Kemassmediaan

Date: 03/06/2009
Kepekaan Televisi
Sahabat, presenter-presenter TV One perlu lebih menyadari bahwa pemirsanya beragam. Dalam kasus Ambalat misalnya, di antara rakyat kita memang banyak yang gemas, sudah ingin perang dan menomorduakan pertimbangan-pertimbangan lain. Tetapi banyak pula yang menyelami dengan baik pernyataan Presiden RI bahwa kedaulatan kita, termasuk di Ambalat adalah harga mati, namun penyelesaian dan cara perang adalah jalan terakhir. Sayangnya, petang ini, komentar-komentar dua presenter TV One terkesan bergunjing, sepihak, hanya membawakan suasana hati mereka yang sudah gemas. Padahal kedua presenter itu perlu pula menyerap suasana hati dan pertimbangan mereka/pemirsa yang masih mempertimbangkan hal-hal lain sebelum gemas ingin segera berperang. Karena itu, presenter TV One perlu lebih berimbang. Semoga presenter-presenter TV One lebih peka dan memahami pemirsanya yang beragam. Salam Indonesia.


Date: 18/07/2009
Jamaah Islamiah
Sahabat, saat ini ada figur ‘Jamaah Islamiah’ di acara Kabar Petang TV One? membicarakan bagaimana rasa gelombang ledakan bom dan lain sebagainya. saya tidak paham apakah ini boleh, dan pada tempatnya? salam Indonesia.


Date: 22/07/2009
Melawan Teror
Sahabat, Kadin dan pejabat pemerintah kini sibuk berkordinasi menyikapi kondisi pasca pemboman. Mereka berbeda pendapat apakah situasi bisnis/investasi akan terganggu atau tidak. Yang diperdebatkan adalah psikologis aktor bisnis. Kali ini, ada yang berbeda pasca kejadian yang membuat kita marah itu. Dubes negara-negara sahabat segera menyatakan dukungan dan keyakinannya atas kemampuan pemerintah mengatasi terorisme. Presiden dan menteri-menteri terkait sudah segera tampil di media dan mendatangi korban, mewakili sosok hadirnya ‘negara’ guna membatasi dan mengatasi efek psikologis negatif pasca teror. Masyarakat marah karena sudah 5 tahun ini tenang, tetapi akhirnya diguncang bom lagi. Pers MEMBUAT LEBIH TRANSPARAN ‘KONTEKS’ YANG ADA, dengan menghadirkan pakar teror/intelegen dan mantan aparat kunci hingga figur garis keras yang nilai-nilai dianutnya membuat bergidik. Apakah perekonomian dan investasi akan terganggu? Modal keyakinan kita untuk bangkit cukup kuat. Indeks Keyakinan Konsumen versi BI, sejak April 2009 telah menembus 100 (batas optimisme) dan Juni lalu tercatat 109,1, jauh lebih tinggi dari rata-rata 2008 yaitu 89. Business Confidence on Government Index versi Danareksa untuk Mei lalu mencapai 128 juga jauh lebih tinggi dari rata-rata 2008 yaitu 92. “Kita marah, tetapi jangan gentar.” bunyi sms seorang sahabat yang dirut BUMN pada hari itu.Salam Indonesia.


