KESDM dan Kerjasama Kelembagaan

Kebijakan Energi Indonesia Diganjal Kalangan Tertentu
MINGGU, 18 SEPTEMBER 2011 | 15:14 WIB

Tempo.co – Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh menyatakan salah satu faktor yang membuat pembangunan infrastruktur energi terhambat adalah subsidi untuk energi yang selalu membengkak dari perhitungan semula.

“Saat penetapan subsidi bahan bakar minyak dan listrik, selalu membengkak dan selalu direvisi dari jumlah semula sehingga menghambat kemampuan negara membiayai infrastruktur yang lebih strategis bagi bangsa,” ujar Darwin, dalam pesan pendeknya kepadaTempo, Ahad, 18 September 2011.

Padahal investasi infrastruktur energi sangat penting untuk menghasilkan energi yang lebih ekonomis, terjangkau, dan berkelanjutan. Darwin menegaskan subsidi memang hak yang harus dijamin dan diberikan pemerintah kepada rakyatnya. Namun dalam hal ini hanya bagi masyarakat yang kurang mampu.

Masalahnya, kelompok masyarakat yang berdaya beli rendah masih sangat banyak. Dari sisi jumlah tenaga kerja informal saja, saat ini masih mencapai 67 persen dari total pekerja yang ada di Indonesia.

Darwin mendorong agar pemerintah dan perusahaan-perusahaan mau memberdayakan para pekerja informal tersebut untuk memperbaiki keadaan ekonomi masyarakat. “Kita harus gencar buat program terobosan,” ujarnya.

Salah satu caranya adalah perusahaan yang bergerak dalam pengelolaan sumber daya alam, seperti mineral, batu bara, maupun minyak dan gas, terjun langsung dalam meningkatkan sumber daya manusia dan tenaga kerja di sekitar daerah tambang mereka.

Dia juga meminta para pengusaha di sektor mineral, batu bara, dan migas, lebih berkomitmen untuk mengembangkan energi baru terbarukan. “Kita juga perlu menelaah ulang dan meningkatkan serta menajamkan strategi dalam APBN agar tidak terpaku dalam peningkatan pajak dan pembiayaan subsidi saja,” ucap Menteri.

Selama infrastruktur kurang memadai dan tidak dikembangkan, Darwin yakin selama itu pula beban subsidi energi negara akan terus membengkak. Kementerian ESDM, katanya, telah memiliki program-program di sektor tersebut.

Namun sayang, upaya tersebut masih sering diganjal oleh kalangan tertentu yang memiliki kepentingan dalam bisnis bahan bakar minyak. “Ada yang tidak suka kita punya kilang lebih banyak, tidak senang gas menggantikan BBM dalam pembangkit listrik dan transportasi kita,” ujar dia.

GUSTIDHA BUDIARTIE

Transformasi Comparative Advantage Menjadi Competitive Advantage Melalui Pendidikan
SABTU, 07 MEI 2011 00:26 WIB

JAKARTA. Pada Pembukaan Seminar Nasional CSR Pendidikan Sektor ESDM tahun 2011 di Balai Kartini Jakarta, 2 Mei 2011, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh menyampaikan bahwa sektor ESDM sebagai salah satu sektor strategis memiliki peran dalam mendukung pembangunan nasional. Peran strategis sektor ESDM antara lain melalui penyediaan pasokan energi, berkontribusi pada penerimaan Negara, mendukung pembangunan daerah melalui dana bagi hasil sektor ESDM, serta efek berantai penciptaan tenaga kerja melalui kegiatan pengusahaan di sektor ESDM.

Keseluruhan peran sektor ESDM memiliki satu muara tujuan yaitu mengkonversi keunggulan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia berupa Sumber Daya Alam (SDA) energi dan mineral yang dikenal sebagaicomparative advantage yang merupakan keunggulan bersifat “sementara” menjadi keunggulan yang bersifat kualitas (competitive advantage).

