Kepioniran Dalam Masyarakat

Date: 10/06/2009
Semua Capres Mengedepankan Rakyat
Sahabat, kalau dipikir-pikir pantaslah kita bersyukur karena capres-capres kita semuanya mengedepankan ekonomi kerakyatan. Namun, kesejahteraan rakyat yang ingin kita wujudkan akarnya adalah pada upaya serius kita dalam peningkatan produktivitas dan itu erat sekali dan strategi kita bersama dan alokasi budget dalam APBN untuk program pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan hak-hak dasar rakyat lainnya. Termasuk hak partisipasi dan emansipasi dalam berusaha. Tidak mungkin mewujudkan visi ekonomi kerakyatan tanpa sumber dana APBN yang memadai untuk program prorakyat, komitmen pada penciptaan akses permodalan yang luas bagi rakyat kecil dan kesempatan berusaha yang tidak terkendala oleh pagar kekuatan pengusaha dan penguasa. Karena itu mari pilih Capres yang lahir batin dapat menjadi teladan dalam pembayaran pajak dan mampu mengendalikan diri/keluarga/kerabat dari praktek bisnis dan kolusi karena hal itu membatasi peluang rakyat banyak. Salam Indonesia.

Date: 01/07/2010
Anak Kecil & Presiden
Sahabat, bisakah Anda merasakan bila punya teman SD jadi presiden? Kiranya seperti itulah rasanya menjadi Slamet, sahabat Obama ketika kecil di Jakarta. Awalnya saya biasa saja ketika mulai menyetel DVD film “Obama Anak Menteng”. Tetapi, di pertengahan film, di akhir film rasa haru muncul juga. Agaknya, bagi kita ada tali sambung melihat adegan-adegan film itu dengan pengalaman kecil kita. Ada suasana pergaulan anak-anak kecil. Ada pernak-pernik, warna-warni ajaran, bimbingan ayah, ketelatenan ibu, termasuk pertengkaran kecil ayah-bunda yang kita dengar mengenai diri kita dan masa depan kita. Bagi saya, kita yang pernah ikut orang tua yang berpindah-pindah rumah, memang terasa betul beratnya hati saat meninggalkan teman-teman kecil, lingkungan dan kota kita tinggal. Ada pesan dan nilai-nilai penting dari cerita Obama di Indonesia. Siapa menduga kalau tanpa sadar cita-citanya jadi presiden meresap ketika meniru ulah Presiden RI (saat itu Pak Harto) berpidato 17 Agustus-an di DPR. Karena melihat ajudan sang Presiden di kiri kanan berdiri tegak tidak bergerak, Obama kecil yang meniru Pak Harto berpidato menegur pembantu dan rewangnya agar tidak bergerak juga. Adegan lain yang terasa menggetarkan adalah saat melihat sang ibunya Obama saat hari subuh membangunkan Obama kecil, untuk belajar sejarah dan sastra Amerika agar tidak tertinggal dengan anak sebaya di AS, mengingat konten pendidikan di Indonesia berbeda. Hal itu mengingatkan kami, saat rutin memberi pelajaran tambahan kepada putri kami ketika SD bersekolah di Amerika. Mungkin anda yang punya pengalaman yang sama akan merasakan juga. Tetapi itu kiranya belum sebanding dengan apa yang dirasakan Slamet atau Yuniardi, melihat Obama sahabat saat SD menjadi Presiden AS. Mungkin begitu pula perasaan Sartono atau Joko Darmanto (yang ini adalah teman kecil SBY saat SD). Kalau Slamet (teman Obama) akhirnya menjadi tentara AD dan sempat bertugas di Timor Timur, Sartono (teman SBY) kini bekerja di terminal Pacitan. Film “Obama Anak Menteng” diakhiri dengan adegan Slamet menahan nafas menyaksikan di TV, Obama mengangkat sumpah, dan menyatakan “I, Barack Obama, solemnly swear…dst.” Lalu Slamet keluar ruangan mencari udara segar… Mereka, sahabat-sahabat itu, seperti juga kita mendoakan kesehatan dan kekuatan kepada orang yang sedang dipercaya Tuhan mengemban tugas berat sebagai presiden. Mungkin hari Minggu ini seru dan mengesankan menonton film Obama kecil itu. Saya kemarin membelinya di toko VCD/DVD. Salam Indonesia.