Date: 20/10/2010
Laporan 1 Tahun
Sahabat Massmedia, dalam 1 tahun KIB II, apa yang sudah dilakukan Pemerintah di bidang ESDM? Walaupun masih banyak permasalahan yang perlu waktu penyelesaian, tetapi banyak pula yang sudah selesai. Fokus kinerja antara lain untuk meningkatkan lancarnya pasokan bahan bakar dan listrik bagi rakyat. Untuk itu, sejumlah kendala di bidang penyaluran BBM diatasi, jumlah dan keandalan daya listrik ditingkatkan, komitmen gas dan batubara untuk kepentingan domestik terus diperkuat, perangkat kepastian usaha dan iklim investasi energi dan pertambangan diperbaiki. Konkretnya, di bidang migas, demi melancarkan pasokan BBM untuk kawasan Indonesia Bagian Timur, pemerintah sudah menghidupkan kembali 1. backloading DEPOT BIAK, serta pembangunan terminal transit Bau-Bau dan memberlakukan harga yang sama di seluruh APMS untuk BBM bersubsidi di seluruh Indonesia. Tindak lanjut guna menjamin pasokan gas bumi untuk keperluan domestik dengan dimulainya pembangunan Floating Storage Receiving Terminal Jawa Barat, pasca tuntasnya konsep final neraca gas, rencana Induk Jaringan Transmisi Distribusi Gas Bumi Nasional dan Peraturan menteri ESDM tentang Penetapan Alokasi Gas Bumi. Kini 65% dari perjanjian jual beli gas sudah untuk keperluan domestik (kususnya PLN dan pupuk). Penjaminan pasokan batubara untuk keperluan domestik berupa penerbitan peraturan menteri tentang DMO batubara dan perbaikan kontrak-kontrak pasokan batu-bara untuk PLN serta finalisasi pengaturan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara. Listrik: pembangunan pembangkit; pembangunan gardu-gardu induk 2159 MVA, gardu-gardu distribusi 1266 MVA, jaringan distribusi sepanjang 18004 kms di seluruh nusantara, proses final peraturan presiden penugasan PLN membeli listrik hasil pembangkit geothermal, serta percepatan pembangunan pembakit listrik yang MENGGUNAKAN ENERGI TERBARUKAN DAN GAS. Tindak lanjut penyelesaian permasalahan pembangkit listrik swasta (50 IPP terkendala): 21 sudah diverifikasi BPKP, 2 sudah tuntas. Pemanfaatan Coal Bed Methane melalui penyusunan perangkat peraturan sehingga bisa menghasilkan listrik tahun 2011. Berkat dukungan pers, kerja keras jajaran KESDM dan doa kita semua, itulah sebagian dari banyak capaian di Kementrian ESDM yang sudah dinilai tuntas oleh UKP4, di samping banyak yang masih harus dituntaskan. Salam Indonesia. MESDM.


Date: 10/11/2010
SBY dan OBM di Madinah
Sahabat, di Madinah, surat kabar Saudi Arabia menulis di head line-nya hari ini: tentang Obama dan SBY. Ulasan disertai gambar kedua beliau itu. Kesetaraan gagasan pemikiran serta upaya dibangunnya kesepahaman AS dengan dunia Islam menandai pertemuan kedua tokoh itu. Alhamdulillah, tidak bisa dipungkiri terselip suara hati yang diliputi syukur dan bangga, pemimpin di tanah air kita dipandang tinggi kedudukan dalam matra dunia. Dunia ketiga, dunia Islam mendapatkan representasi masa depan diri mereka pada SBY (Insya Allah Indonesia kita ke depan adalah Indonesia yang memang besar yang dulunya pusat peradaban dunia ribuan tahun lalu, sebagaimana ditulis Profesor Santos dari Brazil, atau Profesor Oppenheimer dari Oxford). Salam Indonesia.


Date: 09/12/2010
DKI dalam National Geographic
Sahabat, seandainya Anda sempat melihat tayangan stasiun TV the National Geographic malam Jumat ini, jam 21.00 WIB sampai dengan 22.00 WIB, terasa lain. Ibukota kita Jakarta ditayangkan. Semula agak pesimis melihatnya, ditunjukkan masalah banjir air bila hujan, banjir kendaraan bermotor dan macet dimana dan problematik lain. Tetapi, setelah setengah jalan penayangan, optimisme bangkit, setelah ditampilkan sejumlah gerak maju yang sudah dimulai maupun diselesaikan. Kanal banjir timur sudah dirampungkan dan itu akan mengatasi masalah “banjir 100 tahun”. Busway sudah menjadi salah satu alternatif transportasi bagi ribuan warga. Sampah di Bantar Gebang sudah diubah menjadi listrik 2 MW dan akan terus ditingkatkan hingga 26 MW. Pembangunan MRT akan dimulai tahun 2011. Ternyata, peran tayangan dan kemassmediaan dari angle yang positif mampu menerbitkan optimisme kita. Kalau saja stasiun-stasiun TV nasional kita ‘sudi’ berperan aktif lebih banyak menayangkan angle positif kehidupan bangsa, kiranya kita bersama akan semakin banyak bersyukur dan tidak pesimistik apalagi apatis. Salam Indonesia.


