di dunia, lebih besar dari yang di Mesir, bukan di Mesir, negeri piramid tersohor itu? Bagaimana kalau itu ternyata di Jabar, Indonesia? Bukit Lalakon, Kec. Soreang, Kab. Bandung, bentukannya sangat simetris, seperti piramid. Hasil penelitian TIM Turangga Seta dibantu unsur BPPT dan LIPI, dengan uji geolistrik, menduga kemungkinan di bawah “gunung” itu, sebuah struktur piramid ukuran sangat besar tertimbun tanah. Apa mungkin? Mungkin saja. Dulu, Borobudur pun tertimbun tanah berupa bukit menjulang. Ketika ditemukan saat itu, Raffles kakinya terantuk bebatuan berstruktur rapih di bawahnya. Temuan di Jabar itu, bila benar, semakin melengkapi teori yang dikemukakan 2 akademisi berbeda, professor luar negeri yang tidak saling berhubungan (Prof. Santos, geolog Brazil: “The Lost Continent Found”, 1997; Prof. Oppenheimer, dokter Inggris, ahli DANA: “Eden in the East”, 1998), bahwa Nusantara kita ini diduga daratan Atlantis yang tenggelam 11 ribu tahun SM akibat letusan sangat dahsyat gunung Kratatau purba, terjadi tsunami setinggi 150-an meter, menenggelamkan “dataran sunda” (yang merupakan kesatuan Indochina, Malaka, Sumatera, Kalimantan hingga Jawa). Sehingga Sumatera, Jawa, dan Kalimantan terbentuk sebagai pulau-pulau terpisah. Abu letusan itu melingkupi bola dunia, zaman es berakhir, nenek moyang manusia modern, penduduk berperadaban tinggi di Sunda Land itu berpencar ke penjuru dunia. So what? Dua penulis (Samantho, Oman Abdurahman, dan kawan-kawan), mengajak kita untuk menangkap peluang itu, paling tidak untuk manfaat pariwisata. Cyprus melonjak tajam kunjungan pariwisatanya, setelah Sarmast (2003), peneliti keturunan Persia menyatakan lokasi Atlantis di Cyprus Tenggara dan pemerintahnya memanfaatkan kontroversi itu. Agaknya kita cenderung gamang meneliti dan tidak menghargai kemungkinan berharga tentang bangsa sendiri. Barulah kebakaran jenggot ketika orang asing yang meng-klaim kekayaan peninggalan kita sendiri. Sangat menarik Indonesia disebut-sebut sebagai benua Atlantis, karena yang mengemukakan justru bukan orang yang nationally-vested. Lebih menarik, bila mengingat fakta banyak sekali keunikan Indonesia: Potensi panas bumi terbesar, beragam sumber daya alam dan mineral, negeri kepulauan terbesar, dengan rangkaian gunung api terbanyak, tempat satu-satunya pertemuan 3 lempeng benua, tempat 3 dari 5 letusan gunung terdahsyat di dunia, berpenduduk dan lain-lain. Sayangnya masyarakatnya masih sibuk saja ber-ghibah, melupakan potensinya dan mengulang perilaku buruk sebagian nenek moyangnya sebelum ditenggelamkan Allah dengan Tsunami setinggi 150-an meter di akhir zaman es. Salam Indonesia.


