Nilai-Nilai dan Keteladanan

Date: 17/08/2016
Mempertanyakan Jiwa Kepemimpinan Kita
Sahabat, selamat Hari Merdeka. Mungkin ada baiknya mengenang suatu kejadian penting di balik Proklamasi RI sebagai bekal kita bersama merenung dan berotokritik. Saat naskah Proklamasi akan ditandatangani, Bung Hatta meminta semua tokoh yang hadir bersama menandatangani naskah. Tentu saja, bagi yang tandatangan ada tanggung jawab, sejarah kepeloporan tetapi juga menganga risiko ditangkap penjajah yang tidak rela.
Suasana tegang, tidak ada yang mau, entah takut, entah sungkan. Diingatkan pada waktu itu, bukankah Deklarasi Kemerdekaan Amerika ditantangani semua tokoh yang hadir. Akhirnya, Bung Karno dan Bung Hatta yang didorong dan keduanya siap maju menandatangani atas nama Bangsa Indonesia. Memang benar kedua beliau itu akhirnya ditangkap dan diasingkan di hari-hari kemudian. Kedua beliau itu ada di dalam lembar bersejarah Naskah Proklamasi RI, tidak demikian bagi yang tidak tanda tangan, namanya tidak tertera. Mereka yang lain umumnya memang tidak juga ditangkap. Mungkin, lain Indonesia, lain Amerika. Semoga kejadian tersebut tidak menunjukkan bahwa pada umumnya kita penakut dan cenderung cari selamat, sekalipun ketika sudah menyangkut pengorbanan demi membangun kehidupan bersama. Agaknya bisa kita rasakan bahwa jiwa kepemimpinan dan sanggup ‘pasang badan’ harus meliputi segenap eksponen bangsa, bukan hanya pada satu atau dua orang yang kita dorong untuk memimpin dan kemudian berkorban lahir batin. Selamat Hari Proklamsi RI Saudaraku. Semoga Allah meridhoi bangsa Indonesia.


Date: 12/04/2009
Semangat Juang FDR
Sahabat, ada cerita inspiratif yang Insya Allah menarik. Berasal dari seorang politisi lokal, yang terkena polio sehingga lumpuh, akhirnya FDR atau Franklin Delano Rosevelt, menjadi Presiden AS, memimpin bangsa Amerika melewati masa Great Depression. Tetapi perjuangan kearah kepresidenan sungguh tidak mudah dan tidak direncanakan. Memang hakekat pemimpin adalah memimpin,langkahnya membawa kebaikan. Dalam penderitaan kelumpuhannya, tanpa disengaja FDR mengubah kelemahannya menjadi kekuatan penemuan, sehingga dapat menolong dirinya dan orang lain, berhasil membangun suatu pusat rehabilitasi pertama penyandang polio di dunia di Warm Spring, Georgia, AS. Teknik menggunakan “Efek Pemanasan Lembab” ditemukannya dengan uji coba mengembalikan tenaga yang hilang karena polio, dengan berendam dan berenang di kolam berair magnesium yang bersuhu natural 400C. Kegigihannya itu menginspirasi penderita lain yang berdatangan, kabarnya meluas dan mengundang simpati berbagai pihak. Pada akhirnya Tuhan menakdirkan FDR jadi Presiden AS yang terpilih tiga kali dan memimpin bangsa AS melewati masa Great Depression dan membangun kelas menengah AS menjadi kuat. Masih dengan langkah terseok disangga tongkat dan dipapah, FDR tampil di panggung kompetisi capres (calon presiden) 1926. “Inilah FDR, tinggi, berkeyakinan, seorang pemimpin yang bercahaya karena didera penderitaan.” kata si pembawa acara. Sahabat, pemimpin kiranya adalah figur yang mempunyai orisinalitas perjuangan, membawa kebaikan bagi orang lain, dan tidak perlu memburukkan orang lain. Salam Indonesia.