Date: 13/03/2011
Kadang Kompas Terlupa
Sahabat, hari Minggu ini di tempat kami hujan, basah, menambah prihatin saja. Di sudut kiri atas koran Kompas masih termuat soal Wikileaks yang menghangat 2 hari terakhir ini. Saya coba ikuti tentang apa itu, dan apa asal muasalnya. Rupanya, tentang kiriman berita dari pegawai/kantor Kedubes Asing ke Markasnya di Negaranya. Isinya berita mentah, sumir, sehingga kalau diolah-olah kita jadi ikut memperluas fitnah. Adakah bukti-buktinya? Di situ soalnya. Ironisnya, peristiwa pembocoran dan kebocoran itu saja tidak dibahas orang, malah-malah isi yang digunjingkan yang lantas dibahas, minta bantah. Cukuplah dibantah, lantas sudah…karena buat apa berkepanjangan berperihal tentang itu, buktinya saja tidak ada. Ke depan kita harus waspada pada trik dan akal-akalan kebocoran dan pembocoran dan sejenisnya. Salah-salah kita menari digendengan orang. Bisa-bisanya Kompas, koran beroperasi besar, memberitakan pro-kons gunjing itu. Saya jadi teringat pada almarhum PK Oyong yang saya kagumi, sang pendiri Kompas yang mengingatkan pentingnya efisiensi dan hanya menulis yang berkadar substantif, tidak sekadar rame-rame. Setiap tetes tinta, setiap menit keterlambatan dalam bisnis media bernilai besar, kata Pak Oyong. Sahabat, kita malah kini tertarik menunggu ulasan Kompas atau media massa terkemuka yang “library research-nya” kuat untuk mengulas serba serbi kebocoran di zaman teknologi informasi ini, agar kita bangsa Indonesia tidak menjadi follower saja. Orang menabuh gendengan, lantas kita menari…berita diluncurkan kelompok tertentu, boleh jadi dari luar Indonesia, diberitakan di halaman teras media massa terkemuka. Lantas kita beli korannya, kita bahas sesuai arah tarian si penabuh. Ironis, kita tidak sempat lagi dan bahkan cenderung tidak memandang perlu menyelidiki siapa penabuh genderang, siapa pembocor berita sampah yang minta dibantah. Dalam beberapa hari ini saya tidak mau baca dulu koran-koran itu…sampai nantilah, kalau sudah tidak gunjingan lagi. Saya tidak mau diajak menari di atas gendengan orang. Kok ya…gampang bener jadi follower. Salam Indonesia.


Date: 25/08/2011
Jangan Mudah Terpancing Fitnah
Sahabat, di akhir weekend ini apa yang terpikir? Di sekitar kita berbagai informasi membanjir, bercampur antara substansi, fitnah, trik dan akal-akalan. Banyak yang berpendapat berita negatif harus di-counter, agar tidak terbentuk opini yang difitnahkan. Tetapi bisa juga tidak perlu. Ingat saja bekerjanya pendulum, semakin jauh didorong ke ujung ekstrim kiri, maka akan semakin jauh pula tarikan ke ujung kanan, karena Yang Maha Kuasa dan Maha Adil sudah menciptakan gaya gravitasi. Begitu pula dalam upaya rekayasa informasi, akan berhadapan dengan kegandrungan dan daya saring kebenaran dalam benak masyarakat. Di tengah heboh-heboh info ini, info itu, termasuk Wikileaks dan lain sebagainya, kita melihat contoh nyata bekerjanya akal-akalan atau rekayasa informasi, diolah dengan trick halus seolah-olah berita bocor atau terbocorkan. Mari berpikir jernih, siapa yang menguasai dan memiliki jaringan informasi? Siapa berkepentingan agar bangsa besar kita ini labil, di tengah pertumbuhan dan kekuatan ekonominya yang meningkat di atas rata-rata negara berkembang? Tidakkah sudah cukup jelas dirasakan ada rekayasa di tengah hangatnya politik di Afrika utara dan Timur Tengah? Tidakkah kita tahu sejumlah spekulan bekerja di pasar derivatif minyak dan komoditas dunia, yang siap menangguk untung bila kecenderungan harga future komoditas tertentu bergerak ke arah yang mereka kehendaki? Mari berpikir jernih, dan gunakan potensi non verbal dalam menangkap kebenaran. Lihat saja wajah dan air muka figur yang diberitakan negatif. Tuhan memberikan tanda-tandanya pada mimik dan pembawaan, itu tidak bisa di-utak-atik dengan akal-akalan. Mari bersatu hati, mari mendoakan kebaikan satu terhadap yang lain. Salam Indonesia.