Date: 02/11/2010 3:34:09 PM
Meringankan Korban Merapi
Sahabat, seandainya saat itu Anda bersama kami, kiranya akan merasakan suasana prihatin namun diliputi haru bersatu padu. Ketika saudara-saudara kita yang sedang mengungsi di sekitar Merapi bertemu pemimpinnya. Wajah-wajah yang kelelahan itu terisak-isak, senyum, dan mengangguk-angguk saat mendengar sapaan, arahan dan dukungan SBY kepada para pengungsi itu. Kepemimpinan diperlukan setiap saat, dalam segala situasi. Dalam saat-saat seperti itu, pemimpin bangsa serasa benar bagai ayah bagi kita semua, dan pemimpin yang amanah terasa mewakili kehadiran Tuhan bagi mereka yang berduka dan berdo’a. Terimakasih atas kekompakan kita semua, khususnya terimakasih dan doa berkah bagi mereka yang tidak tidur memantau pergerakan vulkanis Merapi dari waktu ke waktu. Salam Indonesia

Date: 03/03/2011
Menelusuri Jejak dan Kekayaan Nusantara
Sahabat,di tengah keriuhrendahan dan tugas harian yang dimanahkan pada kita, tanpa gembar-gembor ada elemen-elemen bangsa yang terus menggali pemahaman tentang potensi dan sejarah bangsa. Catatan yang begitu bernilai dan menggugah dalam EKSPEDISI ANYER-PANAROEKAN, laporan Jurnalistik Kompas (EAP Kompas), yang saya beli tahun 2008, kini saya baca-baca lagi. Karena, di tahun 2011, dengan penuh dedikasi kesatuan elit kita (Kopassus) juga sedang melaksanakan suatu EKSPEDISI BUKIT BARISAN 2011 (EBB Kopassus). Bila EAP Kompas menelusuri jalur Anyer-Panarukan, mengupas keragaman sejarah kehidupan sosial-ekonomi di kota-kota dan jalan sepanjang pantai utara Jawa, adapun EBB Kopassus menelusuri potensi kekayaan alam, tambang, mineral,flora,fauna dan sosial-budaya, serta potensi kebencanaan geologi. Mengatasi permasalahan bangsa memang tidak hanya dengan tenggelam pada perkembangan harian, mingguan yang riuh rendah (sekalipun itu juga penting), tapi harus juga menggunakan perspektif lebih panjang guna mendapatkan gambar besar dan potensi kekayaan maupun kebencanaan dari alam dan sosial budaya kita. Ekspedisi Kompas memberikan perspektif itu. Ada temuan positif, misalnya:”sejak 2004, nama Lamongan berkibar identik dengan wisata bahari dan kawasan industri. Perkembangan Lamongan yang cukup pesat selama 5 tahun terakhir berkat kebijakan kemudahan dalam pengurusan perizinan.” Ada temuan yang memperihatinkan: “kebesaran pelabuhan dagang sepanjang pantura Jawa dicatat banyak perantau Portugis (Tome Pires,1515); kini akibat kerusakan hutan di hulu dan pencemaran telah membunuh sungai-sungai, akhirnya membunuh pelabuhan-pelabuhan besar. “Kita harapkan Ekspedisi Bukit Barisan Kopassus juga akan memberikan catatan/masukan penting khususnya tentang potensi mineral, hutan dan kaitannya dengan pendayaagunaan yang dapat berbencana. Sahabat,kekayaan alam dan mineral adalah amanah yang harus dijaga. Kekayaan mineral kita adalah bagian integral kedaulatan bangsa, sehingga perebutan data tambang oleh pejuang-pejuang muda kita di Bandung (28 September 1945) akhirnya berujung dengan diculik dan dibunuhnya sang tokohnya ketika itu oleh Belanda. Peristiwa itu diabadikan sebagai hari jadi KESDM. Salam Indonesia.

