Tim Pengawas Peningkatan Produksi Migas (TP3M)

Genjot Produksi Migas, TP3M Usulkan Buka 8 Lapangan Baru
TAMBANG, 22 Juni 2011 | 20.04

Jakarta – TAMBANG. Wakil Ketua Tim Pengawas Peningkatan Produksi Migas (TP3M) Tutuka Ariadji mengatakan, timnya akan terus akan memonitor upaya peningkatan produksi minyak nasional. Adapun salah satu cara yang diusulkan tim independen ini, ialah dengan membuka lapangan baru.

“Ada delapan blok migas yang perlu dilakukan percepatan pembukaan lapangan barunya. Yaitu Blok Mutiara, Pulau Gading dan Sungai Kenawang, Patapahan, Sepinggan, Kendalian, Beloga, West Madura Offsehore, dan Sukowati,” ujarnya. Hal itu diungkapkan Ariadji saat TP3M menggelar konferensi pers tentang hasil pantauannya, di kantor Kementerian ESDM, Rabu, 22 Juni 2011. Ia berharap usulan tersebut dapat segera direalisasikan. Karena dari kedelapan blok tersebut diperkirakan menghasilkan 5.123 BOPD.

Selain mengusulkan untuk segera melakukan pengembangan lapangan baru demi meningkatkan produksi minyak, TP3M juga akan mengusulkan beberapa rekomendasi lainnya kepada Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh. Adapun rekomendasi yang akan disampaikan kepada Menteri ESDM adalah pertama, perlunya meningkatkan manajemen reservoir. Kedua, perlunya melakukan optimalisasi produksi lapangan, meningkatkan keandalan fasilitas produksi dan sarana penunjang.

Ketiga, mengupayakan peningkatan cadangan melalui kegiatan eksplorasi. Lalu keempat, meingkatkan koordinasi antar instansi pemerintah untuk mendukung operasi hulu migas. “Melalui rekomendasi ini kami berharap kendala-kendala yang dihadapi dalam peningkatan produksi migas dapat diminimalisir,” katanya.

Sumber: http://www.majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=4044


Laporan TP3M Kepada Menteri ESDM
RABU, 24 AGUSTUS 2011, 13:10 WIB

Pada hari ini, Rabu tanggal 24 Agustus 2011, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh menerima laporan pelaksanaan tugas Tim Pengawasan Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi (TP3M). TP3M mencatat produksi minyak dan gas bumi nasional mulai mengalami peningkatan, setelah sejumlah program pemeliharaan fasilitas produksi KKKS diselesaikan pada bulan Juli 2011. Hingga tanggal 22 Agustus 2011, rata-rata produksi bulan Agustus merupakan yang tertinggi selama tahun 2011, yaitu untuk produksi minyak 913 ribu barel per hari (bph) dan produksi gas 9068 MMSCFD. Adapun rata-rata tahun 2011 untuk produksi minyak 905 ribu bph dan produksi gas 8418 MMSCFD. Untuk lebih mendorong peningkatan produksi, TP3M merekomendasikan agar diupayakan percepatan perijinan dan pembebasan lahan pemboran, pengadaan tambahan rig, peralatan dan fasilitas produksi, penyelesaian masalah transportasi minyak, pemboran upside potential serta percepatan implementasi rencana waterflood.

TP3M juga melaporkan pemantauan bahwa WP&B 2011 untuk rencana pemboran 490 sumur pengembangan hingga Juli 2011 di seluruh Indonesia dapat terlaksana, walaupun pencapaian di setiap KKKS berbeda. Pemboran di beberapa KKKS yang memiliki potensi peningkatan produksi yang cukup besar tidak memenuhi rencana. Sedangkan realisasi pemboran sumur eksplorasi hingga Juli 2011, baik di Wilayah Kerja Eksplorasi maupun Wilayah Kerja Produksi, sebanyak 58 sumur atau 33% dari rencana WP&B 2011. Menurut catatan TP3M, kendala yang dihadapi antara lain adalah masalah perijinan dan tumpang tindih lahan, teknis operasi dan ketersediaan data/peralatan, serta kemampuan manajemen KKKS. Khusus untuk sumur pengembangan juga terdapat kendala terbatasnya temuan lapangan baru, sehingga pemboran sebagian besar dilaksanakan pada lapangan yang sudah mature dan memerlukan manajemen reservoir yang semakin kompleks.