Disampaikan Menteri, momentum Hari Pendidikan Nasional menjadi tepat untuk menyampaikan bahwa transformasi comparative advantage menjadi competitive advantage dapat dijembatani oleh dunia pendidikan. Mengadopsi apa yang diungkapkan Michael Porter (1985) bahwa bangsa yang berjaya bukanlah bangsa-bangsa yang memiliki comparative advantage tetapi mereka yang memiliki competitive advantage.

Apabila kita perhatikan di Negara ini, struktur revenue paling besar berasal dari sektor ESDM, sementara pengeluaran paling besar adalah di sektor energi dan pertanian. Hal serupa juga terjadi di Meksiko dan Negara yang kaya sumber daya alam lainnya. “Maka dari itu yang jadi perhatian sekarang adalah bagaimana competitive advantage ini muncul sebagai pertaruhan, sesuatu yang harus diperjuangkan mengingat sifat “decrease of natural resources”. Jangan sampai kita terlena dengan keunggulan komparatif yang kita miliki, sehingga tantangan ke depan adalah bagaimana mentransformasi comparative advantage menjadi competitive advantagemelalui dunia pendidikan nasional,” ujar Menteri.

Di era otonomi daerah saat ini, lanjut Menteri, kita mengenal Pemerintah Pusat dan juga Pemerintah Daerah yang di-empower (diberdayakan). Daerah pun berkembang menjadi market baru bagi dunia pembiayaan. Tantangannya adalah saat ini uang berputar di daerah, sementara sumber daya manusia di daerah masih kurang. Sumber daya alam yang kuat melalui comparative advantage hendaknya didukung oleh usaha peningkatancompetitive advantage-nya. Sehingga regionalisasi otonomi daerah perlu kita lakukan dan kita isi dengan bagaimana mentransformasi comparative advantage menjadi competitive advantage melalui dunia pendidikan.

Data sensus terbaru BPS menunjukkan bahwa dari 100% angkatan kerja di Indonesia (sekitar 105-109 juta orang), 67% diantaranya bekerja di sektor nonformal, sementara sisanya sebanyak 33% bekerja di sektor formal. “Dalam 10 tahun saya harap Indonesia dapat membalik kondisi tersebut, sehingga ketika hari kerja jalanan sepi karena para pekerja berada di ladang, kantor-kantor maupun lapangan, dan ketika libur mereka akan memadati taman-taman dan tempat hiburan, seperti yang terlihat di negara-negara maju,” ujar Menteri.

Dari keseluruhan angkatan kerja tersebut, sebanyak 74% adalah berpendidikan SMP atau kurang, menunjukkan bahwa Indonesia sebagian besar digerakkan oleh produktivitas dan daya beli 74% angkatan kerja yang berpendidikan SMP atau kurang. Oleh karena itu, sektor ESDM hendaknya lebih mencermati hal ini untuk meningkatkan dan memperkuat produktivitas, misalnya dengan mendirikan pendidikan-pendidikan kejuruan sehingga dapat meningkatkan wajah tenaga kerja Indonesia yang dikirim ke luar negeri. Bila saat ini sebagian besar wajah tenaga kerja kita di luar negeri dikenal karena bergaji murah, maka ke depan kita harus mengubah pandangan tersebut sehingga wajah tenaga kerja kita yang dikirim ke luar negeri adalah wajah tenaga kerja yang skillfull dan memiliki keunggulan kompetitif.

“Sunatan masal koq disebut CSR?” demikian statement Gubernur suatu provinsi yang kaya akan migas mengilhami Menteri ESDM untuk menggelar acara seminar nasional CSR Pendidikan Sektor ESDM tahun 2011 ini. “Memang CSR dapat diwujudkan salah satunya melalui sunatan masal, tetapi lebih dari itu, CSR sektor ESDM harus lebih dalam dan lebih strategis, dengan menekankan upaya untuk mentransfer comparative advantageke competitive advantage. Inilah yang menjadi tanggung jawab bersama sektor ESDM, menjaga keberlanjutan proses transfer ini melalui dunia pendidikan antara lain dengan mendirikan sekolah-sekolah kejuruan, meningkatkan skill pelajar dan mahasiswa serta CSR yang berkontribusi memajukan sektor pendidikan nasional,” pungkas Menteri ESDM menutup sambutannya. (KO)

