Mengenang Pemimpin Teladan

Date: 28/10/2012

Sahabat, melalui pemimpin, Tuhan memberikan pelajaran dan teladan kepada kita. Adalah ia seorang Wapres RI, intelektual sejati, giat belajar dan berorgnisasi sejak dini, penganut agama yg patuh dan penuh toleransi, hingga akhirnya menjadi pribadi yang disegani di benua Eropa dan Asia sejak usia muda. Dedikasi berorganisasinya dimulai dengan mengurus keuangan, Sebagai bendahari perkumpulan sepakbola sekolah (usia 14 tahun), bendahari Jong Sumatranen Bond/JSB cabang Padang (16 tahun), JSB Pusat (19 tahun), hingga menjadi andalan Indische Vereeniging (perhimpunan pelajar nusantara di Belanda), lagi-lagi sebagai bendahari (20 tahun). Dipahaminya benar bahwa perjuangan suatu perkumpulan atau organisasi sangat bergantung kepada dedikasi dan iuran anggota sebagai tanda kesetiaan dan keterpanggilan jiwa. Selain itu juga dari donasi tetap pemuka masyarakat yg simpati dan derma sesekali dalam acara-acara tertentu. Strategi sistematiknya antara lain dengan  menghadap kepada orang tua dan pemuka gigih dilakukan, siasat membangun simpati dengan gagasan perjuangan yg jernih, maka dana halal bagi organisasi dapat dihimpun hingga berlebih. Memang harus dijaga harkat orgnisasi atau partai dengan cara-cara yg baik. Dengan ide perjuangan yang mengundang simpati, ada saja donasi yg mengalir. Silih berganti tokoh lebih tua atau seusia menjadi ketua, mulai dari Bahder Johan, Nazir Pamontjak, Hermen hingga Soekisman. Sambil terus kuliah, mengasah diri dalam ilmu ekonomi hingga tingkat doktoral, ia ikhlas menjadi orang lapis ke 3 atau ke 4 saja dalam kepengurusan, Barulah akhirnya ia didesak menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia (24 tahun). Teman-temannya itu memang menjadi tokoh di Indonesia merdeka kemudian, tapi adalah ia yang akhirnya menjadi Wapres RI. Bung Hatta, sang intelektual cerdas dan panutan itu, yang kesohor perjuangannya untuk Indonesia merdeka, akhirnya pulang ke tanah air (tahun 1932), setelah 11 tahun dirantau, bertemu dan bekerja sama dengan pejuang teladan yang juga sangat tersohor, Bung Karno. Sungguh berkelas kadar kepimpinan, kecerdasan dan sejarah perjuangan pemimpin Indonesia saat itu. Semoga ke depan terus meningkat bukannya turun kualitas. Selamat Hari Sumpah Pemuda sahabat. Salam Indonesia.

Refleksi Pembaca Inspirasi:

  • Menghidupkan Karakter Sukarno-Hatta dalam Jiwa Penerus Bangsa
  • Oleh Novy Khusnul Khotimah: http://novykayra.blogspot.com/2014/01/menghidupkan-karakter-sukarno-hatta.html

  • Pemuda dan Figur Keteladanan Pemimpin Bangsa
  • Oleh Muhammad Autad An Nasher: http://autadfoundation.blogspot.com/2014/01/pemuda-dan-figur-keteladanan-pemimpin.html

  • Pemimpin yang Perlu Kembali ke Masa SD-nya
  • Oleh Kartika Rahmawati: http://skymires.blogspot.com/2014/01/pemimpin-yang-perlu-kembali-ke-masa-sd.html?view=classic#!/2014/01/pemimpin-yang-perlu-kembali-ke-masa-sd.html

  • Nada-Nada Perubahan
  • Oleh Detha Arya Swara Intifada: http://tifada.com/nada-nada-perubahan/

    One Response to Mengenang Pemimpin Teladan

    1. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. MERDEKA!

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>