Date: 04/01/2010
Hormat pada Pahlawan
Sahabat, izinkan saya berbagi cerita. Kolonel Tom, terpanggil untuk mengawal jasad Letnan Chance Phelps, serdadu muda, 20 tahun, Marinir AS yang gugur di Irak. Film “Take Chance” itu tidak lama, kami tonton dari pukul 14.00 – 15.30 hari Minggu ini, namun mengharukan. Kisahnya diambil dari cerita nyata, catatan harian sang Kolonel. Kemasan sang sutradara mengundang haru. Sejak jenazah diturunkan di Washington, dilanjutkan ke New York , terus ke Philadelphia dan jalan darat hingga ke Wyoming, membuat yang menonton menahan nafas. Demikian juga kami (saya, istri dan anak bungsu) terdiam merasakan suasana penghormatan dan ta’ziem warga masyarakat yang kebetulan berpapasan, saat jenazah naik turun pesawat dan diangkut lewat jalan raya. Petugas-petugas di bandara, penumpang pesawat, anak-anak kecil usia 7-9 tahun, pengendara mobil dalam urutan. Semua menunjukkan penghormatan dengan cara masing-masing. Itu bukan soal Amerika atau Iraknya, tetapi kerja telaten sutradara mengemas pengalaman pribadi Sang Kolonel sedemikian sehingga terasa di Amerika Serikat ada suatu rasa kebangsaan, penghormatan, ada peradaban tentang kepejuangan dan harga diri bangsa. Mungkin, bila Anda , sahabat sempat menyaksikan, akan teringat dan timbul hasrat menjunjung Indonesia tempat bumi di mana kita berpijak dan menghargai mereka yang sudah berjasa, saling menghargai sesama warga bangsa. Salam Indonesia, Selamat berhari Minggu.


Date: 15/2/2012
Kebenaran Kontekstual vs Absolut
Sahabat, kemarin, seorang sahabat mengundang kami menyaksikan pentas sendratari wayang “KARNO TANDING”. Hujan gerimis sejak sore hingga malam itu, alhamdulillah bermanfaat. Semangat gigih sahabat saya dan istrinya itu mengharukan, ikut menjaga nilai-nilai budaya, guna menghaluskan rasa seni dalam jiwa bangsa dari generasi ke generasi. Kiranya mereka bekerja karena suatu motivasi, termasuk mempertahankan suatu loyalitas atau kesetiaan dalam meneruskan kebiasaan baik turun temurun. Melalui seni peradaban bangsa kita antara lain terbangun. “KARNO TANDING” adalah suatu fragmen Mahabrata yang sarat dengan tema loyalitas. Bagi yang mengikuti cerita pewayangan, termasuk saya, “KARNO TANDING” adalah fragmen yang menggetarkan hati. Seorang kakak (Adipati Karna,di pihak Kurawa) siap dan tidak ragu berperang dengan adik-adiknya satu Ibu (Arjuna, salah satu dari Pandawa), sekalipun sang Ibu sudah membujuknya agar bergabung dengan adik-adiknya. Tapi Karno tetap memihak Kurawa yang sudah memberinya gelar dan jabatan Adipati, sekalipun ada di pihak yang salah. Secara sederhana, memang Kurawa dikenal sebagai “yang salah” dan Pandawa sebagai “yang benar”. Karno dikenal sebagai perlambang setia pada negara atau setidaknya pada tugas jabatan. Dalam wayang ada “Karno” lain (Kumbo Karno dalam Ramayana) yang juga perlambang kesetiaan pada negara, konon banyak kalangan tentara mengidolakan Kumbo Karno ini (adik Rahwana); tidak menyenangi pola Gunawan Wibisono (juga adik Rahwana) yang justru memihak Rama, pihak “yang benar”, musuh kakaknya. Dalam nilai-nilai Jawa yang pernah diujarkan seorang sahabat pada saya, setidaknya bila merujuk cerita wayang, ada suatu kebenaran kontekstual, dan kebenaran tidak cukup hanya dengan kebenaran absolut (atau kebenaran untuk kebenaran itu sendiri). Sehingga, “walaupun Rahwana salah dan adalah pihak angkara murka tetap aku bela karena aku ‘setia’,” menurut Kumbo Karno. Mungkin kebenaran kontekstual ada indahnya…tapi dalam implementasi dan wujudnya orang berbeda-beda tafsir, bergantung seberapa sempit atau luas kita meletakkan konteksnya. Salam Indonesia.


