Batubara

Menteri ESDM: Peran Strategis Batubara Perlu Ditingkatkan
JUM’AT, 06 MEI 2011 12:42 WIB

JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Darwin Zahedy Saleh menyampaikan, peran strategis batubara dalam pemenuhan energi nasional perlu terus ditingkatkan, khususnya pemanfaatan batubara dengan teknologi yang ramah lingkungan. “Tingginya harga minyak telah menyebabkan batubara memiliki posisi strategis untuk pemenuhan energi, baik di tingkat nasional, regional maupun global,” demikian disampaikan Menteri ESDM pada pelantikan pejabat eselon I di lingkungan Kementerian ESDM, di Jakarta, Jumat (06/05/2011).

Menteri menjelaskan, peran batubara dalam pemenuhan energi nasional terus mengalami peningkatan dari 41 juta ton pada tahun 2005 menjadi 67 juta ton pada tahun 2010. Sementara itu, dalam bauran energi nasional, proporsi batubara pada tahun 2005 sebesar 19% dan menjadi 23% pada tahun 2010. “Proporsi ini ditargetkan terus meningkat mencapai 33% di tahun 2025,” ujar Menteri.

Di bidang pembangkitan ketenagalistrikan, lanjut Menteri, batubara sebagai sumber energi mampu bersaing dengan sumber energi lainnya, seperti bahan bakar minyak. Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik dari batubara sekitar Rp. 700/Kwh dan untuk listrik dari bahan bakar minyak lebih besar dari Rp 2.000/Kwh. “Disini, Dirjen Minerba dan Dirjen Listrik perlu terus bekerjasama untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar minyak dan gas,” tegas Menteri.

Kepada Dirjen Minerba yang baru, Menteri ESDM berpesan bahwa tantangan ke depan pengelolaan batubara antara lain adalah cadangan batubara akan habis dalam waktu 80 tahun. Hal ini mengacu pada jumlah cadangan sebesar 21,13 miliar ton dan tingkat produksi sebesar 275 juta ton per tahun untuk tambang terbuka.

Tantangan lain, saat ini batubara masih dipandang secara konvensional, yakni hanya sebagai sumber penerimaan negara. “Untuk itu perlu diupayakan agar batubara dapat dipandang sebagai andalan energi primer yang ekonomis bagi kegiatan produksi di Indonesia,” ujar Menteri. Di sisi lain, aksesibilitas batubara masih perlu ditingkatkan, antara lain melalui pembangunan infrastruktur batubara. “Menjadi tantangan bersama Dirjen Minerba dan unit-unit maupun Kementerian lain untuk mendukung percepatan pembangunan infrastuktur batubara sehingga dapat mencapai target yang diharapkan,” pungkas Menteri ESDM. (KO)

Sumber: http://www.esdm.go.id/berita/batubara/44-batubara/4477-menteri-esdm-peran-strategis-batubara-perlu-ditingkatkan.html


Surat dari mantan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh
Minggu , 29 Januari 2012

KBRN, Jakarta: Sahabat, pernahkah mendengar wacana agar seminar atau konferensi-konferensi di Indonesia jangan hanya cenderung di Bali saja. Presiden pernah mngemukakan hal itu. Memang ironis, mengingat fakta 49% potensi batubara Indonesia ada di Kalimantan, 45% potensi gas ada di Kalimantan dn Natuna, tetapi konfrensi internasionl batubara atau gas masih terus di Bali sekalipun sudah overloaded.

Apakah bisa kita mewujudkan wacana atau impian itu? Dalam penerbangan dari Bali ke Kalimantan, saya berbincang serius dengan seorang pengusaha batubara papan atas tentang itu. Kami berkeyakinan, nasionalisme dan dedikasi pejabat kunci dan pengusaha yang visioner akan mampu mewujudkan itu, khususnya di daerah-daerah, yang selama ini tanahnya terus dieksploitasi namun prekonomiannya relatif lmbat brkembang.