Date: 15/2/2012
Kebenaran Kontekstual vs Absolut
Sahabat, kemarin, seorang sahabat mengundang kami menyaksikan pentas sendratari wayang “KARNO TANDING”. Hujan gerimis sejak sore hingga malam itu, alhamdulillah bermanfaat. Semangat gigih sahabat saya dan istrinya itu mengharukan, ikut menjaga nilai-nilai budaya, guna menghaluskan rasa seni dalam jiwa bangsa dari generasi ke generasi. Kiranya mereka bekerja karena suatu motivasi, termasuk mempertahankan suatu loyalitas atau kesetiaan dalam meneruskan kebiasaan baik turun temurun. Melalui seni peradaban bangsa kita antara lain terbangun. “KARNO TANDING” adalah suatu fragmen Mahabrata yang sarat dengan tema loyalitas. Bagi yang mengikuti cerita pewayangan, termasuk saya, “KARNO TANDING” adalah fragmen yang menggetarkan hati. Seorang kakak (Adipati Karna,di pihak Kurawa) siap dan tidak ragu berperang dengan adik-adiknya satu Ibu (Arjuna, salah satu dari Pandawa), sekalipun sang Ibu sudah membujuknya agar bergabung dengan adik-adiknya. Tapi Karno tetap memihak Kurawa yang sudah memberinya gelar dan jabatan Adipati, sekalipun ada di pihak yang salah. Secara sederhana, memang Kurawa dikenal sebagai “yang salah” dan Pandawa sebagai “yang benar”. Karno dikenal sebagai perlambang setia pada negara atau setidaknya pada tugas jabatan. Dalam wayang ada “Karno” lain (Kumbo Karno dalam Ramayana) yang juga perlambang kesetiaan pada negara, konon banyak kalangan tentara mengidolakan Kumbo Karno ini (adik Rahwana); tidak menyenangi pola Gunawan Wibisono (juga adik Rahwana) yang justru memihak Rama, pihak “yang benar”, musuh kakaknya. Dalam nilai-nilai Jawa yang pernah diujarkan seorang sahabat pada saya, setidaknya bila merujuk cerita wayang, ada suatu kebenaran kontekstual, dan kebenaran tidak cukup hanya dengan kebenaran absolut (atau kebenaran untuk kebenaran itu sendiri). Sehingga, “walaupun Rahwana salah dan adalah pihak angkara murka tetap aku bela karena aku ‘setia’,” menurut Kumbo Karno. Mungkin kebenaran kontekstual ada indahnya…tapi dalam implementasi dan wujudnya orang berbeda-beda tafsir, bergantung seberapa sempit atau luas kita meletakkan konteksnya. Salam Indonesia.


Date: 26/2/2012
Sayang Anak
Sahabat, diam-diam orang tua kadang mencuri pandang pada anaknya saat melintas di hadapan. Saat seperti itu ada rasa syukur dan kasih yang tidak terlukiskan. Barangkali menarik bila di akhir minggu, bak melihat album, sejenak kita merenungkan kilas balik perjalanan bersama anak selama ini. Saat mereka kecil, balita, rasanya ingin melihatnya cepat besar. Saat sudah dewasa, ingin rasanya kita bisa memangku atau menggendong lagi. Penampilan anak-anak yang sudah besar dengan paras kian cantik atau gagah, kadang mengingatkan orang tua saat mereka muda dulu. Sahabat, mari berbagi kenangan. Bila kebetulan sempat ke Gramedia, mohon berkenan membeli buku yang kami tulis sejak tahun 2006, berjudul “TERBANGLAH KE ANGKASA ANAKKU”, diterbitkan Gramedia pada Hari Pendidikan Nasional 2011 lalu. Isinya berupa kenangan kami mendidik anak akselerasi. Insyaallah bermanfaat dan membangkitkan perspektif positif tentang anak, kita dan orang tua. Boleh jadi, selesai membacanya kita kangen pada orang tua yang sudah sepuh atau tinggal seorang atau almarhum atau jadi ingin berbincang dengan anak kita yang sudah pisah rumah atau masih kecil-kecil. Di dalamnya ada ulasan mengenai pesan Profesor Soemitro Djojohadiksumo tentang pembangunan karakter bangsa. Ada pula tentang perjuangan Ibunda BJ Habibie, dedikasi orang tua John F.Kennedy terhadap pendidikan anaknya, peran paman Motinggo Busye, paman Einstein, Ibunda La Rose, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, tidak terasa sudah 22 tahun kami berdua mendidik anak. Dengan berbagi dan kebersamaan kiranya kita ikut membangun bangsa. Insyaallah, royalti yang kami terima akan memungkinkan terbitnya buku-buku lain yang bermanfaat bagi kita. Salam Indonesia.