Date: 2/10/2011
Tetap Harus Dimulai Sekalipun Belum Tentu Selesai
Sahabat, adakah pernyataan berikut terasa mengesankan? Bila iya, mungkin karena kebenaran isinya, atau karena yang menyatakan sudah mendiang….: “All this will not be finished in the first one hundred days. Nor will it be finished in the first one thousand days, nor in the life of this adminstrasion, nor even perhaps in our lifetime on this planet. But let us begin” (cuplikan dari salah satu pidato John F.Kennedy). Pesan moralnya, perjuangan harus dimulai sekalipun seseorang tidak sempat menyelesaikannya. Dalam sejarah tanah air, HOS Cokroaminoto dan kawan-kawan sudah gencar membicarakan kemerdekaan Indonesia sejak dua dekade pertama abad 20. Dari beliau, pemuda Soekarno mendapatkan semangat perjuangan kemerdekaan itu. HOS Cokroaminoto sudah mendiang ketika proklamasi itu dikumandangkan Bung Karno. “…nor even perhaps in our lifetime on this planet. But let us begin.” kata John F.Kennedy yang mati muda. Salam Indonesia.


Date: 01/01/2012
Hikmah Melihat ke Bawah
Sahabat, merasakan kesulitan orang lain insyaallah membuat kita bersyukur dan senantiasa merasa cukup. Sesekali mungkin kita perlu berbagi dan melihat ke bawah. Ada kisah seorang pengusaha super-kaya, menyamar menjadi sukarelawan, di rumah-rumah penampungan anak jalanan, di rumah-rumah singgah bagi pengangguran, dan di keluarga yang putra-putranya mengidap cacat bawaan dan sangat membutuhkan dana. Entah tanpa sengaja riya atau pamer, tapi sekiranya pada Senin malam ini Anda menyaksikannya, mungkin timbul rasa haru dan ingin meneladani pengusaha itu. Kiranya menebar contoh positif dengan niat tulus insyaallah berdampak baik. Tayangan saluran TV BBC Knowledge itu, menceritakan penyamaran Danny Wallis, pengusaha sukses bidang jasa komputer di Australia. Sekalipun, mungkin Danny sudah melaksanakan segala kewajiban pajaknya, tetapi ia tetap membantu lembaga/rumah-rumah sosial itu. Selama ini mereka bergerak secara swadaya. Anggaran pemerintah di negara manapun cenderung tidak cukup untuk menjangkau semua yang sangat membutuhkan. Terlebih di negara-negara yang masih tersandera dengan sangat besarnya subsidi energi bagi yang tidak berhak. Akibatnya, banyak dhuafa yang membutuhkan belum tersentuh. Kedermawanan pengusaha kaya, sekalipun sudah taat pajak, akan membantu menolong banyak lembaga swadaya yang berjalan kembang kempis, dirintis sukarelawan yang lebih bermodalkan semangat dan keikhlasan kepada sesama. Ikhlaskan dan lupakan apapun balasannya, mungkin pahala, atau apa saja…itu urusan Yang Mahakuasa. (Mata Danny Wallis berkaca-kaca saat memberikan…bahagianya tidak terlukiskan…). SELAMAT TAHUN BARU 2012. Salam Indonesia.