Tengoklah, the Mines Resort, di Selangor Malaysia, suatu fasilitas hotel,lapangan golf 18 hole yang indah, dan sering menjadi tempat konferensi internasional dan lain sebagainya. Dulu, di lokasi seluas 246 acre itu, tahun 1982 suatu kegiatan penambangan timah terbesar di dunia berakhir (setelah terus dieksloitasi sejak 1906), meninggalkan lubang raksasa yang menganga, terbengkalai. Berkat visi Tan Sri Lee Kim Yew, dibantu arsitek Robert Trent Jones, kini menjadi resort dengan danau seluas 150 acre.

“Saya tidak mau disalahkan generasi mndatang Kak, bila setelah berakhir kegiatan PKP2B di tempat saya, tingkat kesejahteraan rakyat masih rendah dan penambangan hanya menyisakan lubang-lubang menganga yang terbengkalai,” dmikian kata sang pengusaha yg memanggil saya ‘kakak’ itu. Saya teringat kutipan Prof Katili (geolog kebanggaan Indonesia), jangan sampai kita gagal mentransformasikan hasil Sumber Daya Alam kita jadi suatu kekuatan modal sosial (social capital), agar tidak ditangisi oleh generasi mendatang yang tetap hidup dalam lumpur kemiskinan.

Di atas pesawat itu, kami berkeyakinan, bahwa pengaruh seorang Menteri ESDM dan cita-cita kaum usahawan batubara atau gas, akan mampu mengubah bekas lahan tmbang jadi fasilitas rekreasi yang indah, sehingga lambat laun menggeser setiap konferensi tentang batubara atau gas diselenggarakan di Kalimantan atau Sumatera. Orang pasti akan mendukung, demi pemerataan pembangunan bangsa, dmikian kami bertekad saat itu.
“All of this will not be finished in the life of this administration, nor even perhaps during our lifetime on this planet, but let’s begin,” kata JFK. Salam Indonesia, Minggu (29/1). (A Sarinah/DZA/WDA)
(Editor : Waddi Armi)

Sumber: http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/8607


Penerimaan Sektor ESDM Lampaui Target
Jakarta, 1 Januari 2011 08:38

Kementerian ESDM mengklaim, penerimaan sektor energi dan sumber daya mineral sepanjang 2010 melampaui target yang ditetapkan dalam APBN Perubahan 2010. Menteri ESDM Darwin Saleh di Jakarta, Jum`at (31/12), mengatakan, penerimaan subsektor minyak dan gas bumi pada 2010 mencapai Rp 219,2 triliun atau 102% dibandingkan target APBN Perubahan sebesar Rp 215 triliun. “Penerimaan terbesar berasal dari PNBP SDA migas Rp 152,05 triliun, disusul PPh Rp 58,9 triliun dan PNPB lainnya Rp 8 triliun,” katanya.

Menurut Darwin, target produksi minyak terjual (lifting) memang hanya 954.000 barel per hari atau 99% dari target APBN Perubahan 965.000 barel per hari. Dari sisi produksi minyak juga hanya 945.000 barel per hari atau 98% dari target APBN Perubahan 965.000 barel per hari. Namun, produksi gas bumi mencapai 8.888 juta kaki kubik per hari atau lebih tinggi dari target APBN Perubahan 2010 sebesar 7.758 juta kaki kubik per hari. Darwin juga mengatakan, penerimaan negara dari subsektor mineral dan batubara melampaui target APBN Perubahan 2010.

Penerimaan subsektor mineral dan batubara tercatat Rp 66,33 triliun atau naik 9,1% dibandingkan target APBN Perubahan sebesar Rp 60,8 triliun. Capaian penerimaan tersebut berasal dari PNBP sebesar Rp 18,29 triliun atau 120% dibandingkan target Rp 15,2 triliun dan pajak Rp 48,04 triliun atau 105% dibandingkan target Rp 45,6 triliun. Pada 2010, produksi batubara tercatat 275 juta ton atau 102% dibandingkan target 270 juta ton. Realisasi batubara buat domestik mencapai 67 juta ton atau 103% dari target 64,96 juta ton.

