Pembangunan Kelembagaan

Masihkah Kita Perlu Kehadiran Pihak Asing dalam Mengolah SDA ?
Ditulis Oleh: Imam
Sejarah keterlibatan pihak asing di Indonesia barangkali sudah setua usia bangsa ini. Bahkan jauh-jauh hari sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pihak asing telah bercokol lama di Nusantara. Mereka menjajah sekaligus menjarah rempah-rempah dan kekayaan alam. Oleh karena itu tidak mengherankan jika memori bangsa ini tetap saja dihantui kolonialisme dan imperialisme yang bisa saja saat ini telah bermetamorfosa dengan sejuta wajah baru. Memori buruk semacam inilah yang barangkali juga dimiliki para penandatangan Petisi Mahakam. Orang-orang yang alergi pada campur tangan asing dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Kerjasama dengan pihak asing bagi orang-orang ini bisa jadi hanya dipandang sebagai kamuflase dari penjajahan model baru. Sehingga kehadiran pihak asing layak ditolak dengan menuntut pemerintah meninjau kembali kontrak kerjasama pengelolaan gas alam dan minyak bumi pada blok Mahakam.
selengkapnya…

Tolak Pihak Asing Menguasai SDA Indonesia
Ditulis Oleh: Mega Ginting
Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, yaitu dengan luas 1.904.569 km2, Indonesia juga memiliki 6% dari persediaan air di dunia dan Indonesia adalah eksportir batubara terbesar ke-2 di dunia dan masih banyak lagi kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia dibandingkan Negara yang lain. Sungguh suatu sumber daya alam yang sangat besar, bukan? Tetapi sayangnya investor asing memiliki banyak saham di Negara kita, mulai dari perkebunan, pertambangan maupun pembangunan dan pariwisata di Indonesia. Sungguh disayangkan kalau sumber daya alam kita dikuasi oleh investor asing lebih dari 50 persen.
selengkapnya…

Indonesia Disebut Sebagai Bangsa yang Lembek, Benarkah?
Ditulis oleh: Eko Hermawan
Ini pandangan dari seorang Anak muda Indonesia yang sebenarnya tidak terlalu faham tentang rules permasalahannya. Namun, pandangan ini tertuang dari sebab akibat penilaian dari sudut pandang saya sendiri. Menurut saya Indonesia memang pantas disebut dengan kata “Lembek” dalam banyak hal, terutama dari segi teritorial, patok perbatasan, budaya, pertahanan, TKI, bahkan dari segi olahraga sekalipun.
selengkapnya…

Memungut Sisa Dari Pragmatisme Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Indonesia
Ditulis Oleh: Muhammad Nur
Dengan merenegosiasi pertambangan ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan hasil pendapatan khususnya dari sektor pertambangan. Renegosiasi ini merujuk pada penemuan keuntungan perusahaan lebih besar dibanding dengan pemerimaan negara. Pembahasan renegosiasi pertambangan kemudian direncanakan mencakup prinsip luas wilayah, jangka kontrak, divestasi, pengelolaan lingkungan, royalti, dan kewajiban menggunakan jasa dalam negeri serta pelarangan ekspor bahan mentah tambang. Namun dari sekian substansi pembahasan renegosiasi ini, kecenderungan yang terjadi adalah pemerintah lebih memprioritaskan membahas besaran penerimaan.
selengkapnya…

Tentang Perbatasan
Ditulis Oleh: Yoga Aditama Ika Nanda
Meski bukan tantangan perang secara statment, ini tetap saja mengusik kesatuan rakyat Indonesia. Mulai dari kemenangan atas pulau Ligitan dan Sipadan. Ada juga pengklaiman beberapa budaya Indonesia, seperti reog ponorogo, lagu Rasa Sayange, wayang kulit, kuda lumping hingga batik.
selengkapnya…

Indonesia Harus Berbenah
Ditulis Oleh: Marselus Ocen
BANGSA INDONESIA ADALAH BANGSA YANG BESAR!!!” Gelegar seorang jendral besar Indonesia dimasa lampau. Pidato yang sanggup meluluh lantahkan rasa takut, bahkan rasa takut untuk mati. Putar lagi rekaman-rekaman suara usang Beliau di tempo dulu, dengarkan lagi suara gemuruh tepuk tangan yang terbakar semangat dari tiap detail ucapan Beliau yang sangat bangga mencintai negeri ini, orang yang mencintai negeri ini melebihi nyawanya sendiri dan Beliau menjadikan dirinya pantas disebut sebagai seorang NASIONALISME.
selengkapnya…

