Konservasi dan Diversifikasi Energi

Konservasi Energi Harus Digalakkan

EBTKE-Persediaan energi yang terbatas membuat pemerintah menggalakkan kembali program konservasi energi. Kebijakan-kebijakan di bidang konservasi energi pun mulai diberlakukan awal tahun ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Z. Saleh mengatakan konservasi energi menjadi sesuatu yang sangat penting dan tidak boleh kalah digalakan programnya dibandingkan dengan diversifikas energi. “Konservasi energi menjadi sesuatu yang sangat penting, perlu digencarkan dan tidak boleh kalah gencar oleh diversifikasi energi,”ujar dia beberapa waktu lalu.

Menurut dia, reformasi birokrasi yang dilakukan telah banyak mengantarkan banyak hal dalam tataran filosofis, konsep legalistik sehingga payung hukum untuk melakukan konservasi dan diversifikasi energi sudah ada yaitu Undang-Undang (UU) Energi No.30/2007,dengan demikian, lanjut Darwin, guna melakukan pengaturan energi tidak perlu lagi merumuskan regulasi baru sebab cukup dengan melakukan diversifikasi dan konservasi energi. “UU energi sudah ada, kita tinggal maju kedepan,”kata Darwin.

Darwin menjelaskan, bukan hanya Indonesia yang menghadapi persoalan dan hambatan dalam melakukan diversifikasi tetapi juga bangsa lain di dunia, sebab ternyata yang menjadi momok dalam upaya melakukan diversifikasi adalah pelaku itu sendiri. “Kita ingin melakukan diversifikasi tapi kita sendiri yang menghambatnya,”tandasnya.

Berdasarkan buku-buku resmi yang dirilis organisasi internasional seperti International Energi Agency (IEA), Darwin mengungkapkan, bangsa di dunia saat ini terperangkap dalam subsidi energi khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM), sehingga perkembangan energi baru terbarukan menjadi lambat.”Nah ini yang menghambat kita mencapai tujuan yang dicita-citakanyakni pola penggunaan energi yang lebih terdiversifikasi, selama BBM masih disubsidi, energi fosil masih disubsidi, selama itu pula EBT akan lambat karena tidak ekonomis,”paparnya.

Ironisnya, lebih jauh dia memaparkan, jika bangsa lain pekerjaan rumahnya hanya diversifikasi maka bangsa Indonesia pekerjaan rumahnya lebih banyak yakni diversifikasi dan konservasi.”Konon bangsa yang memiliki kekayaan sumber daya alam terlena dan terperangkan dengan kekayaannya itu,”pungkasnya. (ferial)

Sumber: http://www.ebtke.esdm.go.id/energi/konservasi-energi/138-konservasi-energi-harus-digalakan.html


Pengembangan Energi Terbarukan Dipercepat
Rabu, 28 September 2011 | 18:27:49 WIB

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berjanji mempercepat pengembangan energi terbarukan. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi beban subsidi pemerintah di sektor energi. “Kita akan mempercepat pengembangan energi terbarukan, apabila terlambat dikembangkan maka akan membuat ruang gerak APBN untuk pembangunan akan terbatas. Sebagian besar anggaran negara di sektor migas habis untuk subsidi listrik dan bahan bakar minyak (BBM),” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh seusai hari jadi Pertambangan dan Energi ke-66 di Jakarta, Rabu (28/9).

Darwin mengatakan, mengacu pada amanat undang-undang maka pengembangan energi terbarukan dan diversifikasi energi harus dipercepat, sehingga ketergantungan terhadap bahan bakar minyak dan gas (fosil) bisa dikurangi. Jika selama ini pemerintah memberikan subsidi terutama untuk kaum duafa (miskin) maka itu tidak salah, akan tetapi kedepan diharapkan anggaran diefektifkan untuk pengembangan sumber daya manusia.