Sementara, produksi tembaga 989.953 ton atau 106% dari target 930.000 ton, emas 111 ton (107 ton), perak 323 ton (355 ton), timah 78.965 ton (90.000 ton), nikel matte 78.336 ton (77.000 ton), ferronikel 17.970 ton (15.000 ton), bijih nikel 6.561.404 ton (6.200.000 ton), dan bauksit 7.148.124 (7.500.000 ton). “Penerimaan dari panas bumi tercatat Rp 282 miliar atau 116% dibandingkan target Rp 244 miliar,” ujar Darwin. [EL, Ant]

Sumber: http://arsip.gatra.com/2011-01-01/artikel.php?id=144232


Pemerintah Tak Bangga RI Jadi Eksportir Batu Bara Terbesar
Idris Rusadi Putra – Senin, 31 Januari 2011 15:52 wib

JAKARTA – Pemerintah menyatakan kurang bangga atas predikat Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia untuk saat ini dan akan mengkoreksi kembali pencapaian tersebut.

“Ini adalah kebanggaan yang harus kita dikoreksi kembali,” ujar Menteri ESDM Darwin Z saleh di kantornya, Jakarta, Senin (31/1/2011).

Menurut Darwin, yang dipermasalahkan bukanlah terkait mekanisme ekspor yang salah atau perdagangan yang salah tetapi lebih pada pemanfaatan dan penghematan energi buat bangsa sendiri. “Bukan soal berdagang salah tapi menghemat apa yang kita memiliki untuk kebutuhan kita sendiri,” tambahnya.

Namun, Darwin juga menjelaskan jika ekspor batu bara tersebut ditutup sepenuhnya juga itu tidak baik, karena akan mengurangi investor yang akan berinvestasi ke indonesia. Oleh karena itu, diperlukan adanya sikap kehati-hatian dalam pengembangan bisnis tersebut baik dalam jangka pendek maupun jangka panjangnya.

“Mulai sekarang akan sangat konservatif dan penuh kehati-hatian, mengembangkan bisnis kemineralan dengan investor dan pertimbangan jangka pendek dan panjang. Pertimbangan jangka pendek, kalau ekspor kita tahan itu tidak baik juga karena tidak ada investor dan kita tidak akan berkembang” tandasnya.

Sekadar informasi, kebutuhan batu bara dalam negeri diperkirakan sebesar 78,97 juta ton di 2011 mendatang. Angka tersebut diperoleh dari perkiraan produksi batu bara sebesar 326,65 juta ton. Maka pada 2011 persentase minimal penjualan batu bara oleh Badan Usaha Pertambangan Batubara untuk kepentingan dalam negeri adalah minimal sebesar 24,17 persen.(adn)(rhs)

Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2011/01/31/320/419844/pemerintah-tak-bangga-ri-jadi-eksportir-batu-bara-terbesar


Pemakaian Batu Bara Akan Ditingkatkan
Evy Rachmawati | Erlangga Djumena | Jumat, 6 Mei 2011 | 14:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan mendorong peningkatan proporsi pemakaian batu bara dalam bauran energi nasional. Hal ini diharapkan dapat menekan konsumsi bahan bakar minyak seiring dengan tingginya harga minyak mentah di pasaran. Demikian disampaikan Menteri ESDM Darwin Zahedy dalam sambutan tertulisnya pada acara pelantikan pejabat eselon I di lingkungan Kementerian ESDM, Jumat (6/5/2011) di Jakarta. Dalam acara itu, Thamrin Sihite yang semula menjabat Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan ESDM Kementerian ESDM dilantik menjadi Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM.

Pada kesempatan yang sama, Mochamad Teguh Pamudji yang semula menjadi Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Sosial Kemasyarakatan Kementerian ESDM dilantik menjadi Kepala Badiklat ESDM Kementerian ESDM. Sementara Ronggo Kuncahyo yang sebelumnya menjabat Direktur Pembinaan Pengusahaan Kelistrikan Kementerian ESDM dilantik menjadi Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Sosial Kemasyarakatan Kementerian ESDM.

Darwin menjelaskan, tingginya harga minyak telah menyebabkan batu bara memiliki posisi strategis untuk pemenuhan energi, baik di tingkat nasional, regional, maupun global. Sejauh ini, peran batu bara dalam pemenuhan energi nasional terus naik dari 41 juta ton pada tahun 2005 menjadi 67 juta ton pada tahun 2010.