Sumber: http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/4469-transformasi-comparative-advantage-menjadi-competitive-advantage-melalui-pendidikan.html?tmpl=component&print=1&page=


Keunggulan Sumber Daya Alam (SDA) Bersifat Sementara
SENIN, 18 JULI 2011 08:14 WIB

JOMBANG – Berulang kali dalam beberapa kesempatan Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh mengungkapkan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan. Pengalihan (transformasi) dari keunggulan sumber daya alam menjadi keunggulan sumber daya manusia mutlak harus dilakukan karena keunggulan sumber daya alam bersifat “sementara”. Transformasi keunggulan Sumber Daya Alam (comparative advantage) menjadi keunggulan Sumber Daya Manusia (competitive advantage) dapat dijembatani melalui pendidikan

“Mentransformasi kekayaan sumber daya alam yang diberikan Tuhan ke alam Indonesia kedalam kekuatan keunggulan sumber daya manusia antara lain dengan jalan kerjasama dengan komunitas pesantren adalah satu perjuangan Indonesia kedepan,” ujar Menteri ESDM dalam sambutannya pada acara Pencanangan Kerjasama antara Badan Diklat ESDM dengan Pesantren Tebu Ireng, Sabtu (16/7/2011).

Sumber daya alam merupakan karunia Tuhan yang diamanahkan untuk dapat ditransformasikan menjadi suatu sumber daya yang berkelanjutan. Berdasarkan pemikiran tersebut maka pengelolaan sektor ESDM memiliki satu muara tujuan yaitu mengkonversi keunggulan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia berupa Sumber Daya Alam (SDA) energi dan mineral yang dikenal sebagai comparative advantage yang merupakan keunggulan bersifat “sementara” menjadi keunggulan yang bersifat kualitas (competitive advantage).

Kementerian ESDM cq. Badan Diklat ESDM menandatangani kerja sama peningkatan kualitas SDM dikalangan komunitas pesantren. Melalui program pengembangan sumber daya manusia bersama dalam bentuk pelatihan keterampilan diharapkan akan tercipta calon tenaga kerja terampil yang berkualitas dan siap menjawab kebutuhan tenaga kerja di industri tidak hanya di lingkup nasional, namun juga internasional.

Langkah Kementerian ESDM tersebut disambut baik Sholahudin Wahid (Gus Sholah) selaku Pengurus Pesantren Tebu Ireng, menurutnya, program peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan Kementerian ESDM dengan melakukan kerjasama dengan komunitas pesantren sebagai sesuatu yang luar biasa, pertama, karena belum ada Menteri ESDM lain yang pernah melakukan kegiatan ini dan mungkin tidak ada Menteri lain kecuali Menteri Agama tentunya yang melakukan kegiatan ini, hal ini menunjukkan bahwa Menteri ESDM mengganggap penting komunitas pesantren, kedua meningkatkan daya saing dan mengurangi ketimpangan “skill” masyarakat kota dengan pedesaan sehingga dapat mengurangi urbanisasi, ketiga mengurangi jumlah TKW/I dan terakhir mengurangi radikalisme Islam. “Ini saya pikir satu langkah strategis yang luar biasa”, ujarnya.

“Yang dilakukan ESDM dengan mencoba melatih santri juru las bersertifikat walaupun kecil mengandung makna yang besar, dan kita harus mengupayakan supaya pesantren sebagai bagian yang tertinggal bisa ikut maju bersama-sama dengan kecepatan yang tidak terlalu jauh ketinggalan. Kalau kita bisa melakukan itu banyak manfaat yang kita peroleh”, lanjut Gus Solah.

