Buku Potret Dhuafa Perekonomian Indonesia, Kisah Dhuafa Terpinggirkan

Date: 17/12/2013
Sumber: Website RRI

Akhir minggu ini apakah ada rencana jalan bersama keluarga? Mungkin ingin membeli buku yang menarik. Ada sebuah buku baru terbit, mengisahkan jutaan rakyat Indonesia, kaum dhuafa yang tidak terbela. Buku itu berjudul ”Potret Dhuafa Perekonomian Indonesia”.

Dalam buku itu diungkap fakta-fakta ketidakberpihakan perekonomian Indonesia kepada rakyat kecil. Fakta-fakta itu diantaranya terus bertambahnya jumlah kendaraan di Indonesia, dimana dalam 9 tahun terakhir kendaraan roda empat bertumbah 2,5 kali dan sepeda motor 3,3 kali lipat. Sementara perusahaan angkutan umum banyak yang bangkrut dan subsidi BBM membengkak.

”Fakta-fakta dan kisah-kisah inspiratif untuk membangun simpati kepada Saudara kita yang tidak terbela itu ada di buku kami yang baru terbit, berjudul Potret Dhuafa Perekonomian Indonesia, hasil penelitian kami dalam 2 tahun terakhir ini,” ungkap Darwin Zahedy Saleh, penulis buku tersebut dalam pesan elektroniknya, Sabtu (30/11/2013).

Dikatakan mantan Menteri ESDM RI, dari foto-foto, angka statistik dan ulasan hasil wawancara se Indonesia, ternyata mereka yang menurut BPS tidak digolongkn miskin atau berpendapatan di atas upah minimum, jelas secara kasat mata adalah kaum dhuafa yang hidup dalam kesulitan, banting tulang sejak subuh hingga larut malam dan 7 hari seminggu.

”Pada jutaan keluarga dhuafa, bapak atau ibunya harus kerja keras sejak subuh hingga malam, 7 hari seminggu untuk bertahan hidup, dengan hasil minim dan tidak pasti. Mereka umumnya tenaga kerja berpendidikan rendah,” ungkapnya. Di buku itu ada juga kisah kegiatan CSR prusahaan Chevron, Berau, KPC, RAPP, Freeport, Rajawali grup dlsb; kisah program pro rakyat sejak zaman Bung Karno hingga SBY. Ada pula kisah inspiratif dari kegiatan amal orang-orang kaya dan tokoh masyarakat di dalam negeri dan luar negeri, termasuk kisah pilu ketidak adilan energi dalam APBN, disertai angka-angka statistiknya.

”Triliyunan subsidi BBM tidak jatuh ke tangan mereka (kaum dhuafa-red). Studi Bank Dunia menyebutkan bahwa 90 persen subsidi itu melenceng ke masyarakat yang tidak miskin. Padahal UU mengatakan untuk golongan tidak mampu,” tandas Darwin. Meski demikian, lanjutnya, hal itu bukanlah berarti pemerintah telah gagal. Selama periode itu, eknomi tumbuh, angka pengangguran dan kemiskinan turun. Tapi, selama periode tersebut, diam-diam memang indikator ketimpangn pendapatan memburuk, jumlah absolut pekerja sektor informal malah naik, termasuk PKL, ojek dlsb.

”Mari bantu mereka, kaum dhuafa Indonesia itu dengan cara yang kita bisa. Mungkin kisah teladan kaum pegiat sosial atau kaum dermawan/filantrofi dapat memberikn inspirasi buat kita tiru, misalnya kisah dari prjuangan Hamengkubuwono IX, Romo Mangun, KH Hamam Jafar, Bill Gates, Rockefeller dlsb.”

Darwin menambahkan, buku yang dijual seharga Rp 75 ribu itu sudah bisa didapatkan di Toko Buku Gramedia. ”Insyaallah hasil penjualannya akan mendukung kami menerbitkan buku-buku yang berguna lainnya bagi masyarakat Indonesia. Salam Indonesia,” tulis Darwin, diakhir pesan elektroniknya. (A. Sarinah/DS)

Sumber: http://rri.co.id/index.php/berita/80212/Buku-Potret-Dhuafa-Perekonomian-Indonesia-Kisah-#.Uq-4PtIW1e8

Comments are closed.