Dalam bauran energi nasional, proporsi batu bara tahun 2005 sebesar 19 persen dan menjadi 23 persen pada tahun 2010. Pemerintah menargetkan untuk terus meningkatkan proporsi batu bara dalam bauran energi nasional hingga mencapai 33 persen tahun 2025. Di bidang pembangkitan ketenagalistrikan, batu bara sebagai sumber energi mampu bersaing dengan sumber energi lainnya, seperti bahan bakar minyak. Biaya pokok produksi (BPP) listrik dari batu bara sekitar Rp 700 per kWh dan untuk listrik dari bahan bakar minyak lebih besar dari Rp 2.000 per kWh.

Menurut data Kementerian ESDM, tingkat produksi batu bara sebesar 275 juta ton per tahun untuk tambang terbuka. Adapun cadangan batu bara diperkirakan akan habis dalam 80 tahun ke depan. Hal ini mengacu pada jumlah cadangan 21,13 miliar ton dan tingkat produksi 275 juta ton per tahun untuk tambang terbuka. “Namun, selama ini batu bara masih dipandang secara konvensional, yakni hanya sebagai sumber penerimaan negara. Untuk itu, perlu diupayakan agar batu bara dipandang sebagai andalan energi primer yang ekonomis bagi kegiatan produksi di Indonesia. Aksesibilitas batu bara masih perlu ditingkatkan, antara lain melalui pembangunan infrastruktur batu bara,” ujarnya.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/06/14195750/Pemakaian.Batu.Bara.Akan.Ditingkatkan.


Indonesia to Maintain Coal Exports, Make Local Supply Mandatory
By Dinakar Sethuraman and Yoga Rusmana – May 30, 2011 10:36 AM GMT+0700

Indonesia will continue to encourage exports of coal while making it mandatory for miners to meet domestic demand, Indonesian Energy Minister Darwin Saleh said at the Coaltrans Asia conference in Bali today. Indonesia will maintain its “dual role” of generating government export revenue and meeting domestic demand, Saleh said. The country is trying to strike a balance between exports, which account for 75 percent of production, and supplying locally, he said. The world’s biggest exporter of thermal coal is building 20 gigawatts of capacity by 2014 of which 14 gigawatts will be coal-fired, Saleh said. Coal production increased 16 percent annually over the last 5 years, he said.

Source: http://www.bloomberg.com/news/2011-05-30/indonesia-to-maintain-coal-exports-make-local-supply-mandatory.html


Darwin: Pengusaha Batubara Harus Utamakan Domestik
Hidayat Tantan, tantan@tambang.co.id – TAMBANG, 30 Mei 2011 | 15.51

Nusa Dua – TAMBANG. Pameran dan konferensi internasional tahunan batubara, Coaltrans Asia ke-17, secara resmi dibuka oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh, di Bali International Convention Centre, Nusa Dua.

Dalam kesempatan itu, Darwin menekankan, pengusaha batubara Indonesia harus mengutamakan kepentingan pasokan energi di dalam negeri, ketimbang mengirim batubaranya untuk pasar luar negeri.

“Pengusaha harus mengutamakan kepentingan domestik terlebih dahulu, baru kemudian ekspor,” ujar Darwin di hadapan sekitar 1.500 peserta konferensi dari dalam maupun luar negeri.

Ini merupakan kali pertama Darwin membuka Coaltrans Asia, karena tahun sebelumnya Menteri ESDM batal membuka secara resmi even tersebut. Coaltrans Asia ke-17 di Nusa Dua, telah berlangsung sejak 29 Mei, dan akan berakhir pada 1 Juni 2011.

Darwin menjelaskan, batubara menjadi sangat penting dalam kebijakan energi nasional Indonesia, sesuai dengan kebijakan energi mix. Indonesia menargetkan terus menerus mengurangi penggunaan bahan bakar minyak terutama untuk listrik, digantikan dengan sumber energi alternatif termasuk batubara.

Untuk saat ini, bahan bakar minyak masih memegang peranan 51% lebih dalam bauran energi (energy mix) nasional Indonesia. Pemerintah menargetkan, pada 2025 penggunaan bahan bakar minyak dalam energy mix tinggal 20%.

Pada 2025, pemerintah menargetkan penggunaan batubara dalam energy mix nasional menjadi 33%, dari total saat ini yang hanya sekitar 15%. Sedangkan untuk gas ditargetkan menjadi 30% dan energi baru terbarukan 17% dalam energy mix 2025.