Menurut Darwin, dana penghematan dari berkurangnya subsidi BBM dan gas, bisa dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur. Jadi, imbuhnya, dengan konservasi dan diversifikasi energi itu maka pemerintah bisa menghemat setiap barel minyak yang selama ini dikonsumsi. “Sudah lama kita bergantung ke bahan fosil yang tidak terbarukan, jadi kedepan dengan konservasi dan diversifikasi energi maka langkah kita akan kongkret,” ungkapnya. Lebih lanjut Darwin mengharapkan kedepan pemerintah ingin menyaksikan produktivitas energi yang dilingkupi dengan pengembangan sumber daya manusia. Karena jika dibandingkan dengan negara maju maka Indonesia relatif tertinggal dari sisi infrastrktur dan sumber daya manusia. Yang menjadi persoalan saat ini, imbuhnya, dengan sumber daya mineral yang berlimpah justru membuat (pemerintah) terlena dalam pengembangan sumber daya manusia.

Untuk mendukung pengembangan energi terbarukan, Kementerian ESDM kedepan, mewajibkan audit energi bagi perusahaan-perusahaan yang konsumsi energinya relatif besar. Menurut Darwin, selain mewajibkan audit, Ia berharap perusahaan besar seperti Chevron, Talisman, Connoco Philips dan Pertamina ikut terjun langsung dalam pengembangan sumber daya manusia. “Pemerintah juga akan mendorong percepatan pembangunan infrastruktur, karena selama ini 80 persen penduduk tinggal di Jawa dan Sumatera akan tetapi sumber daya alam tersebar di luar Jawa. Untuk itu diperlukan kesiapan infrstruktur energi,” ujarnya.
Konsumsi Boros

Di tempat yang sama Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Kardaya Warnika mengatakan, dari sisi energi, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia relatif boros. “Kita sudah memiliki aturan mengenai konservasi energi, dalam aturan bagi perusahaan yang mengkonsumsi energi setara 6.000 barel minyak maka mereka diwajibkan melakukan audit energi. Dan Perusahaan wajib memiliki auditor independen dan memiliki manager energi untuk mengontrol pemanfaatan energi,” ungkapnya.

Meski mewajibkan audit bagi perusahaan, kata Kardaya, Kementerian ESDM belum bisa memberikan sanksi dan penghargaan kepada pelaku, karena audit penggunaan energi masih dalam tahap sosialisasi. Jadi pada tahap awal, pemerintah mengigingkan perusahaan pengguna energi bersedia melakukan efisiensi penggunaan energi.
Sementara itu, dalam hari jadi Pertambangan, Kementerian ESDM berencana memberikan penghargaan energi kepada perorangan dan masyarakat yang berjasa dalam mengelola energi yang memberikan dampak positif kepada masyarakat. Kategori penghargaan diantaranya Energi Prakarsa bagi perorangan, energi prakarsa kelompok masyarakat, penghargaan energi pratama perusahaan dan penghargaan energi prabawa bagi pemerintah daerah.

Sumber: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/72354


Pemerintah Siap Hadapi Kenaikan Harga Minyak
Selasa, 03 November 2009, 02:51 WIB

JAKARTA–Pemerintah mengklaim telah menyiapkan langkah-langkah khusus menghadapi kemungkinan naiknya harga minyak dunia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Darwin Zahedi Saleh menjelaskan salah satu langkah ialah berupaya meningkatkan sumur-sumur yang ada. ”Upaya lainnya adalah bahan bakar minyak (BBM) jangan menjadi satu-satunya andalan baik sebagai energi primer untuk listrik maupun konsumsi,” kata Darwin kepada wartawan di Jakarta, Senin (2/11).

Langkah ini kata Darwin sudah dikenal melalui kegiatan konservasi maupun diversifikasi energi. ”Baik dalam aspek suplainya maupun demandnya,” kata dia. Darwin memaparkan pada dasarnya dampak harga minyak dunia pada harga BBM dalam negeri terasa ketika Indonesia masih banyak mengimpor minyak. ”Untuk diketahui, impor minyak mentah dan ekspor minyak mentah lebih banyak ekspor minyak mentah,” ujarnya.

