Otomotif, Modus Transportasi dan Inefisiensi Energi

Menteri ESDM: transportasi massal solusi kurangi BBM
Rabu, 21 September 2011 08:59 WIB

Jakarta (ANTARA News) – Menteri ESDM Darwin Saleh mengungkapkan, pengembangan transportasi masal merupakan salah satu solusi mengurangi pemakaian bahan bakar minyak.

“Substansi strategis itu berhasil Indonesia masukkan dalam pertemuan ASEAN+3,” katanya dalam pesan singkatnya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Darwin tengah mengikuti Pertemuan Menteri-Menteri Energi ASEAN ke-29 dan dilanjutkan Forum ASEAN+3 yang mempertemukan 10 anggota negara ASEAN ditambah tiga mitra dialog yakni China, Jepang, dan Korea Selatan di Brunei Darussalam sejak Selasa (20/9).

Setelah Forum ASEAN+3 akan dilanjutkan pertemuan yang lebih luas yakni East Asia Summit yang melibatkan AS, India, Rusia, Australia, dan Selandia Baru. Tugas Darwin di dalam negeri untuk sementara dipegang Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Menurut Darwin, dalam pernyataan bersama ASEAN+3, Indonesia berhasil memasukkan substansi yang kurang mendapat perhatian, sekalipun sangat penting dan strategis untuk mencapai target mengatasi masalah perubahan iklim maupun mempercepat pemakaian energi terbarukan.

“Substansi itu adalah menekankan pentingnya peningkatan kerja sama investasi di bidang pengembangan transportasi masal, guna mengatasi kecendrungan peningkatan produksi dan penjualan kendaraan bermotor,” katanya.

Menurut dia, apabila substansi tersebut tidak mendapatkan perhatian, maka dampaknya memperbesar subsidi BBM atau energi, menghambat tumbuhnya energi terbarukan, dan menambah masalah emisi global.

Ia melanjutkan, problem subsidi BBM sangat membebani negara berkembang yang berpenduduk besar dan masih terus tumbuh, namun cenderung abai dalam pengaturan industri otomotifnya.

Pengembangan transportasi masal berperan sentral dalam mengatasi maraknya kendaraan pribadi, sehingga pada gilirannya akan ikut mengurangi emisi karbon, menurunkan subsidi BBM, dan meningkatkan kemampuan anggaran negara.

“Dengan anggaran negara yang semakin kuat, akan dapat dibangun lebih banyak infrastruktur energi,” katanya. (ANT) – Editor: AA Ariwibowo

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/1316570360/menteri-esdm-transportasi-massal-solusi-kurangi-bbm


Transportasi Massal Solusi Krisis BBM
Wednesday, 21 September 2011 17:22

Jakarta – Menteri ESDM Darwin Saleh mengungkapkan, pengembangan transportasi massal merupakan salah satu solusi mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM). “Substansi strategis itu berhasil Indonesia masukkan dalam pertemuan ASEAN+3,” katanya, dalam pesan singkatnya, yang diterima di Jakarta, Rabu (21/9).

Darwin sedang mengikuti Pertemuan Menteri-Menteri Energi ASEAN ke-29 dan dilanjutkan Forum ASEAN+3 yang mempertemukan 10 anggota negara ASEAN ditambah tiga mitra dialog, yakni China, Jepang, dan Korea Selatan, di Brunei Darussalam sejak Selasa (20/9). Setelah Forum ASEAN+3 akan dilanjutkan pertemuan yang lebih luas yakni East Asia Summit yang melibatkan AS, India, Rusia, Australia, dan Selandia Baru. Tugas Darwin di dalam negeri untuk sementara dipegang Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Menurut Darwin, dalam pernyataan bersama ASEAN+3, Indonesia berhasil memasukkan substansi yang kurang mendapat perhatian, sekalipun sangat penting dan strategis untuk mencapai target mengatasi masalah perubahan iklim maupun mempercepat pemakaian energi terbarukan. “Substansi itu adalah menekankan pentingnya peningkatan kerja sama investasi di bidang pengembangan transportasi masal, guna mengatasi kecendrungan peningkatan produksi dan penjualan kendaraan bermotor,” katanya.

Menurut dia, apabila substansi tersebut tidak mendapatkan perhatian, maka dampaknya memperbesar subsidi BBM atau energi, menghambat tumbuhnya energi terbarukan, dan menambah masalah emisi global. Ia melanjutkan, problem subsidi BBM sangat membebani negara berkembang yang berpenduduk besar dan masih terus tumbuh, namun cenderung abai dalam pengaturan industri otomotifnya.