Source: http://www.majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=3915


75 Persen Produksi Batubara Nasional Diekspor
Selasa, 31 Mei 2011 08:43 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Kementerian ESDM menyebutkan 75 persen dari total produksi batubara diekspor. Ekspor Batubara ini diekspor utamanya ke Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Eropa.

Sebagian besar dari kualitas batubara ekspor batubara sub-bituminous dan bituminous. Sedangkan batu bara peringkat rendah terutama digunakan untuk pasar domestik.

“Indonesia akan terus memungkinkan peran ganda batubara, yaitu sebagai sumber penerimaan negara, serta untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri,” kata Menteri ESDM, Darwin Saleh, saat membuka The 17th Annual Coaltrans Asia, dikutip dari kementerian ESDM, Selasa (31/5/2011).

Lebih lanjut, Menteri menjelaskan kenaikan permintaan batubara dalam negeri akan sejalan dengan program akselerasi untuk membangun 10.000 MW kapasitas listrik di tahap I dan satu lagi 10.000 MW di tahap II.

Pada tahap I, menurutnya, pembangkit listrik adalah 100 persen batu bara. Untuk tahap II, pembangkit listrik akan terdiri 40 persen batu bara dan sisa 60 persen dari energi baru dan terbarukan, terutama panas bumi.

Dijelaskan total sumber daya batubara di Indonesia diperkirakan mencapai 105 miliar ton, dimana cadangan batu bara diperkirakan 21 miliar ton. tambang batubara utama berlokasi di Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Produksi batubara meningkat sebesar 16% per tahun selama 5 tahun terakhir.

Lebih lanjut, dia menerangkan pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar akan terus diupayakan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi.

Dalam aspek regulasi, Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri ESDM No 34 tentang Prioritas Mineral dan Batubara Pasokan Kebutuhan Dalam Negeri. Sesuai Keputusan ini, Domestik Market Obligation (DMO) adalah wajib bagi semua perusahaan pertambangan batubara.

“Kewajiban DMO sebenarnya juga dinyatakan dalam Kontrak Karya Batubara (Timbara). Perusahaan dapat mengekspor bagian produksi setelah kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi,” urainya.

Pemerintah telah mengatur harga penjualan batubara yang tercantum dalam Peraturan Menteri Nomor 17/2010, tentang prosedur untuk menetapkan harga patokan dan penjualan mineral dan batubara. Dengan diterbitkannya peraturan ini diharapkan dapat memberikan kepastian acuan bagi produsen dan konsumen batubara, serta mengoptimalkan penerimaan negara harga bagi produsen batubara dan pemain bisnis di Indonesia.

Terkait dengan peningkatan nilai tambah batubara, dalam Undang-Undang Nomor 04/2009 mengamanatkan bahwa semua mineral dan batubara harus diproses di Indonesia. “Ini merupakan salah satu upaya kami untuk mengoptimalkan manfaat dari industri pertambangan bagi rakyat Indonesia. Keberhasilan kebijakan ini akan meningkatkan penerimaan negara, pekerjaan baru terbuka / lapangan kerja, dan menciptakan efek multiplier batubara,” ujar Menteri. (Penulis: Srihandriatmo Malau;
Editor: Budi Prasetyo)

Source: http://m.tribunnews.com/2011/05/31/75-persen-produksi-batubara-nasional-diekspor


Produksi batubara Indonesia sebanyak 75% untuk pasar ekspor
Oleh Noverius Laoli – Rabu, 01 Juni 2011 | 12:06 WIB

JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, saat ini 75% dari total produksi batubara Indonesia dialokasikan untuk pasar ekspor. Tujuan Ekspor batubara tersebut terutama ke Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Eropa. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh mengatakan, sebagian besar dari kualitas batubara yang diekspor adalah sub-bituminous dan bituminous. Sedangkan batubara peringkat rendah terutama digunakan untuk pasar domestik.