Di Ambang Batas Sebuah Impian
Ditulis Oleh: Rodame Monitorir Napitupulu
aya berpandangan bahwa memang selama ini setiap ada konferensi entah itu terkait minyak dunia, pertanian, pertambangan dan pariwisata hampir semuanya diselenggarakan di Bali. Meskipun memang, Bali berpotensi untuk meningkatkan jumlah turis yang datang ke Indonesia tapi sebenarnya hal tersebut kurang tepat. Bali memang surganya dunia apalagi kalau bicara soal keindahan pantai dan lautnya meskipun Nias, Lombok dan Raja Ampat tidak kalah indahnya. Kenyataan yang pahit memang ketika, sebuah wilayah sebut saja Kalimantan yang potensi pertambangannya luar biasa ini justru kurang diperhatikan. Tidak ada yang salah jika konferensi pertambangan justru diselenggarakan di wilayah yang memang sentra dari pertambangn itu sendiri. Karena menurut saya, justru disini nilai tambahnya, mereka bisa melihat langsung bagaimana potensi tambang yang ada dan bagaimana keindahan Kalimantan sekaligus melihat secara langsung garis kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah penghasil tambang tersebut. Bali sudah cukup baik pembangunannya, karena turis memang menjadi pasar yang sangat menggiurkan bagi usaha apapun yang ada di Bali. Tapi, coba lihat Kalimantan, masyarakat disana, apakah memang sebanding kehidupannya dengan nilai tambangnya. Saya rasa, ini yang perlu diperhatikan. Pengusaha tambang memang kaya raya, perusahaan tambang memang diuntungkan, Negara juga pasti mendapatkan keuntungan tapi masyarakatnya bagaimana. Apakah sudah sejahtera seperti layaknya para pengusaha hidup berkecukupan, apakah anak-anak di Kalimantan sudah bisa menikmati indahnya pendidikan seperti anak-anak pengusaha tambang yang bersekolah di sekolah-sekolah bertaraf internasional dengan berbagai fasilitas yang memadai. Sekali lagi “ironis”. Boleh saja memanfaatkan Kalimantan untuk tambang tapi tolong perhatikan bekas kegiatan pertambangan yang ditinggalkan, jangan sampai merugikan masyarakat sekitar terutama lingkungan.
selengkapnya…

Kaum Muda Bicara Indonesia: Indonesia Masih Bisa Bangkit!!
Ditulis Oleh: Devi Yulia Rahmi
Berbicara tentang Indonesia banyak sekali hal-hal yang harus dipaparkan, ditelaah, bahkan dikagumi sehingga kita bisa berucap woww untuk Indonesia. Indonesia adalah negara kaya, kaya dalam hal sumber daya alam dan bahkan kaya juga dalam hal sumber daya manusia, kita sebutkan satu-satu dimana letak kekayaan Indonesia sebenarnya. Pertama Indonesia memiliki pertambangan emas terbesar dan kualitas emasnya tebaik diseluruh dunia, kedua tenyata Indonesia memiliki cadangan gas alam terbesar didunia tepatnya di blok Natuna, ketiga Indonesia memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayati dan plasma nutfah terlengkap didunia, keempat Indonesia memiliki lautan terluas didunia, kelima Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar ke-4 didunia dengan potensi yang dimilikinya, keenam Indonesia memiliki banyak tanah yang subur karena banyaknya gunung merapi yang aktif dan Indonesia dilintasi garis khatulistiwa dimana keimbangan air dan cahaya matahari cukup unutk membuat tanah menjadi subur, dan yang ketujuh Indonesia memiliki culture yang beragam serta pemandangan eksotis nan cantik hanya ada di Indonesia.
selengkapnya…

