Reshuffle Kabinet Demi Kebaikan

Date: 26/10/2011

Sahabat, 1 minggu pasca serah terima saya kepada Pak Jero Wacik, izinkan saya serah terimakan pula beberapa informasi ke tengah masyarakat, tentang ikhtiar kami (bersama para birokrat KESDM yang telah bekerja siang malam) dalam 2 tahun terakhir. Reshuffle tak lain adalah upaya untuk membuat pemerintahan lebih efektif. Karenanya, perlu kita sambut baik dan kita kawal agar berkesinambungan. Karena itu dengan segala kerendahan hati, izinkan kami melapor. Mohon maaf sekiranya kerja kami masih belum tuntas, mengingat pembenahan di sektor ESDM yang multidimensi dan kompleks sering tidak bisa selesai pada 1 masa kerja suatu kabinet, termasuk dalam masa kepemimpinan menteri. Kami haturkan terima kasih bapak/ibu penerima sms yang berkenan mebaca/menyimpan laporan kami. Insyaallah dengan kebersamaan, sikap optimistik dan semangat keberlanjutan, berbagai problem energi dan SDA bangsa dapat kita atasi.

I. PROYEK SUPER STRATEGIS
A. Proyek Natuna, lapangan gas yang berpotensi sangat besar dan perlu dana dan teknologi tinggi, kini sudah hampir selesai, setelah berlarut-larut sejak era Habbie, dan di akhir KIB I timbul ketegangan terkait Natuna, dan mengarah diajukan ke arbitrase oleh Exxon karena perselisihan dengan pemerintah, kini telah bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan smooth. Tahapnya kini adalah proses perundingan B-to-B antara Pertamina dengan para calon mitra.

B. Proyek Masela, lapangan gas super besar di Maluku yang sebelumnya alot, antara skema darat atau lepas pantai karena teknologinya dinilai belum pernah ada di dunia untuk skala tersebut. Kini sudah masuk ke tahap pembuatan floating terminal, setelah skalanya storage-nya diturunkan ke 2,5 MTPA. Pihak-pihak pemda sudah difasilitasi untuk bernegosiasi dengan mitra asing, demi kebersamaan dengan daerah untuk keikutsertaan dalam pembangunan ekonomi.

C. Proyek Lapangan gas besar Mahakam, tempat Total Indonesia beroperasi, berakhir 2017, kini mengerucut ke arah perundingan dengan Pertamina (untuk tahap menuju 2017, adapun pasca 2017 hak pengoperasiannya adalah murni kembali kepada bangsa Indonesia). Pemerintah selalu berprinsip mengedepankan peran Pertamina mewakili bangsa.

D. Proyek LNG Donggi Senoro, potensi gas cukup besar di Sulawesi Tengah, mulai masa KIB I pengembangannya menghadapi permasalahn optimasi antara keekonomian dan pasokan domestik, dan adanya gugatan bisnis ke KPPU kepada Pertamina, saat ini sudah mulai dikembangkan dengan skema optimal berupa kombinasi antara kilang LNG dan pasokan domestik untuk pabrik pupuk dan PLN.

E. Lapangan gas Kepodang, yang pemanfaatannya untuk pemenuhan kebutuhan gas dalam negeri (PLN) sejak 2005 permasalahannya berlarut-larut terkait dengan penetapan status pipa penyalur (skema hulu atau skema hilir), saat ini telah dapat terselesaikan dengan baik dengan penambahan waktu KKS sehingga harga gas di satu sisi dapat menampung keekonomian lapangan gas dan di sisi lain dapat memenuhi upaya efisiensi penggunaan energi mix PLN. Saat ini tinggal menunggu pendapat hukum dari Kejaksaan Agung.

II. INFRASTRUKTUR (Khususnya Migas)
Infrstruktur migas yang sangat mendesak adalah terminal-terminal penampung gas (FSRU), serta pipa transmisi/distribusi gas. Pembangunan FSRU merupakan upaya terobosan infrastruktur gas untuk mempercepat peningkatan pasokan gas domestik, penyelesaiannya membutuhkan sinergi antara Pertamina, PGN dan PLN, serta jaminan pasokan gas/LNG dari KKKS Mahakam. FSRU Jakarta akan diselesaikan akan diselesaikan dalam waktu dekat, diharapkan mulai beroperasi Februari 2012. Ada tiga FSRU (terminal gas) di Sumut, Jakarta dan Jatim sedang diupayakan. Dengan adanya infrastruktur-infrastruktur itu maka gas nasional yang umumnya berasal dari Kalimantan dan Papua dapat dibawa ke Jawa dan Sumatera, tempat 80% penduduk Indonesia berada, sehingga secara teknis gas nasional dapat digunakan untuk pembangkitan listrik dan transportasi umum.