“Indonesia akan terus memungkinkan peran ganda batubara, yaitu sebagai sumber penerimaan negara, serta untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri,” ujar Darwin. Sebab kebutuhan batu bara di dalam negeri pun terus meningkat. Kenaikan ini sejalan dengan program akselerasi untuk membangun 10.000 MW kapasitas listrik di tahap I dan satu lagi 10.000 MW di tahap II. Darwin berjanji, akan terus meningkatkan pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. Untuk itu, pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri ESDM No 34 tentang Prioritas Mineral dan Batubara Pasokan Kebutuhan Dalam Negeri. Sesuai Keputusan ini, Domestik Market Obligation (DMO) adalah wajib bagi semua perusahaan pertambangan batubara.

Sebagai catatan, produksi batubara meningkat sebesar 16% per tahun dalam lima tahun terakhir. Indonesia masih memiliki sumber daya batubara sebesar 105 miliar ton, dengan cadangan 21 miliar ton. Tambang-tambang batubara tersebut terdapat di Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Sumber: http://industri.kontan.co.id/news/produksi-batubara-indonesia-sebanyak-75-untuk-pasar-ekspor-1


Cadangan Batubara RI Akan Habis dalam 80 Tahun
Posted by bangferry on July 2, 2011

Jakarta – Peran batubara sebagai sumber energi terus mengalami peningkatan. Namun pengelolaan batubara harus dilakukan dengan hati-hati karena cadangan batubara Indonesia akan habis dalam 80 tahun. Demikian disampaikan oleh Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh saat melantik Dirjen Mineral dan Batubara Thamrin Sihite, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (6/5/2011). Darwin mengatakan, peran batubara dalam pemenuhan energi nasional terus mengalami peningkatan dari 41 juta ton di 2005 menjadi 67 juta ton di 2010. Sementara itu, dalam bauran energi nasional, proporsi batubara di 2005 sebesar 19% dan menjadi 23% di 2010.

“Proporsi ini ditargetkan terus meningkat mencapai 33% di 2025,” ujar Menteri. Selain itu, di sektor listrik, penggunaan batubara membuat biaya produksi listrik jauh lebih murah. Darwin mengatakan, Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik dari batubara sekitar Rp 700/Kwh dan untuk listrik dari bahan bakar minyak lebih besar dari Rp 2.000/Kwh.

“Di sini, Dirjen Minerba dan Dirjen Listrik perlu terus bekerjasama untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar minyak dan gas,” jelas Darwin. Darwin mengatakan kepada Thamrin, tantangan pengelolaan batubara ke depan penuh tantangan karena cadangan batubara Indonesia akan habis dalam 80 tahun. “Jumlah cadangan sebesar 21,13 miliar ton dan tingkat produksi sebesar 275 juta ton per tahun untuk tambang terbuka,” jelasnya. “Menjadi tantangan bersama Dirjen Minerba dan unit-unit maupun Kementerian lain untuk mendukung percepatan pembangunan infrastuktur batubara sehingga dapat mencapai target yang diharapkan,” tukas Darwin.

Sumber: http://caritambangbatubara.com/2011/07/02/cadangan-batubara-ri-akan-habis-dalam-80-tahun/


Indonesia Allocates 82 Million Tons of Coal to Local Market
By Yoga Rusmana – Sep 9, 2011 3:06 PM GMT+0700

The Indonesian government increased the amount of coal that producers must set aside in 2012 to meet domestic demand by 4 percent from this year. The producers’ domestic market obligation was raised to 82.07 million metric tons, or 25 percent of the country’s estimated output of 332 million tons in 2012, according to a decree signed by Energy and Mineral Resources Minister Darwin Saleh on Aug. 25 and published on the ministry’s website today. The obligation this year is 78.97 million tons, the ministry said on Oct. 4.

Indonesia is boosting the use of coal as crude oil output declines because of aging fields. Southeast Asia’s biggest economy is adding 20 gigawatts of power capacity by 2014, of which 70 percent will use coal as fuel, Saleh said on May 30. PT Perusahaan Listrik Negara, the state utility, will need 57.2 million tons of coal with gross heating value of between 4,000 and 5,200 kilocalories per kilogram next year, or about 70 percent of the total allocation, according to the decree.

Private power generators will take 10.8 million tons, while cement producers will use 8.4 million tons. PT Arutmin Indonesia and PT Kaltim Prima Coal, units of the country’s biggest producer PT Bumi Resources, will set aside a total of 19.3 million tons, according to the decree. PT Adaro Indonesia, the mining unit of PT Adaro Energy, and PT Kideco Jaya Agung, will allocate 11.7 million tons and 8.03 million tons, respectively. Adaro and Kideco are the country’s second and third-largest producers of the fuel.