Inisiatif Penghapusan Utang Luar Negeri Sebagai Perjuangan Melawan Liberalisasi Ekonomi Indonesia
Ditulis Oleh: Urza Aurora Dwi Rumpoko
Sahabat, karena luas daratan Indonesia sekitar 1,9 juta km persegi dan PDB sekitar Rp 5000 triliun, bisakah kita menafsirkan setiap orang, termasuk bayi baru lahir sudah punya tanah seluas 0, 8 ha dan berproduksi senilai Rp 21 juta? ANEHKAN?! Seperti itulah anehnya, bila orang mengatakan total utang pemerintah (Luar Negeri dan Dalam Negeri) Rp 1700 triliun, karenanya setiap orang termasuk bayi lahir sudah mengemban utang Rp 7 juta. Karena itu ukurlah utang dan alat ukur yang benar. Faktanya, utang luar negeri pemerintah secara absolut terus turun (zaman Megawati 2004:$68miliar; 2008:$67miliar; 2009:$63miliar) dan rasio utang luar negeri terhadap PDB terus turun (2004:57%, 2008:33%). Faktanya, kalaupun memang total utang pemerintah naik tapi itu karena kenaikan utang dalam negeri melalui penjualan Surat Berharga Negara/SBN yang meningkat (2004:$79 miliar, 2008:$84 miliar), yang mencerminkan semakin besarnya sumber pembiayaan pembangunan yang tidak mengikat dan yang berasal dari kita untuk kita di dalam negeri. Peningkatan peran SBN justru mencerminkan berjalannya upaya restrukturisasi utang agar lebih sehat, yang semakin mengandalkan sumber pembiayaan dalam negeri (2004:52%; 2009:57%), mengurangi utang luar negeri dan tidak lagi ditentukan pihak luar negeri (porsi utang luar negeri 2004:48%; 2009:43%). Faktanya, Oktober 2006, $7, 8 miliar utang IMF kita lunasi dan CGI kita bubarkan pada Januari 2007, sehingga kini kitalah yang menentukan agenda pembicaraan program pembangunan ketika berlangsung pertemuan dan pihak-pihak luar negeri. Faktanya, pemerintah RI kini tidak lagi menjual aset-aset negara dan cara-cara strategic sales yang cenderung keblinger dan banyak akal-akalan. Mari gunakan alat ukur yang benar dan serahkan pada ahlinya ketika membahas utang negara. Salam Indonesia.
selengkapnya…

Indonesia, Mutiara Dalam Lumpur
Ditulis Oleh: Zahratun Nisa
Jika bicara politik maka kita akan langsung menuju sebuah pemikiran bernama pemilu. Helatan akbar yang diajangkan lima tahun dalam sekali ini menjadi sebuah polemik yang menimbulkan luka, dusta, janji, dan hal-hal negatif yang memperparah keadaan rakyat di negeri ini.
selengkapnya…

Batubara ; Batu Hitam Yang Selalu Dicari – Untung Ruginya
Ditulis Oleh: Hendra Sanjaya Kusno
Sebagai negara yang berada di daerah tropis, Indonesia memilki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah, baik hayati maupun non hayati. Batubara sebagai salah satu sumber daya alam Indonesia yang dominan, diperkirakan terdapat sekitar 36 Milyar ton batubara yang tersebar di wilayah-wilayah Indonesia (Soejoko dan Abdurrachman,1993). Dengan jumlah batubara yang begitu besar tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil batubara terbesar di dunia. Seharusnya, dengan kekayaan tambang yang sangat besar ini, perubahan sosial ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar pertambangan atau bahkan pemerintah daerah dimana tambang itu dieksplorasi.
selengkapnya…

Indonesia Oh.. Indonesia. Lembek kah kita?
Ditulis oleh: Dliyaun Najiihah
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan hasil alamnya, indah alamnya, kaya budayanya. Indonesia disebut Negara maritim, Negara agraris juga Negara yang dahlu merupakan salah satu paru-paru dunia. Lantas seperti apakah macam Indonesia dilihat dengan mata kepala pada bangsanya?
selengkapnya…

Indonesia disebut sebagai Bangsa yang Lembek, Benarkah?
Ditulis Oleh: Dhika Intan
Well, beberapa hari yang lalu saya sempat jalan-jalan ke salah satu website yang mayoritas postingannya berisi kisah-kisah inspiratif tentang Negara Indonesia. Ada juga update tentang issues yang ter-gress di republic ini beserta opini dari penulis artikel tersebut. Dan, ada kaitannya sama tema “Indonesia disebut sebagai Bangsa yang Lembek, Benarkah?” yang juga tersirat dalam artikel yang berjudul “Civis Pacem Parabellum” di www.darwinsaleh.com –yang udah saya intipin beberapa waktu lalu- saya merasa kurang sependapat dengan penulis artikel tersebut.
selengkapnya…

