KESDM dan Kerjasama Kelembagaan – Pesantren

Transformasi Comparative Advantage Menjadi Competitive Advantage Melalui Pendidikan
SABTU, 07 MEI 2011 00:26 WIB

JAKARTA. Pada Pembukaan Seminar Nasional CSR Pendidikan Sektor ESDM tahun 2011 di Balai Kartini Jakarta, 2 Mei 2011, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh menyampaikan bahwa sektor ESDM sebagai salah satu sektor strategis memiliki peran dalam mendukung pembangunan nasional. Peran strategis sektor ESDM antara lain melalui penyediaan pasokan energi, berkontribusi pada penerimaan Negara, mendukung pembangunan daerah melalui dana bagi hasil sektor ESDM, serta efek berantai penciptaan tenaga kerja melalui kegiatan pengusahaan di sektor ESDM.

Keseluruhan peran sektor ESDM memiliki satu muara tujuan yaitu mengkonversi keunggulan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia berupa Sumber Daya Alam (SDA) energi dan mineral yang dikenal sebagaicomparative advantage yang merupakan keunggulan bersifat “sementara” menjadi keunggulan yang bersifat kualitas (competitive advantage).

Disampaikan Menteri, momentum Hari Pendidikan Nasional menjadi tepat untuk menyampaikan bahwa transformasi comparative advantage menjadi competitive advantage dapat dijembatani oleh dunia pendidikan. Mengadopsi apa yang diungkapkan Michael Porter (1985) bahwa bangsa yang berjaya bukanlah bangsa-bangsa yang memiliki comparative advantage tetapi mereka yang memiliki competitive advantage.

Apabila kita perhatikan di Negara ini, struktur revenue paling besar berasal dari sektor ESDM, sementara pengeluaran paling besar adalah di sektor energi dan pertanian. Hal serupa juga terjadi di Meksiko dan Negara yang kaya sumber daya alam lainnya. “Maka dari itu yang jadi perhatian sekarang adalah bagaimana competitive advantage ini muncul sebagai pertaruhan, sesuatu yang harus diperjuangkan mengingat sifat “decrease of natural resources”. Jangan sampai kita terlena dengan keunggulan komparatif yang kita miliki, sehingga tantangan ke depan adalah bagaimana mentransformasi comparative advantage menjadi competitive advantagemelalui dunia pendidikan nasional,” ujar Menteri.

Di era otonomi daerah saat ini, lanjut Menteri, kita mengenal Pemerintah Pusat dan juga Pemerintah Daerah yang di-empower (diberdayakan). Daerah pun berkembang menjadi market baru bagi dunia pembiayaan. Tantangannya adalah saat ini uang berputar di daerah, sementara sumber daya manusia di daerah masih kurang. Sumber daya alam yang kuat melalui comparative advantage hendaknya didukung oleh usaha peningkatancompetitive advantage-nya. Sehingga regionalisasi otonomi daerah perlu kita lakukan dan kita isi dengan bagaimana mentransformasi comparative advantage menjadi competitive advantage melalui dunia pendidikan.

Data sensus terbaru BPS menunjukkan bahwa dari 100% angkatan kerja di Indonesia (sekitar 105-109 juta orang), 67% diantaranya bekerja di sektor nonformal, sementara sisanya sebanyak 33% bekerja di sektor formal. “Dalam 10 tahun saya harap Indonesia dapat membalik kondisi tersebut, sehingga ketika hari kerja jalanan sepi karena para pekerja berada di ladang, kantor-kantor maupun lapangan, dan ketika libur mereka akan memadati taman-taman dan tempat hiburan, seperti yang terlihat di negara-negara maju,” ujar Menteri.

Dari keseluruhan angkatan kerja tersebut, sebanyak 74% adalah berpendidikan SMP atau kurang, menunjukkan bahwa Indonesia sebagian besar digerakkan oleh produktivitas dan daya beli 74% angkatan kerja yang berpendidikan SMP atau kurang. Oleh karena itu, sektor ESDM hendaknya lebih mencermati hal ini untuk meningkatkan dan memperkuat produktivitas, misalnya dengan mendirikan pendidikan-pendidikan kejuruan sehingga dapat meningkatkan wajah tenaga kerja Indonesia yang dikirim ke luar negeri. Bila saat ini sebagian besar wajah tenaga kerja kita di luar negeri dikenal karena bergaji murah, maka ke depan kita harus mengubah pandangan tersebut sehingga wajah tenaga kerja kita yang dikirim ke luar negeri adalah wajah tenaga kerja yang skillfull dan memiliki keunggulan kompetitif.