Source: http://www.bloomberg.com/news/2011-09-09/indonesia-to-set-aside-82-07-mln-tons-of-coal-for-local-market.html


RI Mampu Jadi Pengekspor Batu Bara Terbesar Dunia
Muhammad Rifai – Okezone – Kamis, 31 Maret 2011 11:35 wib

JAKARTA – Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh mengaku heran dengan Indonesia yang telah menjadi pengekspor batu bara terbasar di dunia. Kendati Indonesia tak memiliki cadangan batu bara terbesar.

Hal ini disampaikan Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh dalam sambutannya di acara “Sosialisasi Pembatasan BBM Bersubsidi”, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (31/3/2011).

“Meski bukan sebagai pemilik cadangan dan produsen batu bara terbesar di dunia, namun bangsa Indonesia mampu menjadi negara pengekspor batu bara terbesar di dunia,” ujarnya.

Darwin menjelaskan, bila Indonesia menjadi negara pengekspor batu bara terbesar di dunia merupakan tantangan buat Indonesia.

“Cadangan batu bara Indonesia masih bisa diproduksi hingga ratusan tahun ke depan. Sedangkan untuk cadangan gas hanya bertahan hingga 63 tahun ke depan,” jelasnya.

Di sisi lain, untuk lifting minyak, diakui Darwin ada penurunan. Di mana juga terjadi di negara-negara Timur Tengah sebagai produsen terbesar minyak di dunia. “Penurunan itu dikarenakan banyak hal mulai dari sumur tua, kendala cuaca dan lain-lain, sehingga produksi menurun,” pungkasnya.
(ade)

Sumber: http://news.okezone.com/read/2011/03/31/320/440845/ri-mampu-jadi-pengekspor-batu-bara-terbesar-dunia


Darwin Saleh Bantah DEN Usulkan Stop Ekspor Batubara
Nurseffi Dwi Wahyuni – detikfinance – Kamis, 21/01/2010 10:54 WIB

Jakarta – Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Darwin Saleh membantah adanya usulan DEN untuk penghentian ekspor batubara secara bertahap. “Tidak ada rencana DEN untuk penghentian ekspor batubara,” ujar Darwin dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (21/1/2010). Menurut Darwin, DEN melihat saat ini kegiatan ekspor batubara yang dilakukan pemerintah masih cukup besar sehingga DEN merekomendasikan agar hal direview. “Batubara relatif banyak diekspor. Tapi yang penting pasokan batubara di dalam negeri tetap terjamin,” kata Darwin yang saat ini juga menjabat sebagai Menteri ESDM. Darwin menambahkan saat ini DEN tengah menyusun Kebijakan Energi Nasional yang ditargetkan selesai pada bulan Maret 2010. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional untuk mendukung pembangunan nasional berkelanjutan dan menjadi panduan bagi seluruh sektor dalam menyusunnya terkait dengan energi.

Beberapa isu lintas sektor yang sudah diidentifikasi saat ini antara lain harga energi, pembiayaan infrastruktur energi, pemanfatan sumber daya energi di kawasan hutan lindung, penurunan emisi dari sektor energi, efisiensi pemanfaatan energi di sektor transportasi, alih teknologi dan pengembangan teknologi domestik di sektor listrik, pengembangan energi terbarukan, alokasi gas untuk energi dan non energi (pupuk) dan depletion premium. “Selain itu, kita juga rumuskan langkah-langkah percepatan penyelesaian krisis listrik yang tengah terjadi,” katanya.

Anggota DEN Rinaldi Dalimi dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI sebelumnya mengatakan, DEN mengusulkan penghentian ekspor batubara secara bertahap kepada pemerintah. selama ini sebagian besar batubara yang dihasilkan dalam negeri dijual ke luar negeri melalui ekspor. Padahal, kebutuhan dalam negeri sendiri masih cukup besar.

Sumber: http://idsaham.com/news-saham-Darwin-Saleh-Bantah-DEN-Usulkan-Stop-Ekspor-Batubara-40638.html


Comments are closed.