Date: /3/2012
Tetap Satu Visi dan Satu Semangat Sekalipun Bersaing
Sahabat, siapa sangka ternyata kesenjangan pendapatan, jurang kaya-miskin terbukti semakin memburuk saat kekuatan politik kian sengit bersaing. Itulah kata ekonom terkenal, Paul Krugman (2007), mengupas hasil kajian ilmuwan politik Nolan McCarthy atas kehidupan politik di AS, atas dinamika kekuatan Partai Republik dan Partai Demokrat di Kongres. Karena kita semua tentu ingin keadilan ekonomi yang terus membaik bagi rakyat kita, mungkin amatan Krugman itu perlu bagi kita. Perjuangan politik tidak harus berwujud persaingan sengit, karena hal itu malah berlawanan dengan tujuan kita bersama. Ilmuwan politik sudah mengingatkan,”…self destructive power struggle among followers of those who founded the regime who is succeeded in checking one another, but not in governing effectively.” (Francis Fukuyama,2006).

Demokrasi tidak dengan sendirinya akan membawa manfaat positif, tapi perlu kebersamaan di samping persaingan dengan cara baik-baik. Demokrasi perlu kelas menengah yang kuat dan berjumlah cukup banyak, tapi kelas menengah tidak bisa hadir bila kesenjangan ekonomi malah memburuk. Bangsa kita punya modal, tapi perlu sikap amanah para pemimpin. “Dengan modal sumber daya alam yang Tuhan berikan, kita harus berhasil mentransformasikannya jadi kekuatan sosial, yakni rakyat yang lebih berdaya”, kata geolog kebanggaan Indonesia, almarhum JA Katili (2007). “…Bila tidak, maka akan membawa dampak negatif, ditangisi generasi mendatang yang tetap hidup dalam lumpur kemiskinan”, lanjut Prof.Katili.

Sahabat, menjadi tanggung jawab para pimpinan kekuatan politik utk memastikan kebersamaan itu. Persaingan sengit politik jangan berdampak pada tingginya biaya transaksi politik, sehingga kurang terbuka kesempatan yang adil bagi yang lemah, akhirnya kesenjangan ekonomi memburuk. “…when we walk hand in hand world become so wonderland…it’s magic…” suatu frasa yg terasa indah dalam lagu Doris Day (penyanyi terkenal tahun 60-an). Novelis terkenal, La Rose, yang semakin menempuh jalur religius di tahun-tahun terakhir menjelang meninggal (tahun 2002-2003), banyak mendengar curhat dan memberi nasehat kepada pendengar Radio Larose. Acara yang dipandunya itu senantiasa diiringi lantunan lagu lembut Doris Day tersebut. Dalam kehidupan bangsa kita yang sedang giat membangun demokrasi, kiranya relevan ajakan La Rose agar kita “walk hand in hand” yang niscaya hasilnya akan dahsyat dibanding jalan sendiri-sendiri. Salam Indonesia.


Date: 03/06/2012
Renungan dan Otokritik Kebangsaan
Sahabat, pagi ini mungkin sudah kesekian kalinya di TV ditayangkan “pasukan Malaysia berperang” di Indonesia, memadamkan api guna mengatasi kabut asap yang berhari-hari membawa masalah hingga ke negara-negara tetangga (re: HAZE HELL OVER ASIA, saluran History,TV Kabel). Proses pemadaman di September 1997 itu, tentu setelah pemerintah RI mengizinkan datangnya 1200 pasukan DAMKAR Malaysia (pemadam api) guna mengatasi kebakaran di 1/3 hutan Sumatera dan 1/5 Kalimantan. Tentu, upaya itu bertujuan baik dan hasil akhirnya baik. Langit jadi biru dan cerah kembali. Pasukan DAMKAR Malaysia berhasil dan dapat applouse di forum resmi kenegaraannya. Menyaksikan tayangan itu (apalagi beberapa kali), adakah hal lain yang terasa? Tak pelak, terasa Malaysia sedang berkampanye tentang dirinya, tentang perjuangan kebaikan yang dilakukannya di negara tetangganya yang jauh lebih luas, yang jumlah penduduknya hampir 10x lipat Malaysia di mana total penduduk Malaysia hanya 1/3 jumlah anak-anak Indonesia. Tak pelak, yang terpikirkan ketika menontonnya, bahwa kita, Indonesia tidak mampu mengelola sumber daya manusianya, men-deploy ‘pasukan’nya, untuk mengatasi masalah di tanah sendiri. Ada nada “reminders” (peringatan) dari tayangan itu: jangan berdiam diri, ini sudah mau kemarau lagi, dan bila Anda tidak mampu kami akan bantu, kami datang, cukup dengan 1200 anggota DAMKAR. Tentu saja, mungkin itu perasaan saya saja. Memang ada konten tayangan yang menjelaskan dengan jernih duduk perkara kebakaran hutan itu, antara lain akibat pembukaan lahan sawit besar-besaran (note: perusahaan-perusahaan Malaysia juga investor utamanya) sehingga hilang sejumlah besar air di lapisan gambut yang jadi mudah terbakar saat kemarau. Ada pelajaran ketika menyaksikannya. Tayangan itu seolah ingin membenarkan apa yang dikemukakan Thomas Friedman dalam buku Lexus & Olive Tree, bahwa dalam bernegara dan mengelola negara di zaman ini, bukan baju kebesaran atau kekecilan yang dibutuhkan katanya, melainkan yang pas. Kita sangat yakin, kita mampu. Pasukan kita banyak, orang kita banyak, yang kurang adalah sikap tanggap dan cerdas mengatasi masalah, sekalipun tidak populer. Tentu kita perlu introspeksi. Kalau kita gusar, bangga karena negara kita besar, menegur negara kecil dan lantas bilang “it is only a dot in a world map” (re: BJ Habibie terhadap Singapura). Salah-salah dijawab, “better dot than not” (re: Lee K Yew menjawab BJ Habibie). Salam Indonesia.