Date: 15/03/2011
Mengenang Investasi Teknologi Strategis Bangsa
Sahabat, akhir pekan sering jadi saat berbahagia bagi keluarga yang sehari-hari ayah ibunya super sibuk. Karena itulah saat berbincang dengan anak tentang perkembangan sekolahnya. Kami suami istri termangu-mangu, saat mendengar cerita si Bungsu, tentang tugas Karya Akhir di sekolahnya, dan betapa ia intensif berkomunikasi dengan sang Kakak tentang makalah itu. Termangu-mangu kami karena teknologi informasi ternyata sangat bermanfaat bagi kita dan sudah sangat meresap bagi anak zaman ini. Termangu-mangu kami, karena sekalipun si Bungsu di Jakarta dan sang Kakak di Amerika, toh setiap hari bimbingan itu berlangsung, dengan intensif. Kakak beradik yang berjauhan bisa bertatap muka dengan bantuan satelit. Dulu di masa ayah-ibunya sekolah, teknologi komputer baru masuk tahap pengenalan. Kini di zaman anak-anak mereka memanfaatkannya betul, sehingga antar belahan bumi berbeda jadi seolah tidak berjarak. Ternyata teknologi informasi bisa sangat membawa manfaat, asal kita senantiasa mengendalikannya, dan tidak malah dikendalikannya. Termangu-mangu kami, bila mengingat Bapak Bangsa ketika itu Pak Harto di akhir 1980-an secara strategis dan tepat waktu menetapkan investasi bangsa kita dalam satelit Palapa, sehingga kita kini memetik manfaat teknologi itu. Sudah waktunya investasi bangsa dalam teknologi informasi/komunikasi lebih kita daya gunakan untuk persatuan dan bukan perpecahan. Untuk membangkitkan optimisme dan bukan menebar pesimisme. Kiranya kebahagiaan bersama anda dan kita semua yang bersenang hati melihat anak-anak, kakak-beradik kompak meneruskan ajaran orang tuanya, yang kini tidak terlalu sempat membimbing karena kesibukan yang tinggi. Sudahkah Anda sempat berbincang dengan si Bungsu atau buah hati di rumah di akhir minggu ini? Salam Indonesia.

Date: 01/01/2012
Hikmah Melihat ke Bawah
Sahabat, merasakan kesulitan orang lain insyaallah membuat kita bersyukur dan senantiasa merasa cukup. Sesekali mungkin kita perlu berbagi dan melihat ke bawah. Ada kisah seorang pengusaha super-kaya, menyamar menjadi sukarelawan, di rumah-rumah penampungan anak jalanan, di rumah-rumah singgah bagi pengangguran, dan di keluarga yang putra-putranya mengidap cacat bawaan dan sangat membutuhkan dana. Entah tanpa sengaja riya atau pamer, tapi sekiranya pada Senin malam ini Anda menyaksikannya, mungkin timbul rasa haru dan ingin meneladani pengusaha itu. Kiranya menebar contoh positif dengan niat tulus insyaallah berdampak baik. Tayangan saluran TV BBC Knowledge itu, menceritakan penyamaran Danny Wallis, pengusaha sukses bidang jasa komputer di Australia. Sekalipun, mungkin Danny sudah melaksanakan segala kewajiban pajaknya, tetapi ia tetap membantu lembaga/rumah-rumah sosial itu. Selama ini mereka bergerak secara swadaya. Anggaran pemerintah di negara manapun cenderung tidak cukup untuk menjangkau semua yang sangat membutuhkan. Terlebih di negara-negara yang masih tersandera dengan sangat besarnya subsidi energi bagi yang tidak berhak. Akibatnya, banyak dhuafa yang membutuhkan belum tersentuh. Kedermawanan pengusaha kaya, sekalipun sudah taat pajak, akan membantu menolong banyak lembaga swadaya yang berjalan kembang kempis, dirintis sukarelawan yang lebih bermodalkan semangat dan keikhlasan kepada sesama. Ikhlaskan dan lupakan apapun balasannya, mungkin pahala, atau apa saja…itu urusan Yang Mahakuasa. (Mata Danny Wallis berkaca-kaca saat memberikan…bahagianya tidak terlukiskan…). SELAMAT TAHUN BARU 2012. Salam Indonesia.