Sebagai langkah awal kerjasama, Kementerian ESDM telah menyusun program pelatihan keterampilan untuk tenaga juru las (welder) dengan kualifikasi cukup tinggi yang pada saat ini banyak dibutuhkan oleh industri di dalam dan luar negeri, khususnya di Negara-negara Timur Tengah. Pelatihan pengelasan dengan kualifikasi 6G/E9 tersebut akan berlangsung selama 18 (delapan belas) minggu di Pusdiklat Minyak dan Gas Bumi, Cepu, dan diikuti oleh 20 peserta/angkatan. Materi pelatihan yang akan diberikan diakui kualitasnya oleh International Institute of Welding (IIW) dan diakui secara internasional di 55 negara. (SF)

Sumber: http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/4751-keunggulan-sumber-daya-alam-sda-bersifat-sementara.html?tmpl=component&print=1&page=


Kunjungan ke Tebu Ireng
Abdul Hamid Batubara – Sabtu, 17 November 2012

Ini cerita pengalamanku berkunjung ke Tebu Ireng Juli 2011…

* * * * *

Sungguh satu kejutan manis buatku di akhir minggu kemarin. Setelah menjalani padatnya kerja di kantor dari satu rapat ke rapat berikutnya, hari kamis aku ditilpun ajudan menteri ESDM untuk ikut rombongan beliau mengunjungi Pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur hari Sabtu. Berangkat Jumat malam.

Tujuan kunjungan adalah untuk penandatangan nota kesepahaman antara ESDM dan Pesantren Tebu Ireng mengenai kemungkinan kerja sama. Niatnya luhur: Menggantikan TKI wanita Indonesia yang menjadi pembantu rumah tangga menjadi TKI pria Indonesia yang menjadi operator migas di Timur Tengah.

Kenapa dengan pesantren? Menurut Pak Darwin Saleh, beberapa pesantren memiliki santri dengan jumlah yang luar biasa besar, dan selain mendalami agama, juga belajar bahasa Arab dan ilmu umum seperti yang diajarkan di SMA.

Kenapa Tebu Ireng? Menurut Pak Darwin, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia adalah Pesantren Tebu Ireng. Banyak tokoh nasional muncul dari pesantren ini.

Kenapa Chevron diajak? Menurut Pak Darwin, Chevron selama ini sangat concern dengan pendidikan di Indonesia. Beliau ingin Chevron menjadi bagian dari rencana beliau. Memang selama perjalanan, beliau banyak menjelaskan visi beliau yang sebenarnya sangat sejalan dengan nuraniku.

Terus terang, sejak awal (pertama aku mendengar langsung cerita dari seorang dokter berkebangsaan Kashmir di medinah saat naik haji tahun 1990an), aku sangat miris mendengar cerita perlakuan tak manusiawi terhadap wanita Indonesia yang menjadi pembantu di Saudi.

Aku juga sangat “concern” dengan psikologi anak2 mereka kelak yang notabene tanpa kasih sayang ibu untuk waktu yang cukup panjang. Sementara banyak laki-laki yang mengandalkan penghasilan istri mereka. Keadaan yang mungkin menjadi permasalahan tersendiri bagi bangsa ini kelak.

Aku bertanya kepada nuraniku, banggakah aku sebagai bangsa Indonesia, saat mendengar berita ratusan ribu wanita Indonesia bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga? Jawaban nuraniku lantang: TIDAK!!!

Aku akan bangga jika mendengar berita ratursan ribu pria Indonesia bekerja di luar negeri sebagai operator di bidang migas.

Insya Allah dengan senang hati aku ingin menjadi bagian dari satu rencana besar pak Menteri ESDM walaupun aku juga harus bekerja extra melakukan pendekatan kepada pak Muhaimin dan Pak Nuh…

Pe-Er ku yang terbesar adalah bagaimana menjelaskan rencana ini ke atasanku di kantor yang pada dasarnya adalah Perusahaan Amerika. Aku sampaikan juga masalah ini kepada Pak Darwin dan beliau akan coba membantu. Aku yakin pasti ada jalan keluarnya.

Kunjungan yang singkat, namun sangat berkesan. Sempat ziarah ke makam KH Hasyim Ansyari, KH Wahid Hasyim, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sempat juga ngobrol akrab dengan Gus Solah walaupun sebentar. Adem.