Date: 18/10/2011
Bersama Pers, Kita Jaga Kepentingan Nasional
Sahabat, ketika headline Kompas menuliskan tentang kontrak-kontrak Sumber Daya Alam kita dikuasai asing, walaupun belum tentu benar, mungkin banyak kita prihatin. Ketika Kompas kemudian mengutip penjelasan Kepala Negara tentang langkah konkret pemerintah mengutamakan kepentingan nasional dalam renegosiasi kontrak-kontrak SDA diikuti elaborasi Menko Perekonomian yang juga ditempatkan di halaman pertama tentang upaya pemerintahan melaksanakan amanah UU 4/2009 tentang mineral dan batubara, kita merasakan roda demokrasi memperjuangkan kepentingan bangsa hadir di tengah-tengah kita. Kompas menjadi ruang publik bagi bangsa. Pasca reformasi, kehendak rakyat sudah hadir dalam berjalannya “check & balance” komponen bangsa. Kini sudah semakin kuat peran wakil rakyat, mass media berwibawa, lembaga pengawas dan penegak hukum yang independen, serta pemerintahan yang terus menjalankan amanah dan takut korupsi (selain tidak benar, hukum tidak pandang bulu). Walaupun belum baik betul apalagi sempurna, kita harus tingkatkan usaha kebangsaan kita terus menuju titik cerah. Antara lain mengkritisi hal-hal pokok secara lebih komperehensif, mengingat waktu dan ruang publik sering membatasi. Kadang kita ingin ketahanan nasional, di lain waktu kita ingin investasi meningkat. Padahal investasi membutuhkan likuiditas dan teknologi yang memang terbatas bagi banyak negara berkembang. Kedua hal itu membutuhkan akumulasi jangka panjang dalam kehidupan berbangsa yang terus bergerak maju. Dari 100% kebutuhan investasi sektor ESDM, peran APBN hanya sekitar 5%, sisanya dari dunia usaha termasuk asing. Proporsi yang sama juga terlihat di sektor-sektor lain. Peran dunia usaha (termasuk asing) menjadi penting seraya tetap harus dikendalikan arahnya. Negara harus menguasai. Ketahanan nasional membutuhkan modal yang terus terakumulasi dari waktu ke waktu. Untuk itu, negeri ini jangan terlalu gaduh agar dapat mengakumulasi kekuatan termasuk modal. Butir terakhir ini sempat pula menjadi perhatian Kompas. Mari jaga bersama agar tidak gaduh, hasilkan gerak maju yang terus berakumulasi. Salam Indonesia.


Date: 31/3/2013
Bersikap Positif Dalam Transformasi Bangsa
Sahabat, di Metro TV, Minggu pagi ini, ada sebuah acara, TALK INDONESIA, topiknya soal penegakan hukum dan kesemena-menaan di LP Cebongan. Ada 3 orang yang ditayangkan di layar tv, tetapi salah satunya seorang perempuan, aktris yg terkesankan sangat pesimistik pada Indonesianya, pada Indonesia kita. Terenyuh rasanya melihat pembawaan yg meragukan kapasitas kepolisian kita dan aparat negara kita. Boleh saja kita sedang kecewa atau prihatin pada situasi negara dan SDM kita, boleh saja ada yg menganggap Indonesia menuju negara gagal kalau melihat berbagai ukuran dan fenomena yang kasat mata, tetapi janganlah sedemikian pesimistik hingga terkesan mencemooh bangsa sendiri seperti yang kami lihat dari seorang lady di layar metro tv pagi ini. Mungkin ini hanya perasaan saya atau beberapa kita saja melihatnya. Saya teringat sahabat saya, Mas Tommy wartawan senior yang sangat hati-hati dan arif mengelola suatu kupasan publik, di balik panggung Metro TV. Saya teringat Uni Lubis, seorang wartawati kita yang sangat kukuh membangun kesadaran publik dengan gigih namun senantiasa terasa optimistik pada bangsa. Mari kawal dan kritisi transformasi bangsa kita, tetapi jauhkan rasa pesimistik berlebih yang ada terlihat di Metro TV pagi ini. Salam Indonesia.

