Hidup Mati di Negeri Cincin Api

Date: 22/12/2012

Sahabat, apa kabar? Ada buku bagus baru diterbitkan Kompas group, “Hidup Mati di Negeri Cincin Api (2012)”, buku catatan hasil ekspedisi 1 tahun Tim Kompas keliling Indonesia, kembali mengungkapkan betapa spesial bumi yg kita pijak. Sebelumnya, Tim Kopassus-AD (2011), juga telah menerbitkan catatan hasil Ekspedisi Bukit Barisan, yang mengajak kita peduli pada kelestarian alam Indonesia dan sadar pada potensi bencana. Berbeda dengan pemahaman banyak kita selama ini bahwa tanah air kita kaya dengan beragam dan jumlah sumber daya mineral, flora dan fauna; buku Kompas itu banyak mengulas potensi bencana di bawah bumi tempat kita berpijak. Pada hakekatnya, ada wajah menyenangkan dan mengerikan dari alam Indonesia kita ini. Memang, di sinilah keindahan itu terlihat, di sinilah terdapat kandungan mineral (nikel, timah, batubara), migas, panas bumi terbesar di dunia, termasuk emas di Papua (dituliskan kedua terbesar di dunia, tapi sumber ahli kami dari Australia menyebutkan Indonesia punya emas terbesar di dunia). Tapi,di sini pulalah bencana terbesar sejak ribuan tahun lalu pernah terjadi. Di nusantara inilah pertemuan 3 lempeng benua, sehingga di tanah air kita ini lah tempat rangkaian gunung api terbanyak di dunia, dan terjadi 3 dari 5 letusan gunung api terdahsyat dalam sejarah dunia (Gunung Toba, Gunung Krakatau Purba, dan Gunung Tambora). Kompas dan Kopassus adalah pilar dalam masyarakat yang sudah menuntaskan ekspedisi potensi kekayaan alam dan kebencanaan di Indonesia. Akan bagus bila ada pihak-pihak lain yang juga terpanggil melakukan ekspedisi ketahanan nasional, dengan fokus pada aspek keadilan dan pemerataan ekonomi. Karena, ketahanan nasional kita masih rentan bila harga BBM masih berbeda antara di Papua dan Jawa. Ketahanan nasional kita masih terkendala bila pembangunan infrastruktur-infrastruktur masih terbatas dan hanya banyak di Jawa dan Sumatera. Sehingga sumber daya alam kita kurang termanfaatkan optimal untuk keperluan dalam negeri,di mana gas dan batubara masih banyak diekspor. Jadi, diperlukan juga ekspedisi kasus riel untuk menengarai potensi yang dapat mengusik rasa persatuan dan keadilan. Salam Indonesia.

Refleksi Pembaca Inspirasi:

  • Berkah atau Bencana? Sikap Kitalah yang Menentukan
  • Oleh C Ramadona Putra: http://padepokankurawa.wordpress.com/category/tulisan/kaum-muda-bicara-indonesia/

  • Pesona Hidup di Negeri Cincin Api?
  • Oleh Ni Made Wiwik Astuti: http://kadek-whyk.blogspot.com/2014/01/pesona-hidup-di-negeri-cincin-api.html

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>