Memberdayakan Ekonomi Duafa

Date: 17/12/2013
Sumber: Majalah Gatra edisi 28 November-4 Desember 2013, halaman 56.

Suguhan riil golongan duafa yang tersingkirkan dalam strategi pembangunan Indonesia.
Perlu kebijakan yang terukur dan massif untuk mengangkat ekonomi mereka.

Potret keuletan Ibu Bokin, penjual rujak cingur dari Kota Jombang, Jawa Timur, adalah representasi dari jutaan denyut perekonomian duafa atau rakyat jelata di tanah air. Sabar, berbesar hati, tahan banting, dan tetap konsisten menekuni usaha yang sekedar menghiduppi dirinya dan keluarganya merupakan ciri mereka. Bu Bokin memulai usahanya sejak 29 tahun lalu. Namun, setelah lima tahun barulah ia merasakan buah dari ketekunannya. Orang-orang mulai mengenal dan mengantre rujak cingur racikannya. Padahal sebelumnya, pernah dalam satu hari hanya laku satu bungkus saja. Profil usaha tidak jauh berbeda dengan Ibu Bokin ini tersebar di berbagai sektor usaha informal, dari sesosok nenek penjual koran, seorang penambal ban, pembuat mainan, hingga perajin anyaman.

Nah, Darwin Zahedy Saleh bersama timnya secara riil dan aktual berhasil mengungkap keberagaman dari keuletan sosok-sosok dengan keterbatasannya secara kongkret tidak pernah merepotkan pemerintah. mereka berdikari tanpa banyak menuntut. Sebab secara naluri, mereka memang tidak mau tersingkir dari kehidupan hanya karena harus menanti kucuran modal pihak lain yang tak bakal tiba.

Kalau kita cermati, selama puluhan tahun bahkan hingga kini, hampir tidak ada skema bantuan modal dari institusi keuangan dan strategi kebijakan perekonomian yang terprogram dan massif untuk mengentaskan mereka. atau paling tidak, langkah-langkah kongkret untuk mendorong mereka ke tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Padahal, kontribusi mereka dalam menopang mata rantai perekonomian lokal tidak bisa dinilai remeh. Beruntung, dalam satu dekade ini curahan perhatian kepada mereka justru mulai bermunculan dari sejumlah uluran tangan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility—CSR). Harus diakui bahwa fenomena keduafaan ini dibarengi pula dengan tumbuhnya kepedulian kaum mampu untuk membantu.

Memang kepedulian itulah titik yang paling krusial, yakni tidak membiarkan kaum marjinal tersebut terpuruk tetapi mau menyertai mereka dengan sejumlah bantuan peningkatan usaha. Gugatan terhadap keberadaan sektor informal yang tidak tersentuh oleh strategi pembangunan adalah salah satu nilai plus buku ini. Darwin tidak sekadar mengungkap keberadaan duafa di tegah-tengah berbagai teori pembangunan, pengategorian kemiskinan, dan kontroversi mereka dalam tebaran angka-angka statistik.

Tidak mau berhenti sekadar di tataran kritis, penulis juga membangun kerangka strategi untuk memasukkan duafa dalam kebijakan perekonomian negara dan bantuan golongan berpunya. Secara cermat dan gamblang, misalnya, diungkap sejumlah langkah pembangunan yang masih melahirkan keduafaan. Lalu diulas peran negara dalam membantu duafa serta program yang pro dan anti-duafa.

Bidang pengelolaan keuangan negara atau konfigurasi APBN yang menghilangkan peluang bagi duafa pun tidak luput dari sorotan tajam penulis. Salah arah pengalokasian anggaran negara adalah fenomena yang harus dijawab oleh para pengambil kebijakan di jajaran eksekutif yang disokong oleh legislatif di berbagai tingkatan.
Di antara berbagai kelemahan institusi negara, pemerintahan, publik dalam berpihak pada duafa, Darwin masih sempat menyuguhkan banyak harapan dari aksi kongkret para filantrofis dan program CSR. Bahwa kegiatan CSR adalah bagian integral dari bebrisnis telah dilakukan banyak perusahaan. Mereka mengelola CSR secara terstrategi, terevaluasi, dan profesional.

Kini, berbagai perusahaan besar dan kecil mulai memaknai CSR bukan sebagai paksaan, sebab aksi CSR justru memberi mereka mangaat panjang bagi eksistensi mereka. Sumber daya masyarakat yang sehat, berdaya beli tinggi, peduli lingkungan hidup, dan berpendidikan baik adalah asset masa depan pertumbuhan ekonomi mereka. G.A Guritno

Comments are closed.