“Sunatan masal koq disebut CSR?” demikian statement Gubernur suatu provinsi yang kaya akan migas mengilhami Menteri ESDM untuk menggelar acara seminar nasional CSR Pendidikan Sektor ESDM tahun 2011 ini. “Memang CSR dapat diwujudkan salah satunya melalui sunatan masal, tetapi lebih dari itu, CSR sektor ESDM harus lebih dalam dan lebih strategis, dengan menekankan upaya untuk mentransfer comparative advantageke competitive advantage. Inilah yang menjadi tanggung jawab bersama sektor ESDM, menjaga keberlanjutan proses transfer ini melalui dunia pendidikan antara lain dengan mendirikan sekolah-sekolah kejuruan, meningkatkan skill pelajar dan mahasiswa serta CSR yang berkontribusi memajukan sektor pendidikan nasional,” pungkas Menteri ESDM menutup sambutannya. (KO)

Sumber: http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/4469-transformasi-comparative-advantage-menjadi-competitive-advantage-melalui-pendidikan.html?tmpl=component&print=1&page=


Keunggulan Sumber Daya Alam (SDA) Bersifat Sementara
SENIN, 18 JULI 2011 08:14 WIB

JOMBANG – Berulang kali dalam beberapa kesempatan Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh mengungkapkan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan. Pengalihan (transformasi) dari keunggulan sumber daya alam menjadi keunggulan sumber daya manusia mutlak harus dilakukan karena keunggulan sumber daya alam bersifat “sementara”. Transformasi keunggulan Sumber Daya Alam (comparative advantage) menjadi keunggulan Sumber Daya Manusia (competitive advantage) dapat dijembatani melalui pendidikan

“Mentransformasi kekayaan sumber daya alam yang diberikan Tuhan ke alam Indonesia kedalam kekuatan keunggulan sumber daya manusia antara lain dengan jalan kerjasama dengan komunitas pesantren adalah satu perjuangan Indonesia kedepan,” ujar Menteri ESDM dalam sambutannya pada acara Pencanangan Kerjasama antara Badan Diklat ESDM dengan Pesantren Tebu Ireng, Sabtu (16/7/2011).

Sumber daya alam merupakan karunia Tuhan yang diamanahkan untuk dapat ditransformasikan menjadi suatu sumber daya yang berkelanjutan. Berdasarkan pemikiran tersebut maka pengelolaan sektor ESDM memiliki satu muara tujuan yaitu mengkonversi keunggulan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia berupa Sumber Daya Alam (SDA) energi dan mineral yang dikenal sebagai comparative advantage yang merupakan keunggulan bersifat “sementara” menjadi keunggulan yang bersifat kualitas (competitive advantage).

Kementerian ESDM cq. Badan Diklat ESDM menandatangani kerja sama peningkatan kualitas SDM dikalangan komunitas pesantren. Melalui program pengembangan sumber daya manusia bersama dalam bentuk pelatihan keterampilan diharapkan akan tercipta calon tenaga kerja terampil yang berkualitas dan siap menjawab kebutuhan tenaga kerja di industri tidak hanya di lingkup nasional, namun juga internasional.

Langkah Kementerian ESDM tersebut disambut baik Sholahudin Wahid (Gus Sholah) selaku Pengurus Pesantren Tebu Ireng, menurutnya, program peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan Kementerian ESDM dengan melakukan kerjasama dengan komunitas pesantren sebagai sesuatu yang luar biasa, pertama, karena belum ada Menteri ESDM lain yang pernah melakukan kegiatan ini dan mungkin tidak ada Menteri lain kecuali Menteri Agama tentunya yang melakukan kegiatan ini, hal ini menunjukkan bahwa Menteri ESDM mengganggap penting komunitas pesantren, kedua meningkatkan daya saing dan mengurangi ketimpangan “skill” masyarakat kota dengan pedesaan sehingga dapat mengurangi urbanisasi, ketiga mengurangi jumlah TKW/I dan terakhir mengurangi radikalisme Islam. “Ini saya pikir satu langkah strategis yang luar biasa”, ujarnya.