Pengembangan transportasi masal berperan sentral dalam mengatasi maraknya kendaraan pribadi, sehingga pada gilirannya akan ikut mengurangi emisi karbon, menurunkan subsidi BBM, dan meningkatkan kemampuan anggaran negara. “Dengan anggaran negara yang semakin kuat, akan dapat dibangun lebih banyak infrastruktur energi,” katanya. [TMA, Ant]

Sumber: http://www.gatra.com/terpopuler/46-ekonomi/2819-transportasi-massal-solusi-krisis-bbm


Menteri ESDM Minta Produsen Otomotif Kurangi Produksi
Senin, 19-09-2011 | 13:51 WIB

JAKARTA, batamtoday – Indonesia mengakui tengah menghadapi masalah soal tingginya anggaran subsidi energi khususnya subsidi BBM. Karena itu Indonesia memnta negara anggota APEC terutama produsen otomotif untuk mengurangi produksi dan pemasaran produknya di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh terkait penyampaiannya dalam forum APEC yang berakhir Rabu 14 September 2011 lalu di San Fransisco, AS.

“Indonesia mengajak agar anggota APEC, khsusnya yang maju industri otomotifnya, lebih memfokuskan kerjasama transportasi massal dan memperlambat atau membatasi peningkatan pemasaran dan produksi otomotifnya di Indonesia,” kata Darwin dalam pesan singkatnya yang dikutip dari detik Finance, Senin (19/9/2011). Darwin mengatakan, banyak yang sedang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menekan angka subsidi BBM, seperti dengan mempercepat pembangunan sejumlah pembangkit listrik non BBM dalam proyek 10 ribu megawatt (MW), dan meningkatkan program transportasi massal di ibukota.

Dalam pertemuan APEC tersebut, dikatakan Darwin, agenda difokuskan untuk menyoroti sektor energi dan trasportasi yang berkaitan dengan perubahan iklim yang terjadi di dunia. Karena itu isu-isu pokok untuk mempercepat hadirnya sumber energi terbarukan, pengembangan teknologi transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan serta isu subsidi BBM sangat mendapat perhatian. Konferensi ini dihadiri delegasi 21 negara Asia-Pasifik dan kalangan usahawan bidang otomotif seperti Jepang dan AS.

“Mengingat anggota APEC sangat berbeda-beda latar belakang dn kondisi sosial-ekonominya, maka kerjasama peningkatan teknologi dan efisiensi antar negara APEC menjadi efektif bila telah dicapai taraf yang relatif sama (level playing field) untuk aspek tertentu khususnya tranportasi,” kata Darwin. Kemudian menurutnya perlu kerjasama antar negara APEC yang secara khusus mempercepat hadirnya transportasi massal di negara-negara APEC yang berpenduduk besar dan pendapatan masyarakatnya meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonominya yang tinggi.

Tanpa adanya kerjasama yang cepat untuk penyediaan transportasi massal yang baik, maka kendaraan pribadi makin marak dan bakal mendorong makin besarnya penggunaan BBM subsidi. “Pertemuan pemimpin-pemimpin negara G20 di Pittsburg beberapa tahun lalu menggarisbawahi bahwa ketergantungan pada BBM dan besarnya subsidi BBM cenderung semakin mengendalai tumbuhnya sumber-sumber energi terbarukan, dan juga berdampak negatif pada climate change serta membatasi ruang gerak negara meningkatkan keadilan energi,” tukas Darwin.

Dalam pertemuan APEC itu, Darwin juga melakukan pertemuan secara bilateral dengan Menteri Energi AS dan Menteri Energi New Zealand. Pembicaraan ditekankan pada kerjasama lebih jauh untuk proyek-proyek listrik geothermal, termasuk meningkatkan capacity building untuk pegawai-pegawai dan SDM di tingkat pemerintahan pusat maupun daerah.

Sumber: http://www.neraca.co.id/2011/10/05/menperin-bakal-genjot-produksi-otomotif/


Mobil Keluaran 2005 ke Atas Dilarang Minum Bensin Premium
Posted by Wahyu Lazuwardi on July 16, 2010

JAKARTA (DP) — Pemerintah akan segera memberlakukan pembatasan penggunaan bensin Premium. Mobil keluaran tahun 2005 ke atas akan dilarang menggunakan bensin Premium. Pembatasan disebabkan meroketnya beban subsidi pemerintah belakangan ini.