Ekspor lebih banyak, berarti neraca perdagangan minyak mentah surplus. ”Yang jadi persoalan kemudian kita mengimpor BBM dan impor BBM ini berkaitan dengan tingkat produksi dan lifting BBM kita,” kata Darwin. Darwin mengatakan harga minyak berkaitan dengan konteks lebih luas. Ia menilai ada kecenderungan wajar harga minyak naik bila pertumbuhan ekonomi dunia ternyata lebih tinggi dari yang sebelumnya, atau tidak serendah dari yang dikhawatirkan sebelumnya.

Bila kondisi tersebut berpengaruh terhadap BBM dalam negeri, maka pembahasan, kata Darwin, dilakukan di tingkat Menko Perekonomian dibantu oleh Menteri Keuangan, Menteri ESDM dan yang lain. Namun Darwin mengelak saat didesak tentang kemungkinan naiknya harga BBM tahun depan jika harga minyak terus merangkak naik. ”Kita tidak bisa sampaikan ketika saya belum memberikan masukan,” kata dia. Darwin menegaskan kekhawatiran itu tidak lantas membuat jajarannya bereaksi cepat. ”Reaksi yang tidak baik. Janganlah khawatir, kita akan melakukan langkah-langkah yang baik,” tandas dia.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/09/11/03/86502-pemerintah-siap-hadapi-kenaikan-harga-minyak


Indonesia to Offer Geothermal Drilling Rights in Block Tender Next Year
By Bambang Djanuarto – Dec 31, 2010 3:27 PM GMT+0700

Indonesia will seek bids for 50 new oil and gas blocks next year through tenders and direct offers to help boost output, said Evita Legowo, director general of oil and gas at the Energy and Minerals Resources Ministry. The government will seek investors next year to develop 10 coal-bed methane working areas, Legowo said in a press briefing in Jakarta today.

“We will also offer nine geothermal working areas” to increase the use of the cleaner-burning fuel, Energy Minister Darwin Saleh said at the same briefing today. The projects would have a potential capacity to generate 1,336 megawatts of electricity, he said.

Indonesia, Southeast Asia’s biggest crude oil producer, pulled out of the Organization of Petroleum Exporting Countries in 2008 as aging fields and declining output turned the nation into a net oil importer. The nation may return to net exporter status by 2020, according to Gita Wirjawan, chairman of Indonesia’s investment coordinating board.

Sumber: http://www.bloomberg.com/news/2010-12-31/indonesia-to-offer-geothermal-drilling-rights-in-block-tender-next-year.html


Pengguna Energi 69.780 MWh per Tahun wajib Konservasi Energi
Oleh Yuda Prihantoro – Senin, 31 Januari 2011 | 13:12 WIB

JAKARTA: Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi akan mewajibkan kepada pengguna sumber energi dan pengguna energi yang menggunakan energi listrik dan non-listrik lebih besar atau sama dengan 6.000 ton minyak (tone of oil equivalent) untuk melakukan konservasi energi. Direktur Jenderal Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi Luluk Sumiarso mengatakan kewajiban untuk menerapkan manajemen energi merupakan implementasi dari pasal 12 ayat (2) Peraturan Pemerintah No.70/2009 tentang konservasi energi yang tak bukan adalah turunan dari UU No.30/2007 tentang energi.

Konservasi energi yang dimaksudkan melalui manajemen energi yaitu dengan menunjuk manajer energi, menyusun program konservasi energi, melaksanakan audit energi secara berkala, melaksanakan rekomendasi hasil audit energi, dan melaksanakan pelaksanaan konservasi energi setiap tahun kepada pemerintah, ujar Luluk dalam acara softlauching implementasi mandatory konservasi energi, hari ini. Lebih lanjut Luluk menyebutkan kalau pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran terkait hal tersebut pada akhir Desember 2010. Sambil menunggu terbitnya peraturan pelaksanaan yang dikeluarkan oleh Menteri ESDM, kata dia, para pengguna energi dan sumber energi diminta untuk mempersiapkan segala hal yang terkait.