Sumber: http://batubarahamid.blogspot.com/2012/11/pengalaman-ke-tebu-ireng.html


Menteri ESDM Buka Diklat dan Sertifikasi Juru Las
SELASA, 09 AGUSTUS 2011 12:07 WIB

JAKARTA – Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh didampingi Kepala Badan Diklat ESDM dan Pejabat Eselon I dan II dilingkungan Kementerian ESDM melalui video conferencemembuka secara resmi Pendidikan dan latihan dan sertifikasi juru las. Peserta diklat dan sertifikasi kompetensi Juru Las berjumlah 20 orang peserta, yang berasal dari 11 peserta dari Pondok Pesantren Tebu Ireng, 5 peserta dari Urwatul Wustqo, 1 peserta dari Tambakberas, 1 peserta dari At-Tadhib Ngoro dan 2 peserta dari masyarakat umum.

“Penyelenggaraan diklat dan sertifikasi kompetensi Juru Las ini merupakan implementasi kerja sama antara Kementerian ESDM cq. Badan Diklat ESDM dengan Komunitas Pesantren,” ujar Menteri ESDM dalam sambutannya melalui Video Conference, Selasa (9/8/2011).

“Pelatihan ini, intinya adalah sektor ESDM beserta pondok pesantren sebagai salah satu pilar utama masyarakat dan bangsa Indonesia bertekad untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan memberikan bekal teknis bagi santri,” tutur Menteri ESDM.

Ditambahkannya, Kementerian ESDM sebagai salah satu tangan pemerintah insya Allah akan berkomitmen penuh untuk menjalankan amanah yang diberikan rakyat dengan menyelenggarakan pemerintah yang berkeadilan, juga menjalankan amanah dari Allah SWT yang melimpahkan Indonesia bukan hanya dengan penduduk yang banyak namun juga dengan sumber daya alam yang banyak.

Langkah kecil berupa pelatihan ini menurut Menteri akan menjadi langkah lanjutan yang akan berwujud menjadi gerakan besar mentransformasi keunggulan sumber daya alam ke keunggulan sumber daya manusia. Karena pelatihan ini mensyaratkan para peserta lulus ujian sertifikasi dan kompetensi, Menteri berharap peserta yang berjumlah 20 orang dapat lulus dengan hasil yang baik dan menjadi sumber daya manusia yang kerja terampil yang berkualitas dan siap menjawab kebutuhan tenaga kerja baik di di lingkup nasional, namun juga internasional. dengan lingkungan kerja yang baik. “insya dengan ridho Allah SWT itu semua dapat terwujud,”tutup Menteri.

Pendidikan dan latihan bagi santri ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Bapak Menteri ESDM ke Pondok Pesantren Tebuireng pada tanggal 16 Juli 2011 lalu, dalam rangka silaturahmi khususnya dengan para pengasuh, pengurus, anak didik Pondok Pesantren Tebuireng, dan dengan masyarakat Kabupaten Jombang pada umumnya, serta membicarakan peluang dan rencana kerja sama selanjutnya antara KESDM dengan Komunitas Pesantren di Indonesia.

Program pengembangan sumber daya manusia melalui penyiapan calon tenaga kerja terampil yang berkualitas dan siap menjawab kebutuhan tenaga kerja di industri tidak hanya di lingkup nasional, namun juga internasional. Program pelatihan dilaksanakan berdasarkan pada kompetensi Juru Las (welder) yang mengacu pada standar pelatihan berbasis kompetensi International Institute of Welding (IIW). Durasi pelaksanaan direncanakan 659 jam pelajaran (@ 45 menit) dan 1 (satu) Minggu ujian sertifikasi kompetensi untuk mendapatkan sertifikasi kompetensi Juru Las (Welder). (SF)

Sumber: http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/4833-menteri-esdm-buka-diklat-dan-sertifikasi-juru-las.html


Pantau Harga dan Kendalikan Inflasi, KESDM Gandeng BI, Sinergi Data dan Informasi
Oleh: Tio Sukanto – ekonomi – Rabu, 10 Agustus 2011 | 15:52 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral dan Bank Indonesia melakukan penandatangan nota kesepahaman mengenai pertukaran data dan informasi.