III. PEMBENAHAN SUBSIDI ENERGI AGAR LEBIH TEPAT (BBM & LISTRIK)
A. Upaya mengatasi masalah subsidi listrik yang berjumlah sangat besar (Rp 45 triliun) diatasi dengan mempercepat peningkatan proporsi gas dalam energi primer pembangkitan listrik (yang kini 22% masih berupa BBM, tetapi dari satuan biaya lebih dari 50% biaya bahan bakar pembangkit listrik adalah dari BBM yang kini terlalu mahal), sehingga biaya pokok produksi listrik dapat diturunkan. Itu sebabnya penyelesaian pembangunan infrastruktur migas (lihat butir II di atas) harus tepat waktu. Selain itu, dengan memprcepat selesainya proyek-proyek pembangkit listrik non-BBM (Proyek 10 Ribu MW I) dan pembangkit listrik geothermal yang terkendala aturan-aturan yang kini sedang direvisi.

B. Subsidi BBM masih belum tepat sasaran. Upaya sangat mendesak untuk mengatasi problem itu adalah dengan pengawasan dan penegakan hukum di tingkat distribusinya. Itulah yang sedang ditata dalam Permen ESDM terbaru yang sedang difinalisasi. 89% BBM bersubsidi jatuh ke transportasi darat yang mayoritas mobil pribadi. Selain itu terbukti penyelewengan BBM bersubsidi di provinsi tertentu yang banyak sektor perkebunan, pertambangan dan industri. Karena itu pengawasan peran SBPU dan peningkatan peran pemda dalam distribusi BBM bersubsidi adalah fokus utama. Kerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri baru saja dimulai dan juga dengan POLRI serta menyertakan peran pemda dalam pengawasan distribusi BBM bersubsidi, bukan sebatas dalam meminta kuota BBM bersubsidi untuk daerah masing-masing yang selama ini berlangsung. Permen yang sudah tuntas draftnya itu juga mengatur perencanaan kebutuhan BBM per daerah dan tanggung jawab pemda dalam pengawasan dan distribusi

IV. PENGEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN
Pengembangan energi terbarukan terus diupayakan, khususnya dengan merevisi aturan-aturan yang mengkendalai. UU otonomi daerah dan peraturan terkait lainnya (kehutanan, lingkungn hidup) membuat pengembangan energi terbarukan bersifat multisektor, antara lain karena memerlukan izin pemda dan benturan berbagai kepentingan dan target lintas sektor yang berbeda-beda, sehingga pada tahap masa-masa KIB II ini berbagai aturan terkait yang berbenturan itulah yang sedang dituntaskan. Selain itu, juga mulai dicanangkan upaya strategis mewajibkan perusahaan-perusahaan migas, batubara dan lain sebagainya (non-renewable business) untuk aktif mengembangkan energi terbarukan. Rintisan sudah dilakukan oleh Chevron dalam geothermal dan Adaro dalam pengembangan jarak pagar untuk Bahan Bakar Nabati, yang melibatkan Komatsu untuk berkomitmen membeli solar dari jarak pagar yang ditanam di kawasan revegetasi eks penambangan batubara Adaro.

V. REENGINEERING MASYARAKAT
Dalam tahun 2011 untuk pertama kalinya, KESDM menggencarkan program diversifikasi dan konservasi energi yang diamanahkn UU Energi, melalui program PENYULUHAN ENERGI (meng-copy program PENYULUHAN PERTANIAN yang sukses) dan program ENERGY AWARD (meng-copy program Kalpataru untuk lingkungan) agar masyarakat lebih cepat lagi menggunakan energi alternatif dan lebih hemat energi. Tujuan kedua program tersebut untuk meningkatkan inisiatif masyarakat, dengan memberikan pengakuan, pendidikan dan pelatihan kepada eksponen masyarakat di bidang energi. Selain itu, telah dimulai program TRANSFORMASI SDM di kantong-kantong masyarakat, khususnya dengan mengajak perusahaan migas, batubara dan mineral untuk mendanai pelatihan tenaga-tenaga SLTA agar lebih terampil dan dapat disalurkan di sektor ESDM. Proyek pertama sudah berjalan di pesantren Tebu Ireng serta dipersiapkan untuk pesantren Darul Falah, dan Kempek di Jabar. Program ini bertujuan agar produktivitas sektor ESDM dapat langsung mentransform wajah tenaga kerja Indonesia baik di dalam negeri maupun untuk pasar luar negeri.

VI. PENGAWASAN DAN PEMBINAAN LEMBAGA/BUMN SEKTOR ESDM
Secara rutin, sejalan dengan saran wakil rakyat di Komisi 7, kini setiap bulan fungsi pengawasan terhadap BUMN-BUMN ESDM diupayakan agar lebih banyak dilakukan menteri teknis sektor (KESDM). Hubungn kerja kemitraan legislatif diarahkan langsung dengan kementerian teknisnya. Selain itu, pembinaan terhadap BP Migas (bertanggung jawab untuk aspek hulu migas) dan BPH Migas (hilir migas) juga dilakukan dalam rapat krja bulanan.