Date: 28/10/2012
Mengenang Pemimpin Teladan
Sahabat, melalui pemimpin, Tuhan memberikan pelajaran dan teladan kepada kita. Adalah ia seorang Wapres RI, intelektual sejati, giat belajar dan berorgnisasi sejak dini, penganut agama yg patuh dan penuh toleransi, hingga akhirnya menjadi pribadi yang disegani di benua Eropa dan Asia sejak usia muda. Dedikasi berorganisasinya dimulai dengan mengurus keuangan, Sebagai bendahari perkumpulan sepakbola sekolah (usia 14 tahun), bendahari Jong Sumatranen Bond/JSB cabang Padang (16 tahun), JSB Pusat (19 tahun), hingga menjadi andalan Indische Vereeniging (perhimpunan pelajar nusantara di Belanda), lagi-lagi sebagai bendahari (20 tahun). Dipahaminya benar bahwa perjuangan suatu perkumpulan atau organisasi sangat bergantung kepada dedikasi dan iuran anggota sebagai tanda kesetiaan dan keterpanggilan jiwa. Selain itu juga dari donasi tetap pemuka masyarakat yg simpati dan derma sesekali dalam acara-acara tertentu. Strategi sistematiknya antara lain dengan  menghadap kepada orang tua dan pemuka gigih dilakukan, siasat membangun simpati dengan gagasan perjuangan yg jernih, maka dana halal bagi organisasi dapat dihimpun hingga berlebih. Memang harus dijaga harkat orgnisasi atau partai dengan cara-cara yg baik. Dengan ide perjuangan yang mengundang simpati, ada saja donasi yg mengalir. Silih berganti tokoh lebih tua atau seusia menjadi ketua, mulai dari Bahder Johan, Nazir Pamontjak, Hermen hingga Soekisman. Sambil terus kuliah, mengasah diri dalam ilmu ekonomi hingga tingkat doktoral, ia ikhlas menjadi orang lapis ke 3 atau ke 4 saja dalam kepengurusan, Barulah akhirnya ia didesak menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia (24 tahun). Teman-temannya itu memang menjadi tokoh di Indonesia merdeka kemudian, tapi adalah ia yang akhirnya menjadi Wapres RI. Bung Hatta, sang intelektual cerdas dan panutan itu, yang kesohor perjuangannya untuk Indonesia merdeka, akhirnya pulang ke tanah air (tahun 1932), setelah 11 tahun dirantau, bertemu dan bekerja sama dengan pejuang teladan yang juga sangat tersohor, Bung Karno. Sungguh berkelas kadar kepimpinan, kecerdasan dan sejarah perjuangan pemimpin Indonesia saat itu. Semoga ke depan terus meningkat bukannya turun kualitas. Selamat Hari Sumpah Pemuda sahabat. Salam Indonesia.


Date: 29/12/2012
Apresiasi Terhadap Seniman dan Karyanya
Sahabat, sambil berlibur di akhir tahun 2012 ini mari berbagi kabar seni untuk memperhalus perasaan. Bersikap hormat kepada orang tua, termasuk seniman tua, kiranya adalah sikap mulia. Di Washington, awal Desember kemarin, ada malam penganugerahan lifelong achievement seni oleh Kennedy Center Honors. Penghargaan ke-35 kali ini didapat aktor Dustin Hofman, komedian David Letterman, band Led Zeppelin, gitaris legendaris blues Buddy Guy dll. Mata tua tokoh-tokoh sepuh itu berkaca-kaca saat melihat kilas balik perjalanannya dan persembahan generasi penerus di bidang masing-masing. Menyaksikan acara penganugerahan itu terasakan betapa bangsa Amerika berupaya merawat hasil perjalanan bersama. Acara demikian bisa menghidupkan kenangan manis dalam membangun peradaban bersama. Kehidupan berbangsa jadi tidak hanya berdebat, lontar fitnah dan ghibah. Seniman-seniman itu telah berjasa menghibur, menggoreskan kenangan di masanya. Di Indonesia, ada Titiek Puspa, Ireng Maulana, Koesplus, Panbers dll. Dulu ada Sam Saimun, Said Effendi, Bing Slamet, Gesang dll. Beliau-beliau itu sudah mengisi hidup kita dulu. Di AS, Presiden dan first lady pun tak luput merasakan pengaruh para seniman itu, terlihat ketika Obama dan Michele asyik mengayunkan badan mendengar musik lawas itu dimainkan. Di Indonesia, bila mendengar lagu-lagu presiden SBY atau saat bernyanyi, jelas beliau terpengaruh gaya musik pop KoesPlus atau Mercy’s. Kita bisa menggali dan membandingkan bagaimana di Indonesia atau di negara lain. Bagaimana kabar sahabat-sahabat hati kita itu. Benny Panjaitan sudah terkena stroke dan berkursi roda ketika sempat singgah di kediaman kami. Mus Mulyadi saya dengar tidak lagi bisa melihat karena sakit gula. Bagaimana Bimbo atau Eddy Silitonga dll? Bagaimana di Indonesia? Yang jelas, the Habibie Center fokus pada penghargaan pada dunia kecendekiaan (karya ilmiah dan beasiswa). Ke depan, entah “mantan president center” yg mana di Indonesia yg akan beri penghargaan dan perhatian untuk seni. Selamat menyongsong tahun 2013. Salam Indonesia.