“Jadi, saya kira untuk keluaran tahun 2005 tidak butuh subsidi lagi,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedi Saleh, hari ini (16/7), seperti dilansir Kompas.com. Para pemilik mobil keluaran terbaru dianggap oleh pemerintah memiliki kemampuan ekonomi lebih baik sehingga tidak perlu mendapat subsidi lagi.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) memperkirakan konsumsi BBM subsidi tahun 2010 akan mencapai 40,1 juta kiloliter atau sekitar 10 persen di atas kuota. Pembatasan akan diterapkan Pemerintah karena realisasi rata-rata penyaluran BBM bersubsidi pada 2010 sudah melebihi kuota yang ditetapkan yaitu antara enam hingga sembilan persen. Dalam APBN, volume BBM bersubsidi pada tahun ini ditetapkan sebesar 36.504.775 kiloliter (KL). Jika tidak dikendalikan, volumenya diperkirakan dapat membengkak mencapai 40,1 juta kiloliter.

Sumber: http://www.dapurpacu.com/mobil-keluaran-2005-ke-atas-dilarang-minum-bensin-premium/


Menteri ESDM Harapkan Sektor Industri Otomotif Batasi Diri
Oleh : Andi Sarinah – Rabu , 05 Oktober 2011 11:59:39

KBRN, Jakarta: Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh mengharapkan agar sektor industri otomotif dan transportasi lebih membatasi diri demi kepentingan yang lebih luas. Terkait hal itu, Menteri ESDM menegaskan akan memperjuangkan Undang-Undang (UU) Energi dan mendorong kebijakan yang arief menata transportasi, serta industri otomotif.

“UU Energi mengamanahkan kita mengelola aspek demand energy, bukan hanya terpaku pada supply energi, yang tidak pernah cukup bila permintaannya terus melesat dengan tidak perlu,” ungkapnya melalui pesan singkat, Rabu (5/10).

Menteri ESDM mengakui memperjuangkan yang benar itu selalu berat, di manapun itu. Diceritakannya, Fran Pavley (legislator di California dari Partai Demokrat), dengan gigih merintis UU terkait pengurangan emisi gas rumah kaca dari kendaraan dan goal tahun 2002.

Sebelumnya, California sempat sangat berpolusi karena gaya hidup berkendaraan pribadi dan polusi pabrik. Sejak tahun 1930-an, populasi kendaraan membengkak hingga 2 juta, atau lebih dari 1 kendaraan untuk tiap 3 orang. Parahnya, polusi tercatat di LA 1943 orang hanya bisa melihat 3 blok (500 mter) ke depan, mata pedih, orang-orang terbatuk-batuk di jalan. Walhasil, itulah negara bagian dengan jumlah penduduk, mobil, konsumsi enerji dan emisi karbon terbesar dibanding bangsa dan negara bagian lain.

Kini, lanjut Menteri ESDM, berkat perjuangan Pavley, legislator prempuan, California dikenal sebagai pelopor dalam enerji dan lingkungan bersih. California lebih bersih berkat perjuangan yang gigih dan mengedepankan kepentingan lebih luas dan jangka panjang dibandingkan kepentingan mikro perusahaan yang cenderung sempit dan tidak perduli dampak jangka panjang.

Diungkapkannya, sebelum berhasil, perlawanan kaum industri otomotif sangat alot. Berbagai cara dan siasat digalang industriawan mobil untuk menentang the Pavley Act itu. Mereka bilang UU baru itu bertentangan dengan kehendak pasar, yakni mengharuskn pabrik mobil menjual produk yang tidak diinginkan konsumen, bahkan harganya bisa jadi lebih mahal, dan lain sebagainya.

Terkait persoalan yang dihadapi Indonesia, khususnya di Jakarta yang mobil dan motornya jutaan, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh menegaskan harus ada perjuangan semua pihak untuk meng-goal-kan UU dan kebijakan yang arief menata transportasi, serta industri otomotif.