VII. PENINGKATAN LIFTING MINYAK & KERJA ANTAR LEMBAGA DI SEKTOR ESDM
Upaya peningkatan lifting sesuai target asumsi APBN pada angka sekitar 950 rb barrel/hari difokuskan kepada aspek yang sangat strategis:
a. Peningkatan kualitas data lapangan migas
b. Pendayagunaan sumur marginal
c. Percepatan Enhance Oil Recovery khususnya di lapangan Chevron Riau (konstributor 30% s/d 40% produksi minyak Indonesia)
d. Percepatan peningkatan skala prduksi minyak Cepu agar dapat mencapai produksi 165 ribu BOPD. Tim Percepatan Peningkatan Produksi Migas terus melakukan kerja intensif. Selain itu dilakukan juga peningkatan efektivitas BP Migas dengan memperkuat jajaran deputi yang berkomitmen pada target pemerintah. Upaya-upaya di atas harus beradu cepat dengan beberapa kendala utama:
     1. kecenderungan laju penurunan alamiah sumur tua (semula 12% per tahun kini sudah dapat diperlambat menjadi skitar 3% per tahun)
     2. perusahaan migas dunia yang cenderung menghindari risiko, dengan lebih aktif pada kegiatan eksploitasi dan tidak pada eksplorasi
     3. permasalahan izin pemda bagi kegiatan operasional migas.

VIII. KOORDINASI INTENSIF DENGAN KEMENTERIAN/LEMBAGA LAIN
Pasca reformasi, tantangan bagi kegiatan ESDM untuk mencapai target bersinggungan dengan berbagai otoritas pemda, ketentuan dan misi kehutanan, lingkungan hidup dan perhubungan. Itu semua mengharuskan kerjasama yang semakin erat dengan lembaga/kementerian lain. Karena itu pasca MOU dengan Kementerian BUMN dan Kementerian Dalam Negeri kini sedang dirumuskan tindak lanjut kerja sama teknis kedua otoritas sektor guna memprcepat tercapainya target migas (lifting dan subsidi BBM yang terkendali, hadirnya listrik geothermal dll).

IX. RENGOSIASI KONTRAK
Tahap pelaksanaan renegosiasi kontrak masih terus dilakukan:
     1. renegosiasi tahap awal, guna menuntaskan yang sudah siap dan menyusun strategi lanjutan bagi yang masih alot.
     2. membentuk TIM NASIONAL RENEGOSIASI KONTRAK (draft sudah tuntas dan dibahas di Setneg).

X. PEMBENAHAN ORGANISASI & SDM
Aspek hard structure maupun soft structure organisasi ESDM secara intensif terus dibenahi. Hard structure berkaitan dengan upaya memprcepat kaderisasi, karena dalam wktu dekat (sejak 2011 terus hingga awal 2013) beberapa eselon I KESDM pensiun dan hal itu baru terjadi kali ini sangat berbarengan: Dirjen Minerba, Drjen EBTKE, Dirjen Mgas, Irjen, Kabalitbang, dan Sekjen). Untuk itu dilakukan peningkatan kualitas soft structure organisasi, khususnya dengan mengkaselerasi wawasan public finance, moneter dan hubungan/posisi hukum KESDM dengan perusahaan-perusahaan internasional. Public finance diperlukan, agar pejabat KESDM meresapi bahwa upaya menjamin pasokan energi, membuatnya mudah didapat dan terjangkau mebawa pengaruh pada aspek keuangan negara untuk aspek penerimaan maupun pengeluaran APBN. Jadi bukan hanya lifting minyak yang penting (berpengaruh pada penerimaan APBN), tapi juga inefisiensi di PLN dan Pertamina, serta belum kuatnya peran BPH Migas dapat berdampak pada pembengkakan subsidi energi (pengeluaran APBN). Wawasan moneter perlu agar insan KESDM memahami dalam membuat kebijakan, serta mengelola aspek availability, accessibility dan affordability energi akan sangat berdampak pada tingkat inflasi bila terjadi perubahan tarif listrik dan peningkatan harga BBM. Wawasan hukum dan norma kontrak internasional prlu agar aparat KESDM dapat brtindak tepat,proprsional dan tdk ragu dalam mngutamakan kpntingan nasional, khususnya gas dan batubara untuk keperluan domestik. Untuk itu telah diadakan kerjasama dengan Bank Indonesia dan membuat program pengayaan wawasan dengan mengundang ahli-ahli Prof. Sumarlin, Dr. Makarim Wibisono, Prof. Priono Tjiptoh, dan lain-lain. Kami haturkan terima kasih bapak/ibu penerima sms yang berkenan membaca/menyimpan laporan kami. Insyaallah dengan kebersamaan, sikap optimistik dan semangat keberlanjutan, berbagai problem energi dan SDA bangsa dapat kita atasi. Salam Indonesia. Darwin Z. Saleh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>