‘Walk Hand in Hand’, Berjalan Bersama untuk Tujuan yang Sama
Ditulis Oleh: Muhammad Fathur Rosiy
Kabar mengejutkan datang dari lembaga riset Internasional, McKinsey Global Institute, yang memperkirakan Indonesia akan menjadi Negara maju pada tahun 2030. Hal ini diperkuat dengan tingkat pertumbuhan ekonominya yang paling stabil di dunia dalam 4-5 tahun terakhir. Tetapi masih banyak kerikil tajam yang harus dilalui untuk mendapatkan predikat tersebut.[1] Indonesia memang Negara yang tak perlu lagi dipertanyakan mengenai kekayaan alam yang ada di dalamnya. Sayangnya kekayaan alam ini tak sebanding dengan laju pembangunan nasional yang masih tersedak disana-sini, peran kelembagaan terutama lembaga negara pun sangat dibutuhkan demi keberlangsungan hidup yang mumpuni.
selengkapnya…

Pemuda Kuat, Bangsa Hebat
Ditulis Oleh: Ubaidillah
Indonesia adalah bangsa yang luar biasa dengan bentuk negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni). Luas daratan Indonesia sekitar 1,9 juta km persegi dan PDB sekitar Rp 5000 triliun. Apabila luas Indonesia dibagi rata ke setiap penduduk, maka setiap bayi yang lahir sudah mempunyai tanah seluas 0,8 ha dengan pendapatan Rp 21.000.000,00. Wow, amazing bukan? Terlepas dari keberadaan hutang Indonesia sebesar Rp 1700 trilliun, tetap saja bangsa kita sejatinya memiliki anugrah yang luar biasa.
selengkapnya…

Indonesia, Bangsa Kuat yang Lembek
Ditulis Oleh: Ahsanul Marom
Berkenaan dengan tema “Indonesia disebut sebagai Bangsa yang Lembek, Benarkah?” yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul Civis Pacem Parabellum di www.darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya sangat setuju karena Indonesia memang negara yang lembek dalam menghadapi permasalah, misalnya permasalahan yang telah dituturkan dalam artikel tersebut mengenai hubungan dengan Malaysia. Pada dasarnya Indonesia terkesan lebih memilih hubungan diplomatik mengenai politik antarnegara daripada perlindungan dan kesejahteraan warga negaranya di negara tetangga.
selengkapnya…

Kekuatan Negaraku yang Kini Mulai Rapuh
Ditulis oleh: Ulfa Nurmalia
Ketika kita sebagai Warga Negara Indonesia yang kini hidup di era reformasi seperti ini, dapat kita rasakan sendiri apa yang terjadi dan menimpa Indonesia. Mulai dari hal-hal kecil hingga besar yang pada akhirnya menjadi sebuah masalah bagi negara kita ini. Banyaknya musibah yang akhir-akhir ini menimpa sebagian daerah di Indonesia juga menjadi masalah baru yang harus dihadapi, bagaimana bisa kita menyelesaikan masalah baru yang bahkan kita sendiri belum bisa menghapuskan sebutan Indonesia sebagai negara korupsi, bagaimana bisa para pemimpin kita fokus ke hal lain kalau mereka masih asyik dengan dunianya sendiri.
selengkapnya…

Pemuda Urun Harapan
Ditulis Oleh: Tri Susanto
Sahabat yang saya sayangi, pernahkah kita membaca komentar di salah satu portal berita terupdate, misalnya seperti detik.com? kalau belum cobalah sempatkan membaca berita beserta komentarnya. Ketika seseorang diberitakan semangat membangun negara ini dibilang pencitraan, ketika sesorang diberitakan membenahi pemerintahan dibilang terlambat. lalu bagaimana negara ini bisa maju kalau dari komentar saja tidak ada yang baik. Sungguh negara ini pandai berkomentar pandai menghina dan menjatuhkan. kesan saya ketika membaca komentar tersebut sangat terpukau mulai dari kritik yang baik, kritik yang menjatuhkan sampai cacian dan hinaan terlintas begitu saja. sangat memukau seolah-olah para komentator ini bisa melakukannya apa yang dilakukan seseorang dalam pemberitaan tersebut. Lalu pertanyaan saya, Mereka sudah melakukan apa untuk indonesia? Apakah komentar komentar berupa cacian dan hinaan bisa membangun bangsa ini? komentar saja tidak cukup untuk memperbaiki bangsa yang terpuruk karena maraknya korupsi yang sudah diambang batas dan merupakan masalah strategis bangsa.
selengkapnya…