“Saya ingat, seorang legislator kita, sdr. ES sahabat kita di Komisi 7, mengatakan harus diperjuangkan prinsip lex specialis, sehingga concern sektor enerji harus didengar, sehingga industri otomotif dan transportasi lebih membatasi diri, demi kepentingan yang lebih luas (concern lingkungan dan subsidi enerji yang lebih tepat),” tandas Menteri ESDM dalam pesan singkatnya. (DS/A.Sarinah/HF). (Editor : Heri Firmansyah)

http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/1662#.UBEJTGGO01M


Menteri ESDM Ngotot Minta Industri Otomotif Tahan Produksi
Wahyu Daniel – detikOto – Rabu, 05/10/2011 12:59 WIB

Jakarta – Tingginya produksi kendaraan bermotor oleh industri otomotif dituding menjadi biang kerok besarnya permintaan energi di dunia dan pencemaran udara. Sudah saatnya industri otomotif menahan produksinya. Menurut Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh di Indonesia khususnya Jakarta, jumlah mobil dan motor sudah jutaan memadati jalanan. “Harus ada perjuangan meng-goal-kan UU dan kebijakan yang arif menata transportasi, serta industri otomotif,” jelas Darwin kepada detikOto, Rabu (5/10/2011).

Menurutnya, perhatian yang besar terhadap sektor energi saat ini harus didengar pelaku industri otomotif untuk lebih membatasi dirinya demi kepentingan yang lebih luas dari sekedar bisnis semata. “Perjuangan itu ada di Indonesia, dan UU Energi mengamanahkan kita mengelola aspek demand energy (permintaan). Bukan hanya terpaku pada supply (pasokan) energy yang tidak pernah cukup bila permintaannya terus melesat dengan tidak perlu,” tukas Darwin.

Darwin mengungkapkan dirinya juga belajar dari pemerintah negara bagian California di AS yang mampu mengurangi populasi kendaraan di wilayahnya. “California sempat sangat berpolusi karena gaya hidup berkendaraan pribadi, polusi pabrik. Sejak 1930-an, populasi kendaraan membengkak hingga 2 juta, atau lebih dari 1 kendaraan untuk tiap 3 orang,” katanya. Akhirnya seorang legislator di California memperjuangkan melawan kebijakan energi dan lingkungan bersih. Hal ini sempat menimbulkan perlawanan dari industri otomotif dengan berbagai cara dan siasat.

“Kini California lebih bersih berkat perjuangan yang gigih dan mengedepankan kepentingan lebih luas dan jangka panjang. Kepentingan mikro perusahaan cenderung sempit tidak peduli dampak jangka panjang,” tukas Darwin. Omongan Darwin ini sebenarnya sudah ditanggapi oleh industri otomotif. Agak rumit memang, energi makin menyusut namun di sisi lain, industri otomotif diminta pemerintah untuk menaikkan produksi dan kapasitas pabrik agar angka tenaga kerja meningkat dan pendapatan negara dari pajak yang disetorkan sektor ini cukup tinggi. Bahkan Grup Astra pernah melaporkan menyetor pajak sampai Rp 50 triliun dari angka penjualan mobil yang diproduksi pada tahun 2010 lalu.

Sumber: http://oto.detik.com/read/2011/10/05/125950/1737254/1218/menteri-esdm-ngotot-minta-industri-otomotif-tahan-produksi


MS Hidayat akan Terus Genjot Produksi Otomotif
Suhendra – detikfinance – Rabu, 05/10/2011 14:17 WIB

Jakarta – Menteri Perindustrian MS Hidayat menegaskan akan terus menggenjot produksi sektor otomotif. Meskipun hal ini bertentangan dengan keinginan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Saleh.

“Justru saya memacu untuk menambah produksi dibarengi dengan pembenahan infrastruktur,” kata Hidayat saat menanggapi permintaan mengerem laju produksi otomotif, kepada detikFinance, Rabu (5/10/2011). Hidayat pun menepis adanya permintaan menekan laju produksi kendaraan bermotor dengan alasan konsumsi BBM yang tinggi, merupakan alasan yang tak bisa diterima.

“Itu (soal konsumsi BBM terus meningkat) tidak bisa dipakai, alasan untuk mengurangi produksi,” katanya. Keinginan meningkatkan produksi sektor otomotif bukan tanpa alasan, data BPS menunjukan pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2011 naik 4,79% dibandingkan triwulan II-2010. Industri Kertas dan Barang dari Kertas naik 11,35% Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semi Trailer naik 10,12%.

Bahkan Pertumbuhan sektor industri pengolahan 2010 sangat ditopang dari kontribusi sektor industri alat angkut, mesin dan peralatan. Tahun 2010 pertumbuhan industri sektor alat angkut, mesin dan peralatan melesat 10,4% atau tertinggi dari 8 cabang industri lainnya. Di sisi lain Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, mengatakan Indonesia tengah menghadapi masalah soal tingginya anggaran subsidi energi khususnya subsidi BBM. Karena itu Indonesia meminta negara anggota APEC terutama produsen otomotif untuk mengurangi produksi dan pemasaran produknya di Indonesia.