Date: 3/3/2013
Penawar Racun Ada di Lubuk Terdalam
Sahabat, alhamdulillah hari Minggu pagi ini cerah di banyak tempat. Ada cerita menarik yg dapatlah kita berbagi. Seorang kolonel ikut mancing ikan mendampingi atasannya, tapi malang si kolonel salah pegang ikan lele laut yg dipancingnya, karena memegang ikan tersebut di patilnya. Tak lama kemudian tubuhnya panas dingin, terkena racun lele laut itu. “Mana ikan yg mematil itu?” tanya sang atasan dengan penuh empati. “..yang itu Pak,” jawab si kolonel. Dengan tenang, memakai pisau pribadinya, sang atasan membedah lele laut itu, mengambil empedunya untuk kemudian dioleskan pada luka si kolonel. Hasilnya mujarab, si kolonel berangsur pulih dan segar kembali. Patil ikan adalah alat bela diri saat ia merasa terancam, tetapi ternyata Tuhan memberikan penawarnya dalam empedu yang letaknya di bagian terdalam ikan tersebut. Mungkin, rasa empati kepada mereka yang sedang menderita, dibarengi dengan kecekatan mendapatkan “penawar” di suatu lubuk terdalam, kiranya akan mengobati rasa sakit pada luka. Kisah menarik itu adalah tentang Kolonel Hasan ketika mendampingi Pak Harto memancing ikan di laut. “Pak Harto: The Untold Stories” adalah buku yang bagus dan bila dibaca kiranya dapat memperhalus akal budi serta mendekatkan hati kepada beliau-beliau yang pernah berjasa dan sudah tidak bersama kita. Salam Indonesia.


Date: 12/3/2013
Bersama Menggalang Kekuatan Bangsa
Salam Indonesia… Kiranya kekuatan bangsa ada pada kemampuannya mengurus diri, termasuk mengorganisasikan segala daya dan cita-cita luhur melalui suatu partai. Adakah Partai Demokrat, yang sempat menjadi yang terbesar, telah tumbuh karena faktor sosok-sosok pribadi tertentu dengan sendirinya? Atau karena Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa sekali waktu meridhoi dan menitipkan roh kemulian-Nya? Sehabis subuh pagi ini, seusai membuka-buka buku sejarah Partai Demokrat, kami menelepon seorang pelaku sejarah pendirian Partai Demokrat menyampaikan suara orang bawah. “Bang, tolong bersama perintis dan pendiri terus dampingi SBY, agar PD insya Allah bangkit dan diridhoi-Nya,” usul kami, kepada seorang sahabat yang humoris namun tidak sedikit sumbangannya sejak awal sekali saat Partai Demokrat lahir. “Tidak setiap orang yg mendirikan partai lantas bisa besar. Pak TS dan Pak ES yang juga pribadi utama dan teladan tidak lantas partainya pernah sebesar Partai Demokrat. Maka pada hakekatnya Partai Demokrat pernah besar karena terpilih dan diridhoi untuk jadi besar, bukan karena faktor orang seorang. Tetapi kerja banyak orang,” lanjut kami. Maka berikan masukan dan dampingi Pak SBY untuk kita kembali membesarkan partai kita, mencari ridho-Nya dengan berlaku rendah hati dan melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya. Vox Vopuli Vox Dei, suara rakyat suara Tuhan. Salam Demokrat untuk Salam Indonesia.