Masihkah Kita Perlu Kehadiran Pihak Asing dalam Mengolah SDA?
Ditulis Oleh: David Primadi
Sebelum saya membahas ide saya tentang tema Masihkah Kita Perlu Kehadiran Pihak Asing dalam Mengolah SDA?, saya ingin mengajak para pembaca untuk membuka kembali UUD 1945 amandemen ke-empat. Pada BAB XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial, pasal 33 menyatakan:
selengkapnya…

Bumi Kalimantan Memang Kaya Dengan Sumber Daya Alam Mulai Dari Energy Seperti Gas Alam
Ditulis Oleh: Dewi Sofiah Resmi
Bumi Kalimantan tidak dapat ditolak fakta akan kekayaan sumber daya alam mulai dari energi seperi gas alam,minyak, dan gas alam maupun produsen kayu dan kelapa sawit serta tersebarnya logam-logam mulia .Tidak heran sudah beratus-ratus perusahan asing maupun domestik yang berlomba-lomba berinvestasi dan menggelar kegiatan eksplorasi khususnya pertambangan karena saya rasa untuk persoalan perizinan dari pemerintah pun bisa dibilang sangat mudah dikantongi dan tidak banyak diberatkan dengan tanggung-jawab yang ketat seperti program CSR ( cooperate social responsibility) disini masih kurang berpengaruh pada masyarakat.
selengkapnya…

Sumber Daya Manusia untuk Sinergis Indonesia Menjadi Indonesia Berjaya
Ditulis Oleh: Ilhamdi
Dua tahun yang lalu Indonesia mendapatkan tamparan pahit dari negeri jiran, Malaysia, akibat kebakaran hutan yang sempat mengganggu ketertiban umum. Malaysia mendatangkan orang Malaysia ketanah air Indonesia untuk menyelesaikan kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera itu. Kenyataan ini memberikan kesimpulan bahwa Sumber daya manusia Indonesia sepertinya tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini. Kebakaran yang terjadi di Indonesia tapi Malaysia yang memadamkannya karena Indonesia dinilai tidak mampu menanganinya atau tidak mampu bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan permasalahan itu.
selengkapnya…

Membangun “Ekonomi Daerah” melalui Potensi Alam dan Potensi Sosial Masyarakat
Ditulis Oleh: Ghazian Muhammad
Indonesia adalah negara agraris yang terdiri dari banyak pulau dan kepulauan serta didukung dengan sumberdaya perairan. Indonesia mempunyai wilayah yang sangat luas yang membentang dari barat ke timur sepanjang 5.110 km dan membujur dari utara ke selatan sepanjang 1.888 km. Dengan wilayah seluruhnya mencapai 5.193.252 km2 yang terdiri atas 1.890.754 km2 luas daratan dan 3.302.498 km2 luas lautan. Luas daratan Indonesia hanya sekitar 1/3 dari luas seluruh Indonesia sedangkan 2/3-nya berupa lautan. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan hasil agrarianya.
selengkapnya…

Gagalnya Pemuda Menunjukkan Keterpurukan Bangsa
Ditulis Oleh: Zulvan Abdi
Berkenaan dengan tema “Indonesia disebut sebagai negara yang lembek,benarkah?” yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul Civis Pacem Prabellum di www. darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju dan sependapat dengan maksud artikel tersebut.Hal ini didasari bahwa faktanya tali persahabatan kita dengan negara’AWAK’ sudah mulai kendor.Dibarengi dengan keberingasan negara Malaysia telah merajalela hampir-hampir mengacau balaukan bangsa ini dengan bukti TKI yang menderita atas kehidupannya dengan bangsa’AWAK’,batas wilayah yang semakin lama semakin bertambah(pencamplokan) serta pengklaiman atau saduran budaya oleh negara ‘AWAK’.Tanda ini seolah mengisyaratkan kita bahwa kapan bangsa ini tegas?kapan bangsa ini terang kembali(bangkit)? Ataukah bangsa ini bangsa yang mundur atau ironisnya bangsa yang lembek?.Tapi ingatlah perkataan the founding father of indonesia mengatakan” Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.Sehingga sebenarnya bukan hanya masalah eksternal akan tetapi masalah internal (dalam) bangsa menjadi unsur utama
selengkapnya…

Comments are closed.