Untuk meningkatkan pemboran sumur pengembangan dan eksplorasi, TP3M merekomendasikan upaya untuk mempercepat proses perijinan, memperbaiki strategi pengadaan rig, meningkatkan pemahaman karakteristik dan kinerja reservoir, meningkatkan ketersediaan dan kualitas data subsurface, dan meningkatan pengawasan pelaksanaan komitmen eksplorasi dan pengembangan.

Sumber: http://www.esdm.go.id/siaran-pers/55-siaran-pers/4890-laporan-tp3m-kepada-menteri-esdm.html


Kejar Target Produksi Minyak, Menteri ESDM Bermodal Optimis
Ade Irawan – detikfinance – Rabu, 24/08/2011 15:15 WIB

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh tetap optimis untuk mencapai target lifting minyak sebesar 945 ribu barel per hari (bph). Namun kenyataannya rata-rata lifting minyak sampai Agustus ini hanya 905 ribu barel per hari. “Kita berusaha untuk mencapai itu. Kita evaluasi terus untuk menemukan hambatan apa, kendala apa. Ya sekarang harus tetap optimis,” ujarnya ketika ditemui saat menjenguk Menteri BUMN di RS Medistra, Tebet, Jakarta, Rabu (24/8/2011).

Darwin menambahkan, untuk tahun 2012 mendatang ia juga tetap untuk optimis, walaupun target lifting minyak akan naik menjadi 950 ribu barel per hari. “Kalau dirasa ada hambatan ada kendala kita harus merumuskan bantuan apa yang bisa diberikan pemerintah,” imbuhnya. Sebelumnya Deputi Operasi BP migas yang baru saja dilantik minggu lalu, Rudi Rubiandini menyatakan rata-rata lifting minyak bumi pada tahun ini hanya mencapai 915.000 ribu barel per hari. “Kami menghitung mudah-mudahan mencapai 915 ribu barel rata-rata per hari. Begini 915 ribu itu fakta, 945 ribu itu kan target. Selalu target dan fakta sulit dicapai, kadang turun lebih jauh,” kata Rudi.

Sementara berdasarkan hasil laporan pelaksanaan tugas Tim Pengawasan Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi (TP3M) kepada Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh hari ini, terungkap produksi minyak di Agustus merupakan yang tertinggi selama tahun ini dengan capaian 913 ribu bph. Namun rata-rata produksi tahun 2011 untuk produksi minyak adalah 905 ribu bph.

Sumber: http://finance.detik.com/read/2011/08/24/151553/1710324/1034/kejar-target-produksi-minyak-menteri-esdm-bermodal-optimis


DPR Sepakat Harga Minyak antara 75-95 dollar AS Per Barel
Tribunnews.com – Rabu, 8 Juni 2011 10:01 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) komisi VII menerima usulan Pemerintah terkait harga patokan minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) tahun 2012 antara 75 dollar AS hingga 95 dollar AS Per Barel. Adapun kisaran target produksi siap jual atau lifting migas antara 950-970 barel per hari. Kementerian ESDM merilis kesepakatan ini hasil dari Rapat Kerja membahas penetapan asumsi dasar untuk volume BBM bersubsidi, subsidi BBN dan LPG, lifting minyak dan subsidi listrik, yang dilakukan, Selasa (7/6/2011).

Hadir mewakili Pemerintah, Menteri ESDM Darwin Saleh, Dirjen Migas Evita H. Legowo, Dirjen Kelistrikan, Jarman serta Dirjen Minerba, Thamrin Sihite. Berkenaan dengan asumsi ICP tahun 2012, Menteri menerangkan, dapat dijelaskan proyeksi harga minyak tahun 2012 Masih sulit diduga. Ini terkait dengan ketidakpastian faktor Geopolitik, terutama di Afrika Utara dan Timur Tengah. Menurutnya, berdasarkan pooling diprediksikan harga minyak WTI berkisar antara 60–180 dollar AS per barel (berdasarkan pooling Reuters dan US-DOE). Sementara, harga minyak Brent berkisar antara 75–138,5 dollar AS per barel (berdasarkan pooling Reuters) dan harga minyak Basket OPEC berkisar antara 75–90 dollar AS per barel.

Sementara itu, para analis berpendapat tingginya harga minyak dunia akan menahan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, OPEC juga berkomitmen untuk meningkatkan produksi agar dapat menahan laju kenaikan harga minyak dunia.

“Berkenaan dengan hal-hal tersebut, maka kami mengusulkan asumsi ICP tahun 2012 pada kisaran 75 – 95 dollar AS per barel,”ujar Menteri ESDM.