Date: 14/04/2013
Berterimakasihlah Kepada Bumi Tempat Berpijak
Sahabat, selamat berhari Minggu. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Saat membuka-buka internet, terbaca berita tidak baru tapi mengusik: PS, salah satu 10 besar konglomerat terkaya Indonesia, memberi hibah $20,5 juta kepada Universitas Harvard, sumbangan ke-5 terbesar dalam 74 tahun terakhir yang diterima mereka. Aneh dan membuat penasaran apa motifnya, demikian diulas Boston.com dan Al-terity.blogspot.com, karena kok tidak ditujukan ke suatu universitas di Indonesia, dan lagi pula sangat sedikit mahasiswa Indonesia di Harvard. Bandingkan ceritanya dengan Karel Bosscha, pengusaha Belanda yang kaya di kawasan Pengalengan tahun 1920-an, yang memang hidup dan kaya karena tanah Periangan, Jawa Barat, hingga kini harum karena memakmurkan rakyat setempat, membangun jalan, sekolah, mendirikan satu-satunya teropong bintang di Lembang dan menggagas berdirinya kampus ITB. Mungkin PS memiliki sejarah kepengusahaan yang membuatnya perlu berterimakasih pada langit di Massachusetts sana, tapi tidak demikian sejarah kepengusahaannya yang terbaca di ruang publik, karena bisnisnya asli tumbuh dan menggarap alam Indonesia. Apa manfaatnya bagi Indonesia? Berita terbaru menunjukkan ada sejumlah Bupati dan 2 Kolonel Kemenhan RI difasilitasi belajar 2 s/d 3 minggu ke Harvard. Syukurlah meski sangat belum sebanding dengan dana hasil alam Indonesia yang disumbangkan ke Harvard itu. Mungkin akan lebih bermanfaat bila dana itu digunakan untuk mengefektifkan Balai Latihan Kerja (BLK) di sejumlah kota di negeri sendiri, guna membekali TKI kita ke Luar Negeri agar lebih tinggi kualifikasinya dan tidak lagi disiksa majikan. PS mungkin tidak tahu yang sebaiknya seharusnya seperti apa. Mungkin orang-orang seperti dia perlu dibimbing seperti Pak Harto membukakan mata sejumlah konglomerat di Tapos dulu. “…. saya tidak jadi ambil program doktor di Harvard, Pa, walaupun mereka beri beasiswa,” kata seorang pemuda yg kebetulan saya kenal sejak dulu. Ia anak Indonesia, insyaallah segera lulus dari MIT, yang baru-baru ini diterima program doktor di sejumlah universitas terkemuka AS, termasuk Harvard. Sedikit anak Indonesia sekolah di Harvard, ada yang susah masuk, tapi ada yang malah tidak mau masuk. Menerima sumbangan yang salah, terlalu banyak koneksi, membuat image Harvard terdistorsi? Salam Indonesia.

Date: 20/05/2013
Negara Harus Menjangkau Seluruh Rakyat
Sahabat, terbayangkah oleh kita ini yang hidup rutin di kota besar, dekat dengan pusat kekuasaan, bersilang pendapat dari hari ke hari, ada anak-anak muda menjalankan tugas negara nun jauh di sana? Ada kisah seorang dokter muda. Sedemikian jauhnya jarak desa tempatnya mengabdi,di Pulau Kisar (selatan Maluku Tenggara), harus ditempuh dengan kapal motor hampir 7 hari 7 malam dari Tual, kota kabupaten terdekat. Sedemikian kuat panggilan kebangsaan itu, sehingga dr.Dianingsih, yang masih belia terus bertahan dengan tugas mengimunisasi balita di pulau itu, walau akhirnya dokter muda itu sendiri jatuh sakit, akibat medan sedemikian berat. Kesehatannya terus merosot, dan meninggal dalam tugas, sesaat ketika ayah-bundanya menjemput. Baginya, bangsa Indonesia meliputi hingga mereka yang tidak terpetakan, jarang terbahaskan di media, di desa-desa sangat terpencil juga, walau sulit karena prasarana pemerintah tidak menjangkaunya (sumber: kisah pilu catatan P.Swantoro, Wartawan senior Kompas). Sedemikian luasnya negeri kita, sehingga memang belum bersatu fisiknya bila infrastruktur transportasi, energi dan lain-lain belum terbangun. Tidak mungkin akan ada prasarana fisik terbangun dengan memadai kalau akal sehat kita belum juga tergunakan, mengingat uang negara yang kita bakar lewat subsidi BBM hingga mencapai Rp 216 triliun (2012), 1,3X lebih besar dari anggaran belanja modal pemerintah membangun berbagai prasarana fisik di tanah air. Karenanya, keadilan belum menyentuh jutaan rakyat, sehingga sekalipun harga BBM bersubsidi Rp 4.500; tetapi di Papua, wilayah Indonesia juga, mencapai Rp 9.000. Sedemikian terlenanya kita, sehingga tidak sadar juga amanah UU bahwa subsidi itu hak golongan tidak mampu. Ada 67% pekerja kita yang hanya berpendidikan maksimal SMP, mereka itulah yang tidak mampu, bukan kita. Bersama kita biarkan subsidi tidak tepat sasaran selama ini. Sekalipun Bank Dunia dan para peneliti sudah memperingatkannya. Karena itu jangan lagi pucuk pimpinan pemerintahan bimbang dalam meluruskan kebijakan anggaran negara yang salah arah. Demi akal sehat dan kaum dhuafa yang tidak mampu membela dirinya di pelosok-pelosok Indonesia, demi pejuang negara yang berkorban dan tidak didukung sarana memadai, kita harus dukung pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Selamat hari kebangkitan nasional untuk kita semua. Salam Indonesia.