Penandatangan tersebut dilakukan di kantor Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu (10/8). Bank Indonesia akan mendapat kemudahan dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan pembentukan harga terkait dengan penentuan inflasi dan pembayaran neraca.

Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh mengatakan, kerja sama ini bukan hanya sebagai pertukaran data dan informasi. Akan tetapi untuk meningkatkan koordinasi dalam perolehan data dan penyusunan data. “Bukan hanya sebatas kerja sama pertukaran data, tapi juga melingkupi pelatihan bersama atau magang,” kata Darwin.

Sementara Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution menjelaskan kerja sama pertukaran data tersebut akan lebih memudahkan Bank Indonesia dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan pembentukan harga terkait dengan penentuan inflasi dan pembayaran neraca.

“Ini bukan saja memperluas dan mempererat kerjasama tukar menukar data. Akan tetapi menyangkut kebijakan dan pengelolaan negara,” timpal dia. [hid]

Sumber: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1763870/kesdm-gandeng-bi-sinergi-data-dan-informasi#.USc-KB1kTW0


KESDM-BI Teken Nota Kesepahaman Pertukaran Informasi
Thursday, 11 August 2011 09:40 – Ferial

EBTKE– Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Bank Indonesia untuk pertukaran informasi.

Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan sektor ESDM dengan BI berkaitan erat dengan tiga hal penting , pertama, kebijakan energi terutama Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik dengan perhitungan inflasi.”Kita pernah melewati beberapa periode ketika kenaikan harga energi tidak dapat dihindari, tentu saja ini membawa implikasi terlampauinya target inflasi yang sudah ditetapkan,”ujar dia dalam Sambutannya di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu petang 10 Agustus 2011. Makna penting kedua, lanjut dia, sektor energi memiliki peranan yang besar dalam perekonomian dan turut menentukan arah pertumbuhan perekonomian nasional, keberlangsungan kegiatan ekonomi ditentukan oleh daya dukung pasokan energi baik di sisi produksi maupun permintaan , untuk itu pemahaman terhadap road map kebijakan energi yang memastikan ketersediaan energi merupakan bagian yg sangat vital dalam upaya mencapai sasaran pembangunan nasional.”Yang ketiga, dalam perumusan kebijakan moneter BI, secara berkala melakukan assesment terhadap berbagai aspek yang mempengaruhi kondisi perekonomian nasional, simulasi perhitungan dan proyeksi angka inflasi serta pertumbuhan ekonomi merupakan bagian penting dari kajian menjadi dasar dalam memandang prospek perekonomian dan itu kami lakukan perbaharui berkali-kali dalam setahun,”papar Darmin.

Terkait akurasi dan tentu faktor yang menentukan adalah kekinian dari angka yang dihasilkan tentu saja tergantung pada data dan indikator yang digunakan sebagai landasan perhitungan, dalam kaitan tersebut , langkah kebijakan di energi yang ditempuh oleh pemerintah dan tersedianya data terkini di bidang energi menjadi masukan yang sangat penting bagi BI dalam mendukung dalam proses perumusan kebijakan moneter.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM), Darwin Zahedy Saleh menjelaskan, dengan ditandatanganinya nota kesepahaman dengan BI tersebut, Kementerian ESDM bisa meningkatkan koordinasi dengan BI untuk meningkatkan kualitas data dan informasi serta kebijakan yang dihasilkan, baik di bidang moneter maupun sektor energi dan sumber daya mineral.

“Yang menjadi faktor relevan dengan kerja sama kita adalah, Kementerian ESDM menyadari dampak dari kebijakan baik dari kebijakan harga, volume, itu berdampak pada perhitungan inflasi dalam administered price (harga yang diatur pemerintah),” katanya.

Menurutnya, Kementerian ESDM ke depannya harus lebih cermat mengetahui sejauh mana daya beli masyarakat melalui survey konsumen BI yang bersifat 3 bulan terakhir serta 3 dan 6 bulan ke depan.