Date: 2/10/2011
Tetap Harus Dimulai Sekalipun Belum Tentu Selesai
Sahabat, adakah pernyataan berikut terasa mengesankan? Bila iya, mungkin karena kebenaran isinya, atau karena yang menyatakan sudah mendiang….: “All this will not be finished in the first one hundred days. Nor will it be finished in the first one thousand days, nor in the life of this adminstrasion, nor even perhaps in our lifetime on this planet. But let us begin” (cuplikan dari salah satu pidato John F.Kennedy). Pesan moralnya, perjuangan harus dimulai sekalipun seseorang tidak sempat menyelesaikannya. Dalam sejarah tanah air, HOS Cokroaminoto dan kawan-kawan sudah gencar membicarakan kemerdekaan Indonesia sejak dua dekade pertama abad 20. Dari beliau, pemuda Soekarno mendapatkan semangat perjuangan kemerdekaan itu. HOS Cokroaminoto sudah mendiang ketika proklamasi itu dikumandangkan Bung Karno. “…nor even perhaps in our lifetime on this planet. But let us begin.” kata John F.Kennedy yang mati muda. Salam Indonesia.


Date: 29/12/2012
Apresiasi Terhadap Seniman dan Karyanya
Sahabat, sambil berlibur di akhir tahun 2012 ini mari berbagi kabar seni untuk memperhalus perasaan. Bersikap hormat kepada orang tua, termasuk seniman tua, kiranya adalah sikap mulia. Di Washington, awal Desember kemarin, ada malam penganugerahan lifelong achievement seni oleh Kennedy Center Honors. Penghargaan ke-35 kali ini didapat aktor Dustin Hofman, komedian David Letterman, band Led Zeppelin, gitaris legendaris blues Buddy Guy dll. Mata tua tokoh-tokoh sepuh itu berkaca-kaca saat melihat kilas balik perjalanannya dan persembahan generasi penerus di bidang masing-masing. Menyaksikan acara penganugerahan itu terasakan betapa bangsa Amerika berupaya merawat hasil perjalanan bersama. Acara demikian bisa menghidupkan kenangan manis dalam membangun peradaban bersama. Kehidupan berbangsa jadi tidak hanya berdebat, lontar fitnah dan ghibah. Seniman-seniman itu telah berjasa menghibur, menggoreskan kenangan di masanya. Di Indonesia, ada Titiek Puspa, Ireng Maulana, Koesplus, Panbers dll. Dulu ada Sam Saimun, Said Effendi, Bing Slamet, Gesang dll. Beliau-beliau itu sudah mengisi hidup kita dulu. Di AS, Presiden dan first lady pun tak luput merasakan pengaruh para seniman itu, terlihat ketika Obama dan Michele asyik mengayunkan badan mendengar musik lawas itu dimainkan. Di Indonesia, bila mendengar lagu-lagu presiden SBY atau saat bernyanyi, jelas beliau terpengaruh gaya musik pop KoesPlus atau Mercy’s. Kita bisa menggali dan membandingkan bagaimana di Indonesia atau di negara lain. Bagaimana kabar sahabat-sahabat hati kita itu. Benny Panjaitan sudah terkena stroke dan berkursi roda ketika sempat singgah di kediaman kami. Mus Mulyadi saya dengar tidak lagi bisa melihat karena sakit gula. Bagaimana Bimbo atau Eddy Silitonga dll? Bagaimana di Indonesia? Yang jelas, the Habibie Center fokus pada penghargaan pada dunia kecendekiaan (karya ilmiah dan beasiswa). Ke depan, entah “mantan president center” yg mana di Indonesia yg akan beri penghargaan dan perhatian untuk seni. Selamat menyongsong tahun 2013. Salam Indonesia.