Date: 28/04/2014
Selamat Jalan, Idris Sardi
Sahabat, seorang sahabat sepuh, seniman senior Indonesia berpulang. Rasa kehilangan kiranya meliputi kita semua. Innalillahi… Dengan biolanya, 20 Mei 2011, dengan penuh dedikasi memainkan lagu Indonesia Raya di hadapan keluarga besar sektor ESDM. Esoknya,beliau minta bertemu langsung dengan menteri ESDM, lalu menyampaikan permohonan maaf karena risau, merasa tidak sempurna memainkan lagu kebangsaan kita itu. Seserius itu Idris Sardi dengan profesionalismenya menghormati Indonesia Raya. Ketika berjumpa menteri, beliau tidak minta apa-apa, malah berkenan berbagi kisah saat kami menanyakan pengalaman uniknya berjumpa Ismail Marzuki atau Bung Karno. Sayang, Idris Sardi, sang maestro musik biola Indonesia, belum berkesempatan menyaksikan berdirinya Museum Musik Indonesia, yang masih juga susah payah dirintis teman-temannya dan sudah mendapat perhatian Pak SBY…Selamat jalan sahabat sepuh. Terimakasih sudah sempat bertemu. Salam Indonesia

Date: 15/06/2014
Pesan Moral dari Film Guarding Tess
Sahabat, apa kabar di hari minggu basah ini? Jelang Pilpres ini, ada film berjudul Guarding Tess, sedang sering tayang di layar TV, mengharukan! Film itu relevan dengan kita, karena insya Allah, kita segera akan iringi presiden dan ibu negara (IBN) baru masuk istana dengan tampak wajah; sebaliknya mengiringi presiden dan IBN lama pergi tampak punggung. Di film itu, sang mantan IBN (former first lady) digambarkan dalam keseharian, dikawal dengan telaten dan berdedikasi oleh ajudannya, melalui hari-hari bahaya yang tetap saja mengintai, sekalipun mantan. Sungguh terasa suka-duka dan sepi menyertai beliau itu. Suasana manusiawi kian terasa, ketika mantan IBN itu berpesan kepada Presiden yang sedang memerintah (kendati tidak pasti entah didengar atau tidak), mohon agar sepeninggalnya, ajudan dan orang-orang terdekatnya diperhatikan, karena “he saved my life, he is like my child”. Mungkin dengan setiap insan bangsa Indonesia berlaku baik dan hormat kepada “orang tua” dan menyayangi “anak-anak” nya, Allah ridho dan memberkahi kita semua. Rasa kekeluargaan dan sambung-rasa hati ke hati akan lebih hangat dan hidup, adapun aturan-aturan relatif dingin dan memang tidak bernafas. Allah Mahatahu dan Mahamengatur. Terima kasih dan hormat ta’ziem kita semua pada para pemimpin bangsa kita. Salam Indonesia.

Comments are closed.