“Indonesia mengajak agar anggota APEC, khususnya yang maju industri otomotifnya, lebih memfokuskan kerjasama transportasi massal dan memperlambat atau membatasi peningkatan pemasaran dan produksi otomotifnya di Indonesia,” kata Darwin beberapa waktu lalu. Namun Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan bahwa Indonesia akan dijadikan basis produksi otomotif untuk pasar kawasan Asia Pasifik. Menurut Hatta tidak perlu ada pembatasan terhadap sektor otomotif di Indonesia yang selama ini terus tumbuh.

“Kita bukan batasi sektor otomotif, tapi kita nanti dorong otomotif kita untuk tidak menggunakan oktan number di BBM yang rendah. Yang tentunya kendaraan bermotor nanti akan memakai BBM dengan oktan yang tinggi mengingat desain mesin yang semakin tinggi,” jelas Hatta. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesoa (Gaikindo) Sudirman MR sebelumnya mengungkapkan sampai dengan saat ini total kapasitas maksimum perakitan mobil di Indonesia mencapai 860.000 unit per tahun. Sudirman memprediksi angka 1 juta unit mobil akan tercapai lebih cepat pada 2013. Target produksi ini tentunya perlu didukung oleh kebijakan pemerintah serta kesiapan infrastruktur dalam negeri.

Sumber: http://finance.detik.com/read/2011/10/05/141949/1737343/1036/ms-hidayat-akan-terus-genjot-produksi-otomotif


Industri Otomotif Tak Bisa Direm, Menyangkut Jutaan Tenaga Kerja
Suhendra – detikfinance – Rabu, 05/10/2011 14:46 WIB

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan sektor otomotif menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia dan penyumbang banyak tenaga kerja. Sehingga tak mungkin sektor ini direm laju pertumbuhannya.

“Kemenperin mendorong terus pertumbuhan industri otomotif, karena akan mendorong pertumbuhan ekonomi, di mana lebih dari 1.000 industri perakitan, komponen, sub komponen, dan bahan baku terlibat di dalamnya, serta melibatkan lebih dari 3.000 dealer,” tegas Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi kepada detikFinance, Rabu (5/10/2011).

Budi menuturkan, sektor ini juga sangat erat kaitannya dengan serapan banyak tenaga kerja. Setidaknya sektor otomotif menyerap jutaan tenaga kerja dari hulu hingga hilir. “Di mana total tenaga kerja terkait sektor industri dan distribusinya ini sekitar 1,5 juta pekerja,” katanya. Belum lagi jika melihat dari aspek peluang masuknya investasi. Belakangan ini saja, raksasa-raksasa pabrikan otomotif Jepang berkomitmen menyuntik banyak tambahan investasi baru di Indonesia.

Pabrikan mobil seperti Daihatsu, Honda, Suzuki, dan Nissan berjanji akan mengucurkan dana segar ke Indonesia. Bahkan yang terbaru ini adalah Toyota Motor Corporation berkomitmen menambah investasi Rp 6,1 triliun dengan perkiraan akan ada tambahan 15.000 orang tenaga kerja baru.

Di sisi lain Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, mengatakan Indonesia mengakui tengah menghadapi masalah soal tingginya anggaran subsidi energi khususnya subsidi BBM. Karena itu Indonesia meminta negara anggota APEC terutama produsen otomotif untuk mengurangi produksi dan pemasaran produknya di Indonesia.

“Indonesia mengajak agar anggota APEC, khususnya yang maju industri otomotifnya, lebih memfokuskan kerjasama transportasi massal dan memperlambat atau membatasi peningkatan pemasaran dan produksi otomotifnya di Indonesia,” kata Darwin beberapa waktu lalu. Namun Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan Indonesia akan dijadikan industri dengan basis produksi otomotif untuk pasar kawasan Asia Pasifik. Menurut Hatta tidak perlu ada pembatasan terhadap sektor otomotif di Indonesia yang selama ini terus tumbuh.

“Kita bukan batasi sektor otomotif, tapi kita nanti dorong otomotif kita untuk tidak menggunakan oktan number di BBM yang rendah. Yang tentunya kendaraan bermotor nanti akan memakai BBM dengan oktan yang tinggi mengingat desain mesin yang semakin tinggi,” jelas Hatta.

Sumber: http://finance.detik.com/read/2011/10/05/144611/1737384/1036/industri-otomotif-tak-bisa-direm-menyangkut-jutaan-tenaga-kerja

Comments are closed.