“Yang dilakukan ESDM dengan mencoba melatih santri juru las bersertifikat walaupun kecil mengandung makna yang besar, dan kita harus mengupayakan supaya pesantren sebagai bagian yang tertinggal bisa ikut maju bersama-sama dengan kecepatan yang tidak terlalu jauh ketinggalan. Kalau kita bisa melakukan itu banyak manfaat yang kita peroleh”, lanjut Gus Solah.

Sebagai langkah awal kerjasama, Kementerian ESDM telah menyusun program pelatihan keterampilan untuk tenaga juru las (welder) dengan kualifikasi cukup tinggi yang pada saat ini banyak dibutuhkan oleh industri di dalam dan luar negeri, khususnya di Negara-negara Timur Tengah. Pelatihan pengelasan dengan kualifikasi 6G/E9 tersebut akan berlangsung selama 18 (delapan belas) minggu di Pusdiklat Minyak dan Gas Bumi, Cepu, dan diikuti oleh 20 peserta/angkatan. Materi pelatihan yang akan diberikan diakui kualitasnya oleh International Institute of Welding (IIW) dan diakui secara internasional di 55 negara. (SF)

Sumber: http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/4751-keunggulan-sumber-daya-alam-sda-bersifat-sementara.html?tmpl=component&print=1&page=


Kunjungan ke Tebu Ireng
Abdul Hamid Batubara – Sabtu, 17 November 2012

Ini cerita pengalamanku berkunjung ke Tebu Ireng Juli 2011…

* * * * *

Sungguh satu kejutan manis buatku di akhir minggu kemarin. Setelah menjalani padatnya kerja di kantor dari satu rapat ke rapat berikutnya, hari kamis aku ditilpun ajudan menteri ESDM untuk ikut rombongan beliau mengunjungi Pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur hari Sabtu. Berangkat Jumat malam.

Tujuan kunjungan adalah untuk penandatangan nota kesepahaman antara ESDM dan Pesantren Tebu Ireng mengenai kemungkinan kerja sama. Niatnya luhur: Menggantikan TKI wanita Indonesia yang menjadi pembantu rumah tangga menjadi TKI pria Indonesia yang menjadi operator migas di Timur Tengah.

Kenapa dengan pesantren? Menurut Pak Darwin Saleh, beberapa pesantren memiliki santri dengan jumlah yang luar biasa besar, dan selain mendalami agama, juga belajar bahasa Arab dan ilmu umum seperti yang diajarkan di SMA.

Kenapa Tebu Ireng? Menurut Pak Darwin, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia adalah Pesantren Tebu Ireng. Banyak tokoh nasional muncul dari pesantren ini.

Kenapa Chevron diajak? Menurut Pak Darwin, Chevron selama ini sangat concern dengan pendidikan di Indonesia. Beliau ingin Chevron menjadi bagian dari rencana beliau. Memang selama perjalanan, beliau banyak menjelaskan visi beliau yang sebenarnya sangat sejalan dengan nuraniku.

Terus terang, sejak awal (pertama aku mendengar langsung cerita dari seorang dokter berkebangsaan Kashmir di medinah saat naik haji tahun 1990an), aku sangat miris mendengar cerita perlakuan tak manusiawi terhadap wanita Indonesia yang menjadi pembantu di Saudi.

Aku juga sangat “concern” dengan psikologi anak2 mereka kelak yang notabene tanpa kasih sayang ibu untuk waktu yang cukup panjang. Sementara banyak laki-laki yang mengandalkan penghasilan istri mereka. Keadaan yang mungkin menjadi permasalahan tersendiri bagi bangsa ini kelak.

Aku bertanya kepada nuraniku, banggakah aku sebagai bangsa Indonesia, saat mendengar berita ratusan ribu wanita Indonesia bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga? Jawaban nuraniku lantang: TIDAK!!!

Aku akan bangga jika mendengar berita ratursan ribu pria Indonesia bekerja di luar negeri sebagai operator di bidang migas.

Insya Allah dengan senang hati aku ingin menjadi bagian dari satu rencana besar pak Menteri ESDM walaupun aku juga harus bekerja extra melakukan pendekatan kepada pak Muhaimin dan Pak Nuh…

Pe-Er ku yang terbesar adalah bagaimana menjelaskan rencana ini ke atasanku di kantor yang pada dasarnya adalah Perusahaan Amerika. Aku sampaikan juga masalah ini kepada Pak Darwin dan beliau akan coba membantu. Aku yakin pasti ada jalan keluarnya.