Date: 3/3/2013
Penawar Racun Ada di Lubuk Terdalam
Sahabat, alhamdulillah hari Minggu pagi ini cerah di banyak tempat. Ada cerita menarik yg dapatlah kita berbagi. Seorang kolonel ikut mancing ikan mendampingi atasannya, tapi malang si kolonel salah pegang ikan lele laut yg dipancingnya, karena memegang ikan tersebut di patilnya. Tak lama kemudian tubuhnya panas dingin, terkena racun lele laut itu. “Mana ikan yg mematil itu?” tanya sang atasan dengan penuh empati. “..yang itu Pak,” jawab si kolonel. Dengan tenang, memakai pisau pribadinya, sang atasan membedah lele laut itu, mengambil empedunya untuk kemudian dioleskan pada luka si kolonel. Hasilnya mujarab, si kolonel berangsur pulih dan segar kembali. Patil ikan adalah alat bela diri saat ia merasa terancam, tetapi ternyata Tuhan memberikan penawarnya dalam empedu yang letaknya di bagian terdalam ikan tersebut. Mungkin, rasa empati kepada mereka yang sedang menderita, dibarengi dengan kecekatan mendapatkan “penawar” di suatu lubuk terdalam, kiranya akan mengobati rasa sakit pada luka. Kisah menarik itu adalah tentang Kolonel Hasan ketika mendampingi Pak Harto memancing ikan di laut. “Pak Harto: The Untold Stories” adalah buku yang bagus dan bila dibaca kiranya dapat memperhalus akal budi serta mendekatkan hati kepada beliau-beliau yang pernah berjasa dan sudah tidak bersama kita. Salam Indonesia.

Date: 07/03/2014
Selamat Jalan, Jojon
Sahabat, di tengah kesibukan atau kemacetan…kiranya sejenak mari kita mengenang dan mendoakan seorang sahabat semua orang…Ia yang bertahun-tahun menemani dan mengajak kita di Indonesia, tertawa, dengan keluguan khas-nya dan rela saja tampak bodoh di antara kita…Selamat jalan Jojon, yang berpulang ke rakhmatullah pagi tadi, salam Indonesia untukmu…

Date: 08/03/2014
Menengok Kerajinan Tangan Rakyat di Pasaraya
Sahabat, di hari Minggu cerah seperti ini, kiranya sesekali mampir di Pasaraya (dulu Sarinah Jaya) rasanya adem-tenteram. Bersama istri, saya melangkah diiringi alunan lembut gending Jawa, tembang Cianjuran atau lagu etnis Aceh dll, maka terasa dekat sekali Indonesia di hati, melalui kerajinan tangan rakyatnya. Beberapa wajah-wajah asing mancanegara terlihat berbelanja, walau jumlahnya relatif minim untuk toserba berukuran sangat besar ini. “Sudah cukup lama tidak terlihat pejabat atau tokoh mengantar tamu ke sini…,” demikian kata putra-putri kita yang menjaga counter di Pasaraya. Maka, sms ini pun kami buat, menyapa para sahabat (semoga tidak bosan). Mana tahu puluhan sahabat yang masih menjabat di pemerintahan (yang juga menerima sms ini) atau perusahaan, berkenan mengarahkan tamu-tamu mancanegara untuk membeli karya pengrajin kita yang bagus, indah dan penuh cita rasa seni itu. Ingat Pasaraya, ingat Sarinah…dan mengingatkan kita pada kasih sayang Bung Karno kepada rakyatnya, rakyat kita. Salam Indonesia.

Comments are closed.