Date: 28/10/2012
Mengenang Pemimpin Teladan
Sahabat, melalui pemimpin, Tuhan memberikan pelajaran dan teladan kepada kita. Adalah ia seorang Wapres RI, intelektual sejati, giat belajar dan berorgnisasi sejak dini, penganut agama yg patuh dan penuh toleransi, hingga akhirnya menjadi pribadi yang disegani di benua Eropa dan Asia sejak usia muda. Dedikasi berorganisasinya dimulai dengan mengurus keuangan, Sebagai bendahari perkumpulan sepakbola sekolah (usia 14 tahun), bendahari Jong Sumatranen Bond/JSB cabang Padang (16 tahun), JSB Pusat (19 tahun), hingga menjadi andalan Indische Vereeniging (perhimpunan pelajar nusantara di Belanda), lagi-lagi sebagai bendahari (20 tahun). Dipahaminya benar bahwa perjuangan suatu perkumpulan atau organisasi sangat bergantung kepada dedikasi dan iuran anggota sebagai tanda kesetiaan dan keterpanggilan jiwa. Selain itu juga dari donasi tetap pemuka masyarakat yg simpati dan derma sesekali dalam acara-acara tertentu. Strategi sistematiknya antara lain dengan  menghadap kepada orang tua dan pemuka gigih dilakukan, siasat membangun simpati dengan gagasan perjuangan yg jernih, maka dana halal bagi organisasi dapat dihimpun hingga berlebih. Memang harus dijaga harkat orgnisasi atau partai dengan cara-cara yg baik. Dengan ide perjuangan yang mengundang simpati, ada saja donasi yg mengalir. Silih berganti tokoh lebih tua atau seusia menjadi ketua, mulai dari Bahder Johan, Nazir Pamontjak, Hermen hingga Soekisman. Sambil terus kuliah, mengasah diri dalam ilmu ekonomi hingga tingkat doktoral, ia ikhlas menjadi orang lapis ke 3 atau ke 4 saja dalam kepengurusan, Barulah akhirnya ia didesak menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia (24 tahun). Teman-temannya itu memang menjadi tokoh di Indonesia merdeka kemudian, tapi adalah ia yang akhirnya menjadi Wapres RI. Bung Hatta, sang intelektual cerdas dan panutan itu, yang kesohor perjuangannya untuk Indonesia merdeka, akhirnya pulang ke tanah air (tahun 1932), setelah 11 tahun dirantau, bertemu dan bekerja sama dengan pejuang teladan yang juga sangat tersohor, Bung Karno. Sungguh berkelas kadar kepimpinan, kecerdasan dan sejarah perjuangan pemimpin Indonesia saat itu. Semoga ke depan terus meningkat bukannya turun kualitas. Selamat Hari Sumpah Pemuda sahabat. Salam Indonesia.

Date: 22/12/2012
Hidup Mati di Negeri Cincin Api
Sahabat, apa kabar? Ada buku bagus baru diterbitkan Kompas group, “Hidup Mati di Negeri Cincin Api (2012)”, buku catatan hasil ekspedisi 1 tahun Tim Kompas keliling Indonesia, kembali mengungkapkan betapa spesial bumi yg kita pijak. Sebelumnya, Tim Kopassus-AD (2011), juga telah menerbitkan catatan hasil Ekspedisi Bukit Barisan, yang mengajak kita peduli pada kelestarian alam Indonesia dan sadar pada potensi bencana. Berbeda dengan pemahaman banyak kita selama ini bahwa tanah air kita kaya dengan beragam dan jumlah sumber daya mineral, flora dan fauna; buku Kompas itu banyak mengulas potensi bencana di bawah bumi tempat kita berpijak. Pada hakekatnya, ada wajah menyenangkan dan mengerikan dari alam Indonesia kita ini. Memang, di sinilah keindahan itu terlihat, di sinilah terdapat kandungan mineral (nikel, timah, batubara), migas, panas bumi terbesar di dunia, termasuk emas di Papua (dituliskan kedua terbesar di dunia, tapi sumber ahli kami dari Australia menyebutkan Indonesia punya emas terbesar di dunia). Tapi,di sini pulalah bencana terbesar sejak ribuan tahun lalu pernah terjadi. Di nusantara inilah pertemuan 3 lempeng benua, sehingga di tanah air kita ini lah tempat rangkaian gunung api terbanyak di dunia, dan terjadi 3 dari 5 letusan gunung api terdahsyat dalam sejarah dunia (Gunung Toba, Gunung Krakatau Purba, dan Gunung Tambora). Kompas dan Kopassus adalah pilar dalam masyarakat yang sudah menuntaskan ekspedisi potensi kekayaan alam dan kebencanaan di Indonesia. Akan bagus bila ada pihak-pihak lain yang juga terpanggil melakukan ekspedisi ketahanan nasional, dengan fokus pada aspek keadilan dan pemerataan ekonomi. Karena, ketahanan nasional kita masih rentan bila harga BBM masih berbeda antara di Papua dan Jawa. Ketahanan nasional kita masih terkendala bila pembangunan infrastruktur-infrastruktur masih terbatas dan hanya banyak di Jawa dan Sumatera. Sehingga sumber daya alam kita kurang termanfaatkan optimal untuk keperluan dalam negeri,di mana gas dan batubara masih banyak diekspor. Jadi, diperlukan juga ekspedisi kasus riel untuk menengarai potensi yang dapat mengusik rasa persatuan dan keadilan. Salam Indonesia

