Bukan Gojek Jawabannya

Fenomena Go-Jek lebih dalam dari sekadar yang terlintas di pikiran kita. Seolah merupakan terobosan bisnis yang kreatif, namun solusi yang diberikannya kepada masyarakat hanya untuk jangka waktu pendek. Tidak sebatas manfaatnya yang mempermudah orang yang bergerak cepat mengirimkan barang atau kemudahan moda transportasi lainnya. Memang ada suatu terobosan ketika penggagasnya mengkreasikan suatu model aplikasi bisnis dengan dukungan teknologi informasi. Ratusan ribu orang mendaftarkan diri atau terjaring ke dalam sistem aplikasi “bisnis transportasi” ini. Sebaliknya, ratusan ribu pengguna jasa memanfaatkan sistem baru pemesanan jasa transportasi tersebut.

Dari sudut pandang analisis ekonomi dan demografi, gagasan bisnis sejenis Go-Jek memang tak lain dimungkinkan karena ada jutaan tenaga kerja (2015: 68 juta) yang secara serabutan atau tidak berketentuan bergiat di bidang apa saja guna bertahan hidup. Hasil kerjanya relatif minim dan kaum pekerja itu sangat rentan pada kemiskinan. ILO dan BPS mengategorikan mereka sebagai pekerja sektor informal. Bagian terbesar dari tenaga kerja produktif Indonesia itu sangat memerlukan gagasan kreatif dari pemimpin visioner (dari kalangan swasta maupun pemerintah, pribadi maupun terorganisasi), untuk mengubah nasib pekerja marjinal itu dan anak keturunannya. Model bisnis Go-Jek malah dapat melanggengkan fenomena sektor informal di Indonesia, terus bertahan pada proporsi yang terlalu besar.

Dalam dua dasawarsa terakhir, proporsi tenaga kerja informal kita masih terlalu besar (60-70%). Mereka bukan orang yang kurang pendidikan karena di kota-kota besar banyak yang tamat SMA. Lebih tepatnya mereka adalah orang-orang yang tidak terserap oleh lapangan pekerjaan yang lebih layak. Dalam data resmi pemerintah, mereka bukan kaum penganggur, tetapi bagian terbesar dari tenaga kerja di sektor transportasi, perdagangan, atau jasa kemasyarakatan. Gencarnya pendidikan bukan satu-satunya jawaban, mungkin intensifikasi pelatihan dan penyaluran pasca pelatihan dapat menjadi jawabannya. Siapa memikirkan; siapa peduli?

Maka, ketika Nadiem memaparkan warna-warni di sekitar “what Go-Jek is”, termangu-mangulah mendengarnya. Seperti itukah jalan pemecahan kita mengatasi ketidakmampuan sektor modern menyerap tenaga produktif yang masih berkubang di sektor informal ? Bukannya memperkuat peran swasta dalam memberikan pelatihan dan penyaluran kepada kaum pekerja informal, malah mewadahinya, mengorganisasikannya di kegiatan informal itu sendiri. Teringat lah kita pada sejumlah ekonom dan pemikir bangsa yang mungkin namanya tidak sepopuler Nadiem, namun puluhan tahun sudah merumuskan dan merintis langkah pemecahan yang lebih sistematis, antara lain dengan mendirikan ratusan balai latihan kerja yang kini ratusan pula yang rusak.

Kita ingin terobosan yang lebih dari Go-Jek. Sungguh, Go-Jek membawa manfaat pada jangka pendek. Akan tetapi harus segera disusul langkah terobosan yang lebih transformatif dan substantif. Apa yang akan kita hadapi nanti? Nanti, ketika jaringan sistem MRT dan transportasi modern lainnya sudah mulai berjalan, diharapkan fenomena Go-Jek tidak menjadi kerikil atau penghalang besar karena mungkin saja “massa Go-Jek” berkeberatan, baik secara swakarsa atau diorganisasikan oleh kaum vested.

Comments are closed.