Kunjungan yang singkat, namun sangat berkesan. Sempat ziarah ke makam KH Hasyim Ansyari, KH Wahid Hasyim, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sempat juga ngobrol akrab dengan Gus Solah walaupun sebentar. Adem.

Sumber: http://batubarahamid.blogspot.com/2012/11/pengalaman-ke-tebu-ireng.html


Menteri ESDM Buka Diklat dan Sertifikasi Juru Las
SELASA, 09 AGUSTUS 2011 12:07 WIB

JAKARTA – Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh didampingi Kepala Badan Diklat ESDM dan Pejabat Eselon I dan II dilingkungan Kementerian ESDM melalui video conferencemembuka secara resmi Pendidikan dan latihan dan sertifikasi juru las. Peserta diklat dan sertifikasi kompetensi Juru Las berjumlah 20 orang peserta, yang berasal dari 11 peserta dari Pondok Pesantren Tebu Ireng, 5 peserta dari Urwatul Wustqo, 1 peserta dari Tambakberas, 1 peserta dari At-Tadhib Ngoro dan 2 peserta dari masyarakat umum.

“Penyelenggaraan diklat dan sertifikasi kompetensi Juru Las ini merupakan implementasi kerja sama antara Kementerian ESDM cq. Badan Diklat ESDM dengan Komunitas Pesantren,” ujar Menteri ESDM dalam sambutannya melalui Video Conference, Selasa (9/8/2011).

“Pelatihan ini, intinya adalah sektor ESDM beserta pondok pesantren sebagai salah satu pilar utama masyarakat dan bangsa Indonesia bertekad untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan memberikan bekal teknis bagi santri,” tutur Menteri ESDM.

Ditambahkannya, Kementerian ESDM sebagai salah satu tangan pemerintah insya Allah akan berkomitmen penuh untuk menjalankan amanah yang diberikan rakyat dengan menyelenggarakan pemerintah yang berkeadilan, juga menjalankan amanah dari Allah SWT yang melimpahkan Indonesia bukan hanya dengan penduduk yang banyak namun juga dengan sumber daya alam yang banyak.

Langkah kecil berupa pelatihan ini menurut Menteri akan menjadi langkah lanjutan yang akan berwujud menjadi gerakan besar mentransformasi keunggulan sumber daya alam ke keunggulan sumber daya manusia. Karena pelatihan ini mensyaratkan para peserta lulus ujian sertifikasi dan kompetensi, Menteri berharap peserta yang berjumlah 20 orang dapat lulus dengan hasil yang baik dan menjadi sumber daya manusia yang kerja terampil yang berkualitas dan siap menjawab kebutuhan tenaga kerja baik di di lingkup nasional, namun juga internasional. dengan lingkungan kerja yang baik. “insya dengan ridho Allah SWT itu semua dapat terwujud,”tutup Menteri.

Pendidikan dan latihan bagi santri ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Bapak Menteri ESDM ke Pondok Pesantren Tebuireng pada tanggal 16 Juli 2011 lalu, dalam rangka silaturahmi khususnya dengan para pengasuh, pengurus, anak didik Pondok Pesantren Tebuireng, dan dengan masyarakat Kabupaten Jombang pada umumnya, serta membicarakan peluang dan rencana kerja sama selanjutnya antara KESDM dengan Komunitas Pesantren di Indonesia.

Program pengembangan sumber daya manusia melalui penyiapan calon tenaga kerja terampil yang berkualitas dan siap menjawab kebutuhan tenaga kerja di industri tidak hanya di lingkup nasional, namun juga internasional. Program pelatihan dilaksanakan berdasarkan pada kompetensi Juru Las (welder) yang mengacu pada standar pelatihan berbasis kompetensi International Institute of Welding (IIW). Durasi pelaksanaan direncanakan 659 jam pelajaran (@ 45 menit) dan 1 (satu) Minggu ujian sertifikasi kompetensi untuk mendapatkan sertifikasi kompetensi Juru Las (Welder). (SF)

Sumber: http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/4833-menteri-esdm-buka-diklat-dan-sertifikasi-juru-las.html


Comments are closed.