“Dengan demikian, kita akan lebih aware, berusaha menghindari kebijakan kenaikan harga yang timing-nya salah,” pungkas Darwin.(ferial)

Sumber: http://www.ebtke.esdm.go.id/berita/359-kesdm-bi-teken-nota-kesepahaman-pertukaran-informasi.html


Kementerian ESDM Tandatangani Nota Kesepahaman Dengan Bank Indonesia
Kamis, 11 Agustus 2011

Untuk memperkuat pengkajian peran sektor ESDM tentang tiga indikator utama ekonomi Indonesia yaitu fiskal, moneter dan sektor riil, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh menandatangani nota kesepahaman dengan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Auditorium ESDM, Rabu (10/8).

Salah satu tujuan nota kesepahaman ini adalah meningkatkan kerja sama dan koordinasi yang lebih bersinergi di antara Kementerian ESDM dan Bank Indonesia dalam rangka pertukaran data dan informasi sehingga dapat meningkatkan kualitas data dan informasi serta kebijakan yang dihasilkan, baik di bidang moneter maupun sektor ESDM.

Selain pertukaran data, kerja sama juga meliputi pembentukan forum koordinasi data dan informasi serta peningkatan sumber daya manusia (SDM). Terkait SDM, kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pelatihan, magang, seminar, lokakarya dan penelitian bersama.

Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh dalam sambutannya mengemukakan, dengan adanya kerja sama ini, diharapkan jajaran kementerian ESDM dapat belajar dan bertukar informasi dengan BI sehingga dapat mengetahui secara langsung cara perhitungan inflasi.

“Yang menjadi faktor relevan dengan kerja sama kita adalah, Kementerian ESDM menyadari dampak dari kebijakan baik dari kebijakan harga, volume, itu berdampak pada perhitungan inflasi dalam administered price (harga yang diatur pemerintah),” katanya.

Ke depan, kata Darwin, Kementerian ESDM harus lebih cermat mengetahui sejauh mana daya beli masyarakat melalui survei konsumen BI yang bersifat 3 bulan terakhir serta 3 dan 6 bulan ke depan.

“Dengan demikian, kita akan lebih aware, berusaha menghindari kebijakan kenaikan harga yang timing-nya salah,” ujarnya.

Penandatanganan nota kesepahaman ini, disambut baik Bank Indonesia. Menurut Gubernur BI Darmin Nasution, bagi BI yang sebagian besar pekerjaannya mengatur dan mengawasi perbankan seperti menyusun kebijakan dan pengelolaan moneter, ada 3 hal yang penting yang melandasi perlunya kerja sama ini yaitu pertama, adanya kaitan erat antara kebijakan energi terutama BBM dan listrik dengan inflasi.

”Kita pernah melewati beberapa periode ketika kenaikan harga energi tidak dapat lagi dihindari. Penerapan kebijakan ini tentu saja membawa implikasi terlampauinya target implikasi yang sudah ditetapkan,” katanya.

Kedua, sektor energi memiliki peranan yang besar dalam perekonomian dan turut menentukan arah pertumbuhan perekonomian nasional karena keberlangsungan kegiatan ekonomi ditentukan oleh daya dukung pasokan energi baik dari sisi produksi maupun permintaan. Untuk itu, pemahaman terdapat roadmap kebijakan energi yang memastikan ketersediaan energi merupakan bagian yang sangat vital dalam upaya mencapai sasaran pembangunan nasional.

Ketiga, dalam perumusan kebijakan moneter, BI secara berkala melakukan assessment terhadap berbagai aspek yang mempengaruhi kondisi perekonomian nasional. Simulasi perhitungan dan proyeksi angka inflasi serta pertumbuhan ekonomi merupakan bagian penting dari kajian, menjadi dasar dalam memandang prospek perekonomian dan diperbarui beberapa kali dalam setahun.

“Untuk akurasi dan kekinian dari angka yang dihasilkan, tergantung pada data dan indikator yang digunakan sebagai landasan perhitungan. Dalam kaitan tersebut, langkah kebijakan di energi yang ditempuh pemerintah dan tersedianya data terkini di bidang energi, menjadi masukan yang sangat oenting bagi kami dalam mendukung proses perumusan kebijakan moneter,” papar Darmin.