Sedangkan untuk besaran lifting minyak bumi yang diusulkan Pemerintah yaitu antara 950-90 barel per hari. Perkiraan produksi minyak bumi dilakukan antara lain dengan mempertimbangkan kondisi lapangan-lapangan migas yang ada saat ini dan perkiraan potensi tambahan produksi dari lapangan baru. Optimalisasi produksi minyak dilakukan dengan upaya-upaya, antara lain: Mendorong upaya optimasi produksi pada lapangan eksisting termasuk penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) dengan meningkatkan koordinasi rutin dengan BPMIGAS dan KKKS.

Selain itu, dari sisi regulasi Pemerintah akan menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 6 Tahun 2010 tentang Pedoman Kebijakan Peningkatan Produksi Migas, Membentuk Tim Pengawasan Peningkatan Produksi Migas (TP3M), dan Membentuk Tim Monitoring Fasilitas Produksi dalam rangka untuk mengurangi unplanned shutdown serta meningkatkan efisiensi operasi, dan optimalisasi fasilitas produksi melalui inspeksi rutin. Terkait dengan penambahan tingkat produksi, Dirjen Migas menyatakan, penambahan produksi akan diupayakan dari beberapa lokasi produksi antara lain dari Blok Cepu dan West Madura Offshore.

Sumber: http://www.tribunnews.com/2011/06/08/dpr-sepakat-harga-minyak-antara-75-95-dollar-as-per-barel


KESDM Akan Bentuk Sistem Penilaian Terhadap KKKS Migas
TAMBANG, 24 Agustus 2011 | 14.19

Jakarta – TAMBANG. Juru bicara Tim Pengawasan Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi (TP3M), Kardaya Warnika mengatakan bahwa hingga Juli 2011, realisasi atas rencana pemboran sumur eksplorasi jauh lebih kecil dari target. Menurut laporan TP3M, realisasi baru mencapai angka 33% dari rencana Work Program & Budget (WP&B) 2011 yaitu sebanyak 58 sumur, baik yang terdapat di Wilayah Kerja Eksplorasi maupun Wilayah Kerja Produksi.

Kardaya mengatakan jauhnya pencapaian target tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan finansial perusahaan atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang sudah memiliki izin eksplorasi. “Menurut pantauan kami, ada beberapa perusahaan yang mengalami kesulitan terkait pendanaan, khususnya perusahaan yang masih berada dalam tahap eksplorasi,” ucapnya saat konpers laporan TP3M kepada Menteri ESDM hari ini, Rabu 24 Agustus 2011 di Lobby Gedung Kementerian ESDM. Ia pun mengusulkan agar dilakukan proses seleksi KKKS yang lebih ketat agar perusahaan yang diberi izin benar-benar memiliki kemampuan pengelolaan khususnya secara finansial.

Lebih lanjut hal itu disampaikan pula oleh Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh melalui pernyataan resminya kepada tim TP3M. Disampaikan bahwa untuk mengakomodasi proses seleksi tersebut, perlu dibuat sistem penilaian khusus terhadap calon KKKS Migas. Namun seperti apa sistem penilaian tersebut, juru bicara mengatakan bahwa saat ini masih dilakukan pengkajian. Darwin mengatakan bahwa pembentukan sistem penilaian merupakan bagian dari tindak pengawasan yang dilakukan pemerintah terhadap KKKS Migas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Perlu adanya pengawasan yang lebih ketat baik terhadap lapangan gas yang sudah lama berproduksi maupun yang masih dalam tahap eksplorasi dengan melibatkan instansi terkait. Itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti tidak tercapainya target produksi migas,” ucap Darwin. Sementara itu, menurut catatan TP3M, selain terbatasnya kemampuan manajemen perusahaan secara finansial, kendala yang dihadapi hingga target pemboran sumur tidak tercapai adalah masalah perizinan dan tumpang tindih lahan serta kendala teknis operasi dan ketersediaan data/peralatan. Sedangkan khusus untuk sumur pengembangan, terdapat kendala terbatasnya temuan lapangan baru sehingga pemboran sebagian besar dilaksanakan pada lapangan yang sudah mature dan memerukan manajemen reservoir yang lebih kompleks.

Lebih lanjut untuk meningkatkan pemboran sumur eksplorasi, TP3M merekomendasikan upaya untuk mempercepat proses perizinan, memperbaiki strategi pengadaan rig, meningkatkan pemahaman karakteristik dan kinerja reservoir, meningkatkan ketersediaan dan kualitas data subsurface, dan meningkatkan pelaksanaan komitmen eksplorasi dan pengembangan.

Sumber: http://www.majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=4402


Foto Terkait:

Press Conference TP3M, 22 Juni 2011

Comments are closed.