Nantinya jika sudah jalan, kami akan memberikan sanksi kepada pihak yang tidak menjalankannya. Sanksinya dimulai dari teguran di media massa sampai peringatan. Direktur Konservasi Energi Ditjen EBTKE Maryam Ayuni berharap peraturan tersebut bisa keluar kuartal pertama tahun ini, atau pada kuartal II/2011. Dia mengatakan nantinya jika peraturan tersebut sudah keluar, maka pelaporan dari pengguna energi pada tahap pertama akan berlangsung setiap tahun, untuk kemudian akan diubah pelaporannya menjadi setiap semester.

Berdasarkan data Ditjen EBTKE saat ini ada sekitar 10 pengguna energi terbesar di Tanah Air yang mengonsumsi energi sebanyak 6.000 ton minyak atau setara dengan dengan 69.780 MWh per tahun. Adapun 10 pengguna energi terbesar antara lain PT Krakatau Steel (industri baja), PT Panca Citra Wira Brothers (industri tekstil), PT Semen Gresik (semen), PT GT Petrochem Industri (kimia), PT Mulya Keramik Indah Raya (keramik), PT Petrokimia Gresik (kimia), PT Semen Padang (semen), PT Colorindo Aneka Chemicals (kimia), PT Golden Island Texstile Ind (tekstil), dan PT Sugih Brothers (tekstil).

Pada tahun 2010, secara nasional penggunaan energi di Indonesia mencapai 758 juta SBM. Dari angka tersebut pemakai terbesar berasal darai sektor industri sebesar 400,1 juta SBM, diikuti dengan sektor transportasi sebanyak 237,6 juta SBM, sektor rumah tangga sebesar 95,7 juta SBM, dan sektor komersial sebesar 24,6 juta SBM. Pada 2025, Ditjen EBTKE memperkirakan penggunaan energi di Tanah Air akan mencapai 1.843 juta SBM yang terdiri dari sektor industri sebesar 952,3 juta SBM, sektor transporrasi sebesar 578,3 juta SBM, sektor rumah tangga 242,5 juta SBM, dan sektor komersial sebesar 69,9 juta SBM. Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh mengatakan Indonesia memiliki dua pekerjaan rumah disektor energi yang harus segera diselesaikan yakni diversifikasi dan konservasi energi. Kalau kita ingin mengatasi problem energi yang signigfikan dalam waktu pendek menengah kedepan maka cara yang paling utama disamping tetap melakukan diversifikasi adalah dengan cara melakukan konservasi energi, ujar Darwin.

Guna menjalankan program konservasi energi secara maksimal maka pihaknya, kata Darwin, akan memberikan insentif dan disinsentif, serta teguran, serta pemberian pengakuan kepada mereka yang sudah berjasa terhadap konservasi energi. Dia menyebutkan kalau pihaknya belum menentukan insetif yang dimaksud. Biasanya bisa insentif fiskal atau insentif moneter. Saya belum menyatakan insentifnya apa tetapi kalau insentif fiscal bisa berupa pembebasan biaya masuk, pengeluaran tidak kena pajak. Insentif moneter kemudahan mendapatkan kredit untuk proses konservasi energi. Darwin menambahkan selama bahan bakar minyak (BBM) dan energi fosil masih tersubsidi maka pengembangan energi baru dan terbarukan masih akan berjalan lambat.

Sumber: http://www.bisnis.com/articles/pengguna-energi-69-dot-780-mwh-per-tahun-wajib-konservasi-energi


PENGEMBANGAN PLTS – Hingga 2013, pengembangan PLTS butuh biaya investasi US$ 683 juta
Oleh Fitri Nur Arifenie, Noverius Laoli – Rabu, 11 Mei 2011 | 14:19 WIB

JAKARTA. Potensi energi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) cukup besar di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga 2013 membutuhkan biaya investasi sebesar US$ 683 juta. Pada 2013 nanti, ditargetkan kapasitas listrik PLTS sebesar 180 Mega Watt (MW). Saat ini, kapasitas terpasang untuk PLTS mencapai 13,5 MW.