Date: 27/11/2013
Khazanah di Trans7
Assalamualaikum. Sahabat saya CT, apa khabar? Saya secara tidak sengaja tertumbuk menonton sebuah acara di Trans7: Khazanah. Isinya tentang telaah Indonesia sebagai bangsa. Perlahan gelora cinta tanah air merambat di sekujur tubuh ketika menyaksikannya. Ada sejarah, ada value, ada kepemimpinan, ada otokritik,dan ada aspek ekonomi. Terasa ada obyektivitas, walau belum tentu benar. Terharu mengikuti kupasannya. Seandainya ditayangkan secara serial pada prime time, bertarget menengah dan panjang, kiranya acara tersebut dapat memberikan sumbangan positif pada masyarakat, pemupukan cinta tanah air, kontras dengan kualitas tayangan yang bergerak ke arah “no where” di stasiun tv lainnya. Selamat ya

Date: 11/04/2014
Jokowi Effect
Sahabat, bertukar pikiran dan menyimpulkan dengan jernih suatu permasalahan memang perlu jujur dan tidak gegabah. Setelah kenyang menggedor-gedor pintu kesadaran PDIP agar rela mencapreskan Jokowi, pasca Pileg, media kini memperbesar soal Jokowi efek yang dianggap gagal terjadi. Padahal, istilah Jokowi efek itu lahir dan diada-adakan oleh reka-rekaan kita juga yang mengait-ngaitkan Pilpres atau Capres dengan Pileg, berdasarkan hasil lembaga survei. Para elit termasuk pemred dan peneliti dunia politik perlu lebih arief mengomentari, agar rakyat tidak bingung dan terbawa sehingga meragukan capres-capres yang ada. Kiranya lebih baik kalau fenomena yang berbeda kontras dengan perkiraan hasil survei lembaga terpercaya dibahas dengan lebih berkualitas dan dibawakan oleh anchor atau redaksi senior dengan kupasan yang berkualitas dan memperkaya wawasan kita. Sungguh besar efek media televisi bagi pemirsanya, tetapi belum cukup dalam pertimbangan mendayagunakan prime-time bagi pembelajaran masyarakat. Di negara maju, soal semacam ini dibahas oleh wartawan senior dan peneliti politik yang memiliki jam terbang tinggi. Tetapi, di televisi kita, dibawakan dan dibahas kadang oleh pembawa acara dan peneliti yang bahkan belum mengudara dalam Pemilu lalu. Salam Indonesia.

Date: 03/10/2014
Prinsip Cover Both Side dalam Dunia Pers
Sahabat, salam berkah Jumat. Baru saja di CNN ada debat 3 orang yang topiknya kali ini tentang apakah Islam kasar dan menganjurkan kekerasan. Debat dikemas sedemikian rupa sehingga pihak yang menuduh dapat mewakili kalangannya, sebaliknya pihak yang mendalami dan memahami permasalahan mendapat tempat memadai untuk mendudukan permasalahan dan mengajak agar tidak sesat dalam melakukan generalisasi atau pukul rata. Terlepas dari topiknya, cover both side suatu prinsip yang tidak dapat ditawar. Kebenaran cuma milik Allah, manusia, termasuk dunia pers hanya berikhtiar untuk memperjuangkannya dan menelusurinya. Syukurlah Metro TV dan TV One kini sudah kembali menegakkan prinsip itu setelah kampanye usai. Sebaiknya senantiasa dan tidak kenal musim. Salam hormat saya untuk Bang Surya, Bung Anindya dan Bang Karni. Salam Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>