Sumber: http://www.migas.esdm.go.id/wap/?op=Berita&id=2368


Pejabat Akan Dilarang Beli BBM Bersubsidi
Antique, Nur Eka Sukmawati – Sabtu, 20 Agustus 2011, 07:08

VIVAnews – Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menjalin kerja sama untuk pembatasan penggunaan bahan bakar minyak di pemerintahan di daerah.

Menurut Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, kerja sama itu dimaksudkan agar kepala daerah berpartisipasi dalam mengendalikan penggunaan BBM di wilayahnya. Sebab, jika kalangan birokrasi di daerah tidak membantu pengendalian konsumsi BBM akan berdampak pada melonjaknya jumlah subsidi BBM.

“Ini MoU kami bantu supaya ditaati. Kalau tak terkendali penggunaan BBM di daerah, nanti subsidinya naik terus,” ujarnya di Kemendagri, Jumat malam..

Meski demikian, pihaknya menegaskan tidak ada pembatasan kuota pemakaian BBM di daerah. Gamawan juga akan mengapresiasi gubernur, bupati atau walikota yang di daerahnya pemakaian BBM sesuai kuota.

“Meski tidak bisa dicegah adanya masyarakat yang nakal dengan menimbun BBM. Kalau ada partisipasi kepala daerah yang peduli soal tersebut bisa menjadi nilai plus yang patut diteladani,” kata dia.

Gamawan menjelaskan, ke depan akan dibuat aturan tentang pengawasan penggunaan BBM di kalangan Pegawai Negeri Sipil. “Ya, pengendalianlah. Pengaturan dan pengendalian,” tegasnya.

Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh, menyatakan kerja sama tersebut ditujukan agar penggunaan BBM tepat sasaran. Dengan begitu, pejabat kaya yang memiliki mobil mewah tidak membeli premium yang masih disubsidi negara. “Intinya, agar ada partisipasi dari PNS daerah untuk membantu pengendalian subsidi BBM,” kata Darwin.

Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/241941-penggunaan-bbm-birokrasi-di-daerah-dibatasi


Penyelewengan BBM Bersubsidi Kian Marak, Menteri ESDM Minta Daerah Awasi BBM Bersubsidi
Rabu, 07 September 2011 , 14:00

JAKARTA – Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh mengakui penyelewengan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi masih marak terjadi di berbagai daerah sehingga realisasi BBM yang seharusnya dinikmati oleh orang-orang yang berhak mendapatkannya cenderung membengkak.

“Realisasi BBM bersubsidi cenderung membengkak akhir-akhir ini, itu tanda-tanda masih besarnya tindak penyelewengan,’’ ungkap Darwin kepada Wartawan di sela-sela acara halal bi halal di Gedung KESDM, Rabu (7/9).

Dijelaskan Darwin, penyelewengan tersebut antara lain dilakukan oleh pelaku industri pertambangan, kebun dan lainnya yang jelas-jelas tidak memperbolehkan menggunakannya seperti yang sudah ditegaskan dalam undang-undang. Mereka ini (industri) kan menurut UU tidak diperkenankan menggunakan BBM bersubsidi, namun tetap saja membelinya,’’ katanya.

Untuk meminimalisir penyelewengan penyelewengan BBM bersubsidi di daerah, Darwin mengatakan perlu ada upaya lintas kementrian untuk mengatasinya seperti Kemendagri dan Pemerintah Daerah.

‘’Kami berharap ke depan peran dari Pemda bisa lebih ditingkatkan agar bisa menekan tindak penyelewengan tersebut. Sebab jika satu Pemda kendor dalam mengawasi itu maka dampaknya akan kena ke Pemda yang lain juga,’’ ujarnya.

Seperti diketahui, berdasarkan data yang dikeluarkan BP Migas bahwa penyaluran BBM bersubsidi hingga pertengahan tahun 2011 sudah mencapai 51 persen dari kuota yang ditetapkan dalam APBN-P 2011 yakni 40,49 juta kilo liter. (yud/jpnn).

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2011/09/07/102191/Menteri-ESDM-Minta-Daerah-Awasi-BBM-Bersubsidi-


Comments are closed.