“Produksi minyak makin lama makin menipis. Pentingnya mendorong diversifikasi dan konservasi energi. Nantinya memperbesar proporsi dan mempercepat energi matahari dan energi dari angin,” ujar Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh, Rabu (11/5). Menurut Darwin, saat ini potensi untuk menghasilkan daya listrik dari matahari cukup besar. Sayangnya, kata Darwin, untuk industri jasa penunjang PLTS di dalam negeri terbatas. Sehingga, untuk membuat PLTS tersebut, komponennya kebanyakan masih berasal dari impor.

Salah satu perusahaan yang mengembangkan energi matahari adalah PT Jasa Listrik Nasionalindo (Jalindo). Direktur Utama PT Jalindo, Zeffanya Agustinus Tobing mengungkapkan, pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah Bunaken untuk mengganti lampu penerangan jalan dengan menggunakan PLTS. “Yang sudah terpasang di Bunaken 30 set lampu dengan kapasitas 40 watt menggantikan 250 watt,” kata Zeffanya.

Dengan adanya teknologi PLTS ini, kata Zeffanya Bunaken sudah mampu menyala selama 24 jam. Padahal tadinya Bunaken hanya menyala selama 8 jam. “Investasi satu tiangnya sebesar Rp 12 juta,” kata Zeffanya. Untuk teknologi PLTS, solar cell (sel surya) masih impor dari China. Ke depannya, Zeffanya mengatakan akan menambah jumlah lampu penerangan jalan yang menggunakan teknologi PLTS. Tidak cuma di Bunaken, Jalindo kata Zeffanya juga sedang membidik Manado.

“Jalindo masih mengikuti tender saat ini. Untuk lampu dengan teknologi ini lebih murah dengan efisiensi mencapai 85%. Jika menggunakan lampu biasa biaya listriknya mencapai Rp 600.000. Sedangkan dengan menggunakan lampu teknologi PLTS ini biayanya cuma Rp 124.000,” tutur Zeffanya.

Asal tau saja, PT PLN (Persero) berniat untuk membuat PLTS yang tersebar di 1000 pulau sepanjang tahun 2011-2015. Pada tahun ini, PLN akan membangun PLTS di 100 lokasi. Sedangkan pada 2012-2015 akan dibangun PLTS yang tersebar di 900 lokasi. Dengan adanya PLTS ini, Darwin berharap rasio elektrifikasi akan naik. Pada tahun 2010, rasio elektrifikasi di Indonesia masih 67,15%. Jumlah ini naik sedikit dari rasio elektrifikasi pada 2009 mencapai 65,79%.

Sumber: http://industri.kontan.co.id/news/hingga-2013-pengembangan-plts-butuh-biaya-investasi-us-683-juta–1


Foto-Foto Terkait:

Kunjungan kerja ke PLTP Kamojang, Garut, 13 November 2009

Peresmian PLTU Labuan & PLTU Labuhan Angin, 28 Januari 2010

Kunjungan PLTMH Cikatomas, 13 Juli 2010

Kunjungan ke TPST Bantar Gebang, 3 Agustus 2010

Kunjungan Kerja Ke Sumedang, 19 Agustus 2010

Resmikan Bio Fuel Di Site PT Adaro, 31 Mei 2011

Ground Breaking PLTGU Tambak Lorong Semarang, 28 Juni 2011

Ground Breaking PLTGU Tambak Lorong Semarang, 28 Juli 2011

Kunjungan kerja Ujung Berung dan PLTA Cirata, 26 Agustus 2011

Kunjungan kerja Ujung Berung dan PLTA Cirata, 26 Agustus 2011

Comments are closed.