Date: 20/05/2013
Negara Harus Menjangkau Seluruh Rakyat
Sahabat, terbayangkah oleh kita ini yang hidup rutin di kota besar, dekat dengan pusat kekuasaan, bersilang pendapat dari hari ke hari, ada anak-anak muda menjalankan tugas negara nun jauh di sana? Ada kisah seorang dokter muda. Sedemikian jauhnya jarak desa tempatnya mengabdi,di Pulau Kisar (selatan Maluku Tenggara), harus ditempuh dengan kapal motor hampir 7 hari 7 malam dari Tual, kota kabupaten terdekat. Sedemikian kuat panggilan kebangsaan itu, sehingga dr.Dianingsih, yang masih belia terus bertahan dengan tugas mengimunisasi balita di pulau itu, walau akhirnya dokter muda itu sendiri jatuh sakit, akibat medan sedemikian berat. Kesehatannya terus merosot, dan meninggal dalam tugas, sesaat ketika ayah-bundanya menjemput. Baginya, bangsa Indonesia meliputi hingga mereka yang tidak terpetakan, jarang terbahaskan di media, di desa-desa sangat terpencil juga, walau sulit karena prasarana pemerintah tidak menjangkaunya (sumber: kisah pilu catatan P.Swantoro, Wartawan senior Kompas). Sedemikian luasnya negeri kita, sehingga memang belum bersatu fisiknya bila infrastruktur transportasi, energi dan lain-lain belum terbangun. Tidak mungkin akan ada prasarana fisik terbangun dengan memadai kalau akal sehat kita belum juga tergunakan, mengingat uang negara yang kita bakar lewat subsidi BBM hingga mencapai Rp 216 triliun (2012), 1,3X lebih besar dari anggaran belanja modal pemerintah membangun berbagai prasarana fisik di tanah air. Karenanya, keadilan belum menyentuh jutaan rakyat, sehingga sekalipun harga BBM bersubsidi Rp 4.500; tetapi di Papua, wilayah Indonesia juga, mencapai Rp 9.000. Sedemikian terlenanya kita, sehingga tidak sadar juga amanah UU bahwa subsidi itu hak golongan tidak mampu. Ada 67% pekerja kita yang hanya berpendidikan maksimal SMP, mereka itulah yang tidak mampu, bukan kita. Bersama kita biarkan subsidi tidak tepat sasaran selama ini. Sekalipun Bank Dunia dan para peneliti sudah memperingatkannya. Karena itu jangan lagi pucuk pimpinan pemerintahan bimbang dalam meluruskan kebijakan anggaran negara yang salah arah. Demi akal sehat dan kaum dhuafa yang tidak mampu membela dirinya di pelosok-pelosok Indonesia, demi pejuang negara yang berkorban dan tidak didukung sarana memadai, kita harus dukung pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Selamat hari kebangkitan nasional untuk kita semua. Salam Indonesia.

Comments are closed.